|
|
|
|
|

|
|
PUBLIC
AFFAIRS SECTION |
(TERJEMAHAN TIDAK RESMI)
Dukungan terhadap Hak Asasi Manusia dan Demokrasi: Catatan A.S.
2004 - 2005
(Bagian III)
Tujuan dan Penghargaan
Mendukung Hak Asasi Manusia dan Demokrasi: U.S. Record 2004-2005
Laporan ini disampaikan kepada Kongres oleh Departemen Luar Negeri
untuk memenuhi Bagian 665 dari P.L. 107-228, Undang-Undang Otorisasi
Hubungan Luar Negeri Tahun Fiskal 03, yang mewajibkan Departemen
tersebut untuk melaporkan tindakan-tindakan yang dilakukan Pemerintah
Amerika Serikat untuk mendorong penghargaan terhadap hak asasi manusia.
Penyampaian tahunan yang ketiga ini melengkapi Laporan Negara tentang
Praktek Hak Asasi Manusia untuk tahun 2004 yang sudah lama ada, dan
mengambil langkah berikut, yaitu berpindah dari menyoroti perlakuan
kejam ke mempublikasikan tindakan dan program yang telah digunakan
Amerika Serikat untuk mengakhiri perlakuan kejam tersebut.
Tidak seperti Laporan 196 Negara tentang Praktek Hak Asasi Manusia,
Mendukung Hak Asasi Manusia dan Demokrasi, U.S. Record 2004-2005
menyoroti usaha Amerika Serikat dan mempromosikan hak asasi manusia
dan demokrasi dari 98 negara dan entitas - di mana ada pelanggaran hak
asasi manusia yang paling banyak. Referensi untuk Hong Kong, Makao dan
Tibet telah dimasukkan ke dalam laporan Cina, dan Sahara Barat
disebutkan di dalam laporan Maroko. Untuk membuat agar laporan ini
konsisten dengan kriteria di dalam perundang-undangan, maka laporan
ini juga memasukkan sejumlah tambahan: Bahrain, Maladewa, dan Serbia -
maupun sejumlah penghapusan: Belize, Komoro, Jibouti, Fiji, Lesotho
dan Niger.
Mendukung Hak Asasi Manusia dan Demokrasi: U.S. Record 2004-2005
mencerminkan usaha yang dicurahkan ratusan pegawai Departemen Luar
Negeri, U.S. Agency for International Development (USAID) dan pegawai
pemerintah Amerika Serikat lainnya, maupun para pegawai dari banyak
organisasi non-pemerintah (LSM). Kedutaan dan Konsulat Amerika Serikat
membuat konsep awal dari laporan-laporan tersebut. Setelah pos-pos
tersebut menyelesaikan konsep mereka, maka teks-teks tersebut dikirim
ke Washington untuk diperiksa secara seksama oleh Biro Demokrasi, Hak
Asasi Manusia dan Perburuhan, bekerja sama dengan Biro Umum dan
kantor-kantor Departemen Luar Negeri lainnya serta Departemen dan
instansi lainnya. Sambil bekerja dalam menganalisa dan mengedit
laporan-laporan tersebut, para petugas Departemen menggunakan
pengetahuan mereka sendiri tentang program dan kegiatan pemerintah
Amerika Serikat.
Mendukung Hak Asasi Manusia dan Demokrasi: U.S. Record 2004-2005
akan digunakan sebagai sumber untuk membentuk kebijakan, melakukan
diplomasi dan memberi alokasi bantuan, pelatihan dan sumber lain.
Dokumen tersebut juga akan berfungsi sebagai dasar bagi kerjasama
pemerintah Amerika Serikat dengan kelompok-kelompok swasta untuk
mempromosi pemantauan terhadap hak asasi manusia dan demokrasi yang
diakui secara internasional.
Staf redaksi dan produksi laporan dalam Biro Demokrasi, Hak Asasi
Manusia dan Perburuhan, terdiri atas: Penasihat Redaksi Senior - Duta
Besar Michael G. Kozak, Gretchen Birkle, Michael Butler, David M.
Denehy, Gene Bigler dan Elizabeth Dugan; Produser Senior dan Redaksi
Senior - Sally Buikema; Redaksi Senior - Oscar de Soto; Wakil Redaksi
Senior - Kent Brokenshire; Redaksi dan Produser - Patrich Harvey;
Perancang Grafis - Regina Cross; Redaksi - Charmaine Coleman, Stuart
Crampton, Kara Cumberland, Jeannette Davis, Molly Davis, Patricia A.
Davis, Pamela Erickson, Carol G. Finerty, Calli Fuller, Saba Ghori,
Karen Gilbride, Vanessa Golding, Sondra Govatski, Donna Ifill, Ann
Marie Jackson, Yvonne Jackson, Eunice Johnson, Kari Johnstone,
Christina Jun, Lisa Kaplan, Jennifer King, Catherine Kuchta-Helbling,
Jeff Le, Ramiro Martinez, Catherine Newling, Michael Orona, Susan
O'Sullivan, Sarah Fox Ozkan, Dhyna Parker, Jennifer Pekkinen, Katitia
Pitts, Wendy B. Silverman, Rana Siu, Diedra Spencer, Vonzella Taylor,
Julie Turner, Lynda Walker-Johnson, dan Danika Walters; Janice Clark,
Spesilais Pengawas PA; Ahli Pustaka Foto USAID- Patricia Adams; dan
Web Editor - Monica Roll; Pelayanan Multi Media - William Palmer;
Pegawai Magang - Monica Davis, Liam Fitzsimmons dan Claudia Mercado.
Pemilihan umum Indonesia yang damai dan sukses di tahun 2004,
menandakan suatu prestasi perkembangan demokrasi yang menonjol di
suatu wilayah yang secara kurang beruntung juga merupakan tempat
tinggal dari rejim-rejim penindas yang otoriter. Junta militer Burma
yang terus menahan pemenang Nobel Aung San Suu Kyi dan penindasan yang
terus menerus oleh rejim Korea Utara terhadap warganya menonjolkan
beberapa pelanggaran hak asasi manusia yang lebih berat di Asia Timur
dan Pasifik. Sejumlah negara di Asia Timur dan Pasifik, termasuk Cina
dan Vietnam, mengalami pelanggaran hak asasi manusia yang berat,
kontrol masyarakat masyarakat sipil yang ketat, tidak adanya pemilihan
umum yang demokratis, dan penerapan hukum yang lemah.
Amerika Serikat mempunyai komitmen untuk mendorong pemerintah agar
membangun demokrasi yang pluralistis dan representatif, membantu
pembentukan sistem hukum yang transparan dan bertanggung jawab, serta
memperkuat organisasi masyarakat sipil yang mampu meminta
pertanggungan jawaban Pemerintah. Pembangunan masyarakat yang bebas,
dengan ciri-ciri penghargaan terhadap standar hak asasi manusia
internasional, lembaga demokrasi, suatu masyarakat sipil yang dewasa,
kebebasan beragama dan peraturan hukum, merupakan suatu tujuan
kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang mendesak di Asia Timur dan
Pasifik. Amerika Serikat mendorong penghargaan terhadap hak pekerja
sesuai dengan standar perburuhan internasional, memastikan bahwa
pertumbuhan ekonomi tidak akan mengorbankan kesejahteraan para pekerja.
Amerika Serikat telah menekankan kepada negara-negara di seluruh Asia
tentang perlunya melakukan peperangan terhadap terorisme dengan suatu
cara yang konsisten dan dengan penghargaan terhadap hak asasi manusia.
Untuk tujuan ini, Amerika Serikat menggunakan aneka ragam alat
diplomatis untuk mendorong perubahan yang positif. Ini termasuk
diplomasi bilateral, strategi multilateral, dan bantuan yang besar
kepada program-program dan aktifitas-aktifitas. Amerika Serikat,
melalui USAID, memberikan pendanaan yang besar kepada program-program
demokrasi, tata pemerintahan dan hak asasi manusia di seluruh wilayah.
Dana Hak Asasi Manusia dan Demokrasi dari Departemen Luar Negeri
membantu program-program untuk mengembangkan demokrasi dan penegakkan
hukum di Cina, Indonesia, Filipina, Kamboja, Malaysia, Laos, Fiji,
Vietnam, Thailand dan Korea Utara. Amerika Serikat mengkoordinasi
usaha-usaha tersebut dengan negara-negara lain melalui konsultasi dan
mekanisme multilateral, termasuk Proses Bern, dimana beberapa negara
ikut serta dalam konsultasi tentang bagaimana meningkatkan keefektifan
dari masing-masing dialog hak asasi manusia mereka dengan Cina.
Amerika Serikat juga bekerja melalui forum-forum multilateral,
termasuk membantu mekanisme PBB seperti Pelapor Khusus dan
Kelompok-kelompok Kerja, serta resolusi hak asasi manusia
khusus-negara di Sidang Umum PBB dan Komisi PBB tentang Hak Asasi
Manusia.
Amerika Serikat dengan tegas terus berbicara menentang penindasan yang
brutal dan pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di beberapa
negara dalam wilayah tersebut. Di samping pertemuan-pertemuan
bilateral yang reguler dengan para sahabat diskusi Asia tentang
isu-isu hak asasi manusia, Amerika Serikat juga telah melakukan
dialog-dialog hak asasi manusia dengan Cina dan Vietnam. Namun,
dikarenakan tidak adanya kemajuan cukup dari isu-isu hak asasi manusia
di kedua negara tersebut, tidak ada babak baru yang dijadwalkan dalam
tahun 2004 dengan salah satu dari kedua negara tersebut. Amerika
Serikat tetap berpendapat bahwa dialog hanya dilakukan bilamana
hasil-hasil yang positif telah dicapai.
Amerika Serikat secara konsisten mendorong negara-negara di wilayah
tersebut untuk menegosiasikan penyelesaian damai terhadap
konflik-konflik internal dan untuk mencegah penganiayaan terhadap
warga sipil serta penyiksaan lain oleh aparat keamanan sebagai
pelanggaran terhadap undang-undang hak asasi manusia internasional.
Amerika Serikat juga telah bekerja untuk mempromosikan pembaharuan dan
pertanggungjawaban dalam tubuh satuan keamanan dari masing-masing
negara-negara di Asia Timur dan Pasifik.
Membantu Media Independen
Dengan dua tahun bantuan hibah dari Amerika Serikat, Dana Pinjaman
Pengembangan Media memulai suatu kemitraan dengan satu-satunya
organisasi berita radio yang independen di seluruh Indonesia, yaitu
Kantor Pevita Radio 68H, untuk memproduksi dan membuat suatu program
lokal yang disebut "Asia Calling". Program mingguan selama
30 menit ini, dalam bahasa Inggris dan Indonesia, saat ini telah
menjangkau sekitar 2 juta pendengar dan merupakan suatu pendekatan
yang inovatif terhadap promosi demokrasi dan hak asasi manusia di
negara demokrasi ketiga terbesar di dunia dan yang merupakan tempat
tinggal dari populasi Muslim terbesar di dunia. Pada saat banyak
bangsa berjuang melawan ekstremisme, "Asia Calling"
menawarkan suara-suara lokal tentang toleransi dan keterbukaan
terhadap peristiwa-peristiwa yang paling menekan saat ini, yang
mempengaruhi rakyat di Asia pada saat ini.
Di samping liputan umum "Asia Calling" tentang pemilihan
umum Presiden tahun 2004 di Indonesia, program tersebut juga
menonjolkan laporan-laporan tentang dampak terorisme terhadap
pemilihan umum, maupun pelantikan Presiden Yudhoyono dan harapan
terhadap pemerintahannya. "Asia Calling" telah menonjolkan
penyusunan program yang penting tentang toleransi beragama. Program
ini membahas penindasan terhadap kebebasan beragama di Vietnam,
jaringan Islam Liberal di Indonesia dan dampaknya terhadap masyarakat
dan kekerasan di Thailand Selatan, serta penindasan terhadap Muslim
Uighur di Cina. Pada saat tsunami menghancurkan Propinsi Aceh, staf
Radio 68H membantu untuk membangun kembali stasiun-stasiun radio
setempat, dan memberikan laporan tentang tsunami, meliput situasi di
Aceh serta peselisihan politiknya, usaha bantuan global, dampak
terhadap para migran Birma di Thailand, serta konferensi tsunami dari
Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN).
Bersama-sama dengan para koresponden lokal dan regional, "Asia
Calling" saat ini merupakan suatu sumber berita lokal yang
dipercaya, dengan jumlah pendengar yang senantiasa meningkat. Dengan
akan melakukan siaran di negara-negara lain di Asia Tenggara dalam
waktu dekat, maka "Asia Calling" akan membantu mempromosikan
suatu pengertian bersama tentang tantangan-tantangan yang dihadapi
wilayah ini dan mendorong partisipasi warga yang lebih besar di dalam
kehidupan publik.
Indonesia
Indonesia membuat kemajuan besar dalam melaksanakan demokrasi
tahun 2004 ini, dan mengambil langkah-langkah lebih maju dalam
transisinya dari tiga dekade di bawah kekuasaan yang menindas dan
otoriter ke suatu demokrasi yang lebih pluralistis dan representatif.
Negara tersebut menyelenggarakan pemilihan presiden langsung yang
bebas, adil dan damai, dan merupakan demokrasi terbesar ketiga di
dunia dan memiliki populasi Muslim terbesar di dunia. Kira-kira
delapan puluh persen dari jumlah pemilih yang memenuhi syarat
berpartisipasi, yang berarti kira-kira 117 juta orang menggunakan hak
pilih mereka. Sebelumnya badan legislatif yang memilih Presiden.
Sesuai dengan perubahan undang-undang dasar, pemerintah telah
mengurangi peranan politik formal anggota polisi dan militer, yang
kehilangan jatah kursi mereka dalam Dewan Perwakilan Rakyat pada bulan
Oktober saat badan legislatif yang baru diambil sumpahnya. Namun,
catatan hak asasi manusia secara keseluruhan masih tetap buruk.
Walaupun ada sedikit perbaikan di beberapa bidang, masalah-masalah
serius masih tetap ada. Aparat militer dan polisi melakukan
pelanggaran, termasuk pembunuhan dan penganiayaan di luar hukum,
khususnya di Propinsi Aceh dan Papua. Sistem pengadilan yang lemah dan
korup seringkali gagal untuk meminta pertanggungjawaban para pelanggar
hukum. Pihak militer telah mengambil langkah-langkah yang lebih besar
untuk menghukum para pelanggar hak asasi manusia di lingkungannya,
tetapi - sebagaimana dengan sistem peradilan sipil - hukuman dalam
banyak hal tidak sesuai dengan pelanggaran. Pemerintah seringkali
gagal untuk menegakkan hak fundamental anak, perempuan, demonstran
damai, orang cacat, agama minoritas dan kelompok pribumi.
Amerika Serikat melakukan usaha yang agresif dan bervariasi dalam
mempromosikan hak asasi manusia dan demokrasi di Indonesia. Duta Besar
dan para pejabat Amerika Serikat lainnya dimuka umum sering menyoroti
tentang perlunya perlindungan terhadap hak asasi manusia, dan
memberikan waktu, tenaga dan sumberdaya untuk membantu menghadapi
masalah-masalah seperti perdagangan orang (TIP), tidak bertoleransi
dalam beragama dan ancaman terhadap kebebasan pers. Karena banyak
pelanggaran hak asasi manusia melibatkan militer dan polisi, yang
secara kolektif dikenal sebagai satuan keamanan, maka Amerika Serikat
memusatkan usaha hak asasi manusianya untuk mendorong pembaharuan dan
pertanggungjawaban militer, menjadikan polisi yang profesional dan
membangun lembaga-lembaga masyarakat sipil yang sangat perlu untuk
mendukung transisi demokrasi. Para pejabat Amerika Serikat, khususnya
pejabat yang menangani masalah hak asasi manusia di Kedutaan Jakarta,
seringkali bekerja dengan kelompok mahasiswa, lembaga swadaya
masyarakat (LSM), aktivis buruh, perwakilan dari agama dan etnis
minoritas, pimpinan kelompok pribumi dan lain-lain.
Amerika Serikat memberikan bantuan yang luas dan penting sekali
pada pemilihan umum untuk membantu transisi demokrasi yang luar biasa
di Indonesia. Bantuan ini mendukung proses pemilihan umum di negara
dengan 543.000 tempat pemungutan suara dan lebih dari 145 juta pemilih,
yang berbicara lebih dari 250 bahasa dan dialek. Amerika Serikat
memberikan bantuan yang mencakup bantuan teknis kepada otoritas
pemilihan nasional dan lokal, program pendidikan pemilih, serta
prakarsa pemantauan domestik untuk melindungi keutuhan surat suara dan
peninjau internasional.Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta
melakukan peranan aktif dalam memantau pemilihan umum dengan
mengirimkan lebih dari 60 pemantau pada masing-masing dari ketiga
putaran pemungutan suara.
Dalam usaha menjangkau masyarakat Muslim, Amerika Serikat
mensponsori para pembicara dari lusinan pesantren, madrasah serta
lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam, untuk bertukar pandangan
tentang pluralisme, toleransi dan penghargaan terhadap Hak Asasi
Manusia. Kedutaan mengirimkan sejumlah pemimpin dari 80 pesantren ke
Amerika Serikat untuk mengikuti suatu program tiga-minggu tentang
pluralisme agama, pendidikan kewarganegaraan dan pembangunan
pendidikan. Di samping itu, kedutaan juga mengirim 38 siswa dan enam
guru ke Amerika Serikat selama 4 minggu untuk mengikuti suatu Program
Kepemimpinan Pemuda Muslim, dan melalui Program Pertukaran dan Studi
Pemuda (YES), lebih dari 60 siswa Muslim mengikuti program satu-tahun
di sekolah-sekolah menengah di seluruh Amerika Serikat. Wartawan dari
kira-kira 10 agen media Islam berkunjung ke Amerika Serikat untuk
melakukan perjalanan pelaporan. Di tingkat universitas, suatu hibah
multi-tahun membantu untuk melakukan suatu program pendidikan
kewarganegaraan di seluruh sistem Universitas Muhammadiyah. Bantuan
lain yang terpisah membantu suatu lembaga studi Islam di Yogyakarta
untuk melakukan pelatihan tentang Hak Asasi Manusia dan
menyelenggarakan kursus-kursus yang meningkatkan toleransi. Bantuan
juga diberikan kepada dua universitas Amerika Serikat untuk pelatihan
dan pertukaran penongonan konflik, dan untuk mendirikan lima pusat
mediasi di lembaga-lembaga Muslim.
Dalam membantu jangkauan jangka panjang, lima American Corners
dibuka di lembaga-lembaga pendidikan tinggi Muslim di seluruh
Indonesia. Amerika Serikat juga mendanai The Asia Foundation untuk
mendirikan suatu pusat internasional dalam memajukan hubungan regional
dan internasional di antara para intelektual dan aktivis Muslim
progresif dalam mengangkat suatu wacana tingkat internasional tentang
penafsiran Islam progresif. Amerika Serikat juga memberikan pendanaan
kepada berbagai organisasi Muslim dan pesantren untuk mengangkat
persamaan jender dan anak perempuan dengan memperkuat pengertian
tentang nilai-nilai tersebut di antara para pemimpin perempuan
masyarakat dan membantu demokratisasi serta kesadaran jender di
pesantren melalui pemberdayaan pemimpin pesantren laki-laki dan
perempuan. Mengembangkan suatu lingkungan dimana orang Indonesia dapat
secara bebas menggunakan hak-hak sipil dan politik mereka adalah
kritis bagi tujuan kebijakan luar negeri Amerika Serikat dalam
memelihara pluralisme dan toleransi untuk menghadapi ekstrimisme.
Kebebasan pers berada di bawah ketegangan, dimana para preman
kadang-kadang menyerang para wartawan, dan politikus serta para
pembesar menggunakan tindakan hukum kriminal atau perdata terhadap
para redaksi dan wartawan. Aliansi Pers Asia Tenggara (SEAPA) yang
didanai Amerika Serikat memantau luasnya kekerasan dan intimidasi
terhadap para wartawan di Indonesia. Para pejabat Amerika Serikat
menyampaikan kekhawatiran mereka kepada Pemerintah terhadap jumlah
para pemrotes damai yang semakin banyak dipenjarakan karena "menghina
Presiden" atau "menyebarkan kebencian terhadap Pemerintah".
Para diplomat Amerika Serikat secara tetap memantau dan hadir pada
beberapa penuntutan kriminal terhadap pers, termasuk persidangan
terhadap Bambang Harymurti, seorang jurnalis terkemuka, yang dituntut
di bawah Kitab Undang Undang Hukum Pidana karena memfitnah. Amerika
Serikat mendorong pertumbuhan dan perluasan dari radio berita di
seluruh wilayah Asia Tenggara dengan membantu program berita radio
yang independen, asli, dan pro-demokrasi yang berkedudukan di luar
Jakarta. Untuk memperkuat penghargaan terhadap Paras kedaulatan hukum,
Amerika Serikat memberikan program-program pelatihan profesional di
Indonesia dan di wilayah tersebut, dengan tujuan untuk meningkatkan
kapasitas dan profesionalisme para jaksa, polisi dan hakim tentang
isu-isu yang berkisar dari etika sampai ke pencucian uang. Amerika
Serikat terus memberikan bantuan teknis kepada Tim Pembaharuan
Mahkamah Agung, yang telah diberikan mandat untuk melaksanakan
rekomendasi yang ditetapkan di dalam rangkaian cetak biru peradilan
atau rencana pembaharuan yang telah disusun. Amerika Serikat juga
memberikan keahlian yang perlu kepada Mahkamah Konstitusi untuk
membantunya dalam menyelesaikan perselisihan pemilihan. Bantuan
tersebut memperkuat kapasitas dari personil Mahkamah Konstitusi untuk
melakukan penelitian hukum yang relevan dan membuat memorandum hukum
bagi peradilan yang mengadili kasus-kasus tersebut. Amerika Serikat
membantu Kejaksaan Agung dalam merumuskan garis pedoman tentang
peranan para jaksa dan suatu Kitab Undang-Undang Standar Profesional.
Standar-standar tersebut akan memberikan dasar bagi pembangunan
profesi kejaksaan Indonesia di masa depan, khususnya tentang rekrutmen,
pengawasan, pelatihan serta pembangunan kelembagaan Kejaksaan Agung.
Amerika Serikat juga membantu LSM, yaitu Indonesia Corruption Watch,
untuk menangani peradilan korupsi dengan memantau persidangan. Amerika
Serikat meneruskan usaha untuk membantu polisi nasional dalam
melakukan transisi ke suatu instansi penegakan hukum sipil, didasarkan
atas prinsip-prinsip demokrasi dan Hak Asasi Manusia. Suatu prakarsa
pelatihan berjudul Transisi ke Pemolisian Demokrasi (TDP) dimulai
dengan pelatihan 30 instruktur polisi Indonesia oleh polisi Amerika,
yang memungkinkan mereka untuk melatih yang lain dalam TDP. Dengan
bantuan dari para pelatih Amerika Serikat, maka ke 30 instruktur
Indonesia tersebut mengajar 300 instruktur tambahan tentang bagaimana
mengintegrasikan demokrasi dan hak asasi manusia ke dalam pekerjaan
polisi.
Polisi nasional saat ini menyelenggarakan pelatihan TDPnya sendiri di
seluruh negara agar dapat menyampaikan prinsip-prinsip pemolisian di
dalam suatu demokrasi kepada lebih dari 175.000 petugas polisi. Di
Yogyakarta, Jawa Tengah, pembuatan Program Pemolisian
Berorientasi-Masyarakat terus memberikan suatu dampak yang positif
termasuk bantuan yang lebih luas dari pemerintah daerah dan masyarakat
bisnis. Pemerintah daerah telah sepakat untuk memperluas proyek
percontohan tersebut ke kecamatan lain, mengeluarkan
peraturan-peraturan daerah dan mengalokasikan pemberian anggaran yang
perlu untuk membantu Program Pemolisian Berorientasi-Masyarakat di
daerah-daerah lain. Kedutaan secara ketat memantau semua sidang
pengadilan yang melibatkan orang-orang yang dituntut karena kejahatan
terhadap kemanusiaan, dan berbicara pada saat tindakan (tidak ada
tindakan) yang dilakukan oleh para jaksa yang patut dipertanyakan
secara keseluruhan dari proses peradilan tersebut, sebagaimana kasus
di Pengadilan Timor Timur. Amerika Serikat telah menekankan tentang
pentingnya mendapat pertanggungan jawab yang kredibel untuk kejahatan
terhadap kemanusiaan yang dilakukan di Timor Timur selama dan setelah
referendum di daerah tersebut dalam tahun 1999. Di dalam suatu
pertemuan bulan Desember dengan Menteri Luar Negeri Wirajuda dan
Menteri Luar Negeri Timor Timur Ramos Horta, Menteri Luar Negeri
Powell telah menekankan tentang pentingnya pertanggungan jawab, dan
menegaskan kembali bantuan Amerika Serikat kepada suatu Komisi Ahli
PBB agar pergi ke kedua negara tersebut untuk mengevaluasi mekanisme
pertanggungan jawab saat ini dan merekomendasi langkah-langkah
selanjutnya. Amerika Serikat mendorong militer untuk memperbaiki diri
dari dalam dan luar, melalui pembukaan yang terus menerus terhadap
Perluasan Program Pendidikan dan Pelatihan Militer Internasional.
Program ini, yang juga mengikutsertakan sejumlah orang sipil,
menekankan pada program-program non-pertempuran berkaitan dengan
profesionalisasi, menyoroti cara-cara untuk pengawasan sipil terhadap
militer, memperbaiki sistem peradilan militer dan meningkatkan
penghargaan terhadap hak asasi manusia. Beberapa kursus mencoba untuk
memperbaiki sistem peradilan militer, sementara yang lain meningkatkan
kapasitas penyidikan dari polisi militer. Para pejabat Amerika Serikat
seringkali bertemu dengan para pejabat militer Indonesia dan mendorong
reformasi militer.
Di Aceh, konflik bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan
Tentara Nasional Indonesia (TNI) telah berlanjut selama bertahun-tahun,
yang sangat membuat situasi Hak Asasi Manusia di propinsi tersebut
menjadi buruk dan membahayakan masyarakat sipil yang rapuh. Status
Darurat Miliater, yang dilaksanakan dalam bulan Mei 2003, terus
berlanjut sampai bulan Mei 2004, selanjutnya Pemerintah Indonesia
memberlakukan status Darurat Sipil. Pertempuran antara GAM dan TNI
terus berlanjut tanpa mereda selama keadaan Darurat Sipil, sebagaimana
juga pembatasan terhadap kebebasan sipil. Amerika Serikat seringkali
mendesak Pemerintah Indonesia untuk melindungi hak dari mereka yang
tidak berperang dan memberikan akses kepada kelompok-kelompok
kemanusiaan dan para wartawan. Amerika Serikat juga mendukung
organisasi masyarakat sipil yang membantu program hak asasi manusia,
mengadvokasi penyelesaian konflik secara damai, dan membantu mendanai
perawatan korban penganiayaan. Diyakini bahwa lebih dari seperempat
juta orang Aceh telah meninggal di dalam gempa bumi dan tsunami yang
melanda propinsi tersebut pada tanggal 26 Desember 2004. Amerika
Serikat segera mulai memberikan bantuan darurat kepada para korban
melalui badan-badan pelaksana Amerika Serikat di Aceh.
Kedutaan mengkoordinasi respon Amerika Serikat dengan komando militer,
yang memperoleh respon yang cepat dari angkatan bersenjata Amerika
Serikat, termasuk mengirim USS Lincoln Battle Group ke daerah bencana
tsunami. Kantor USAID untuk Bantuan Bencana Luar Negeri juga
mengirimkan dengan cepat bantuan darurat sebagaimana mestinya dan
sumber daya tambahan ke wilayah tersebut. Bantuan Amerika Serikat
memenuhi kebutuhan kemanusiaan yang mendesak, sambil juga membantu
demokrasi dan stabilitas Indonesia yang timbul pada suatu titik waktu
yang kritis. Oleh karena adanya kehancuran yang begitu besar dan
penderitaan manusia, maka GAM menyatakan suatu gencatan senjata dan
Pemerintah membuka daerah-daerah yang terkena tsunami di Aceh kepada
para pekerja kemanusiaan dan wartawan internasional. Di Papua, dimana
militer Indonesia memiliki sejarah reaksi opresif terhadap kegiatan
separatis, Amerika Serikat mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki
pemantauan dan investigasi terhadap pelanggaran hak asasi manusia.
Amerika Serikat terus menuntut keadilan bagi pembunuhan bulan Agustus
2002 terhadap dua warga negara Amerika Serikat di dekat kota Timika.
Pihak berwenang Indonesia bekerjasama dengan Biro Penyidik Federal
(FBI) Amerika Serikat menyelidiki pembunuhan tersebut. Pengadilan
Distrik Amerika Serikat untuk District of Columbia menuntut Anthonius
Wamang, seorang pemberontak separatis yang diduga membelot dan
mempunyai kaitan dengan pembunuhan tersebut, tapi sampai laporan ini
dibuat ia masih tetap bebas. Amerika Serikat terus menekan pihak
berwenang di Indonesia untuk menangkap dan mengadili Wamang.
Propinsi Maluku dan Maluku Utara mengalami hanya sedikit kekerasan
sectarian dalam tahun 2004, kecuali satu letupan dalam bulan April
yang dicetus oleh peringatan hari ulang tahun dari suatu gerakan
separatis yang mayoritas anggotanya orang Kristen. Staf dari konsulat
Amerika Serikat di Surabaya melakukan perjalanan ke kedua propinsi
tersebut untuk bertemu dengan para pemimpin dan mendorong usaha yang
terus menerus bagi rekonsiliasi dan pemecahan konflik yang efektif.
Dalam tahun 2004 Sulawesi Tengah terus menderita karena timbulnya
kekerasan secara sporadis, termasuk penembakan terhadap gereja-gereja
setempat yang belum terselesaikan dan pengeboman terhadap sebuah bis
di dekat kota Palu. Seluruh tiga propinsi tersebut masih memerlukan
usaha-usaha rekonsiliasi dan rekonstruksi yang luas. Pendanaan Amerika
Serikat membantu LSM CARE untuk terus maju dengan proyek-proyek
pembangunan masyarakat dan membangun rumah-rumah bagi mereka yang
terlantar akibat konflik. Di Propinsi Sulawesi Tengah dan Maluku,
pendanaan Amerika Serikat membantu LSM Mercy Corps memberikan bantuan
kepada mereka yang menjadi penganggur karena konflik, dengan
menyediakan program-program pendapatan-penghasilan. LSM International
Medical Corps menggunakan dana Amerika Serikat untuk memberikan
perawatan darurat dan kesehatan primer kepada penduduk Maluku di
pulau-pulau terpencil dimana kekerasan sektarian telah menghancurkan
fasilitas kesehatan.
Para pejabat Pemerintah Amerika Serikat secara teratur bertemu dengan
para pemimpin agama dan sipil untuk mendorong saling menghormati dan
bekerjasama, pada saat yang sama menyuarakan keadilan bagi mereka yang
telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia yang berat di masa
lampau. Untuk melindungi hak perempuan, Amerika Serikat membantu
meningkatkan kesadaran tentang kekerasan dalam rumah tangga melalui
Foundation for the Elimination of Violence Against Women (Yayasan
untuk Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan); membantu suatu
kampanye media untuk menginformasikan kepada kaum perempuan tentang
hak mereka; mencoba untuk memberdayakan perempuan melalui program
pesantren; membantu pembuatan suatu database nasional dari para calon
potensial perempuan potensial untuk partai politik; dan melalui
Foundation to Assist in the Protection of Women (Yayasan untuk
Membantu Perlindungan terhadap Perempuan), mempelajari bagaimana
polisi memperlakukan korban Perdagangan perempuan.
Amerika Serikat menempatkan sejumlah dokumentasi yang berkaitan dengan
perempuan dan klip-klip berita di televisi lokal. Lusinan perempuan
mengambil bagian di dalam International Visitors Program, Voluntary
Visitor, Fulbright Summer Institute dan program-program lainnya, yang
banyak diantaranya memusatkan pada isu-isu hak asasi manusia. Bantuan
Amerika Serikat kepada Komisi Nasional tentang Kekerasan Terhadap
Perempuan menghasilkan keputusan pemerintah Indonesia untuk mendirikan
pusat-pusat krisis perempuan secara regional. Yayasan Jurnal Perempuan,
yang didanai Amerika Serikat, memproduksi sebuah majalah bulanan dan
pertunjukan radio mingguan yang mencapai 158 stasiun. Amerika Serikat
bekerja dengan Organisasi Buruh Internasional dan Solidarity Center
untuk meningkatkan kesadaran tentang dan memerangi masalah pekerja
anak. Departemen Tenaga Kerja memberikan pendanaan yang signifikan
untuk melindungi anak-anak dari eksploitasi seks, perdagangan orang,
perdagangan dan produksi narkotik, kerja di pertambangan dan kerja di
perikanan lepas pantai dan di pabrik sepatu. Amerika Serikat membantu
Pusat Krisis Rakyat di Aceh untuk menyelamatkan anak-anak yang menjadi
korban konflik, khususnya mereka dengan trauma fisik atau mental.
Pendanaan Amerika Serikat menyediakan "rumah aman", dimana
anak-anak dapat menerima penyuluhan dan pendidikan. Puluhan ribu orang
Indonesia menjadi korban perdagangan orang.
Bantuan tambahan kepada 48 LSM dan kelompok masyarakat menghasilkan
aksi anti-perdagangan orang setempat yang memusatkan pada pencegahan,
rehabilitasi dan advokasi. Pendanaan Amerika Serikat membantu
pembuatan tempat bernaung yang baru bagi para korban. Amerika Serikat
melatih ratusan petugas polisi dan beberapa jaksa, yang menghasilkan
lebih banyak penangkapan dan penuntutan serta putusan penjara yang
lebih lama bagi beberapa pelaku perdagangan orang. LSM yang didanai
Amerika Serikat seperti Solidarity Center dan Komisi Migrasi Katolik
Internasional, membantu pemerintah dalam membuat prosedur operasi
standar untuk menangani para korban, memberikan kontribusi kepada
pengesahan undang-undang daerah di dua propinsi dan memberikan bantuan
teknis yang menghasilkan dimasukkannya rencana undang-undang anti-perdagangan
orang di DPR. LSM yang dibiayai Amerika Serikat dengan cepat
menyelidiki desas-desus tentang adanya perdagangan para korban dari
Aceh setelah terjadi tsunami bulan Desember.
***
|