|
|
|
(TERJEMAHAN TIDAK RESMI)
TEKS RESMI
|

|
|
PUBLIC
AFFAIRS SECTION |
DEPARTEMEN LUAR NEGERI AS
Laporan mengenai Perdagangan Manusia
Dikeluarkan oleh Kantor Pengawasan dan
Pemberantasan Perdagangan Manusia
14 Juni 2004
I.
Pendahuluan (telah direvisi)
[PROFIL-PROFIL
KORBAN: Dimasukkannya pengakuan para korban ke dalam laporan ini
hanya dimaksudkan sebagai gambaran dan tidak mencakup semua bentuk
perdagangan manusia yang terjadi. Sayangnya, yang manapun dari kisah
ini, sebagian besar terjadi di hampir semua belahan dunia. Ini
diberikan untuk memberikan gambaran mengenai bentuk-bentuk perdagangan
manusia dan keragaman luas wilayah dimana perdagangan
manusia terjadi. Tidak ada negara yang kebal terhadap hal ini.
Semua nama korban yang muncul dalam laporan ini bukanlah nama
sebenarnya. Foto-foto pada sampul laporan ini dan sebagian besar
foto-foto tanpa keterangan dalam Laporan ini bukanlah gambar-gambar
para korban perdagangan yang sebenarnya, tetapi ditampilkan untuk
memperlihatkan ribuan bentuk eksploitasi yang semakin menegaskan
keberadaan perdagangan manusia dan beragamnya budaya dimana para
korban perdagangan dapat ditemukan].
PENDAHULUAN
|
Sebuah
kelompok pemberontak di Republik Demokratis Kongo merekrut
Natalia saat ia berusia 12 tahun: “Suatu hari, para
pemberontak menyerang desa dimana saya tinggal. Saya bersembunyi
dan melihat saat mereka membunuh keluarga saya dan memperkosa
ibu serta saudara-saudara perempuan saya. Saya pikir jika saya
bergabung dengan pasukan mereka, saya akan aman. Dalam pasukan
tersebut saya dilatih untuk menggunakan senjata dan saya
menjalankan tugas sebagai penjaga. Saya sering dipukuli dan
diperkosa oleh para prajurit lain. Suatu hari seorang komandan
ingin menjadikan saya istrinya, maka saya mencoba melarikan diri.
Mereka menangkap saya, mencambuki saya dan memperkosa saya
setiap malam selama berhari-hari. Saat saya baru berusia 14
tahun, saya melahirkan seorang bayi. Saya bahkan tidak
mengetahui siapa ayahnya. Saya melarikan diri lagi tetapi saya
tidak tahu harus pergi kemana dan tidak mempunyai makanan untuk
bayi saya. Saya sangat takut untuk pulang ke rumah.”
|
Apakah
tujuan dari Laporan Perdagangan Manusia (PM) 2004?
Departemen
Luar Negeri menerima mandat untuk menyampaikan sebuah laporan setiap
tahunnya kepada Kongres mengenai usaha-usaha pemerintah asing untuk
menghapuskan bentuk-bentuk perdagangan manusia. Laporan bulan Juni
2004 ini adalah Laporan PM tahunan yang keempat. Walaupun
tindakan-tindakan negara untuk mengakhiri perdagangan manusia adalah
fokusnya, laporan tersebut juga menceritakan kisah-kisah menyedihkan
para korban Perdagangan Manusia, yang merupakan perbudakan abad ke-21.
Laporan ini menggunakan istilah “Perdagangan Manusia” yang
digunakan dalam hukum AS dan di seluruh dunia, dan istilah tersebut
meliputi perdagangan budak dan perbudakan moderen dalam segala bentuk.
Kita
tidak dapat memahami tragedi Perdagangan Manusia, dan tidak pula dapat
berhasil memberantasnya, kecuali jika kita mempelajari para korbannya:
siapa mereka, mengapa mereka begitu rentan, bagaimana mereka dijebak,
dan apakah yang bisa
dilakukan untuk membebaskan dan menyembuhkan mereka. Dalam menilai
usaha-usaha pemerintah asing, Laporan PM menyoroti “tiga P” dari prosecution,
protection dan prevention (penuntutan, perlindungan dan
pencegahan). Tetapi suatu pendekatan yang terpusat pada korban
Perdagangan mengharuskan kami menggunakan
“tiga R” – rescue, removal dan reintegragtion
(penyelamatan, pemindahan, dan reintegrasi). Kita harus memperhatikan
tangisan mereka yang tertangkap. Pekerjaan kami tidak akan berhenti
Hingga semua negara bersatu untuk melawan kejahatan ini. Lebih dari
140 tahun yang lalu, Amerika Serikat berjuang melawan perang yang
menghacurkan untuk membersihkan negara dari perbudakan, dan untuk
mencegah mereka yang mendukung perbudakan memecah belah bangsa.
Walaupun pada waktu itu kami berhasil menghapuskan praktek yang
disetujui negara, perbudakan manusia telah kembali sebagai suatu
ancaman global yang terus tumbuh bagi kehidupan dan kebebasan jutaan
pria, wanita dan anak-anak.
Tidak
ada negara yang kebal terhadap Perdagangan Manusia. Setiap tahunnya,
diperkirakan 600.000 – 800.000 laki-laki, perempuan dan anak-anak
diperdagangkan menyeberangi perbatasan-perbatasan internasional (beberapa organisasi internasional dan organisasi swadaya
masyarakat mengeluarkan angka yang jauh lebih tinggi), dan Perdagangan
terus berkembang. Angka ini merupakan tambahan untuk angka lain yang
jauh lebih tinggi yang belum dapat
dipastikan jumlahnya berkenaan dengan korban-korban
perdagangan manusia di dalam berbagai negara. Para korban
dipaksa untuk bekerja pada tempat pelacuran, atau bekerja di
tambang-tambang dan tempat kerja buruh berupah rendah, di tanah
pertanian, sebagai pelayan rumah, sebagai prajurit di bawah umur dan,
dalam banyak bentuk perbudakan di luar kemauan mereka. Pemerintah AS
memperkirakan bahwa lebih dari separuh dari para korban yang
diperdagangkan secara internasional diperjualbelikan untuk eksploitasi
seksual.
Berjuta-juta
korban diperdagangkan di dalam negaranya sendiri. Didorong oleh
unsur-unsur kriminal, penderitaan ekonomi, pemerintahan yang korup,
kekacauan sosial, ketidakstabilan politik, bencana alam, dan konflik
bersenjata, perbudakan abad 21 menjawab kebutuhan dunia akan tenaga
kerja yang murah dan rentan. Selain itu, keuntungan yang didapat dari
perdagangan manusia mendanai sindikat kejahatan internasional,
membantu perkembangan korupsi pemerintah, dan meruntuhkan peranan
hukum. Amerika Serikat memperkirakan bahwa keuntungan dari Perdagangan
Manusia merupakan salah satu dari tiga sumber pendapatan teratas bagi
kejahatan terorganisir setelah perdagangan narkotika dan perdagangan
senjata.
Perbudakan
moderen merupakan ancaman
multidimensi bagi semua bangsa. Selain penderitaan individu akibat
pelanggaran hak asasi manusia, keterkaitan antara perdagangan manusia
dengan kejahatan terorganisir serta ancaman-ancaman keamanan yang
sangat serius seperti perdagangan obat-obatan terlarang dan senjata,
menjadi semakin jelas. Begitu pula kaitannya dengan keprihatinan kesehatan
masyarakat yang serius, karena banyak korbanmengidap penyakit, baik
akibat kondisi hidup yang miskin maupun akibat dipaksa melakukan
hubungan seks, dan diperdagangkan ke komunitas-komunitas baru. Sebuah
negara yang memilih untuk mengebelakangkan masalah Perdagangan
Manusianya membahayakan bangsanya sendiri. Tindakan cepat sangat
dibutuhkan.
|
Katya,
yang memiliki putri berusia dua tahun dan mengalami kegagalan
berumah tangga di Republik Cheko, mengikuti saran seorang
“teman”nya yang mengatakan bahwa ia bisa mendapatkan banyak
uang jika bekerja sebagai pelayan di Belanda. Seorang
agen membawanya bersama empat orang wanita muda lain ke
Amsterdam, dimana Setelah mereka dihubungkan dengan penjual
dari Belanda, ia dibawa ke rumah pelacuran. Setelah
mengatakan “saya tidak akan melakukannya”, ia dijawab
“ya, kamu akan mengerjakannya, jika kamu ingin anak
kamu di Republik Cheko tetap hidup”. Setelah bertahun-tahun
diancam dan dipaksa sebagai pekerja seks, Katya diselamatkan
oleh seorang pengemudi taksi yang baik hati. Katya saat ini bekerja di sebuah rumah sakit dan
belajar untuk mendapatkan sebuah gelar dalam pekerjaan sosial.
|
Pada
tahun 2000, Kongres dan Presiden mensyahkan Undang-undang Perlindungan
Korban Perdagangan (Trafficking Victims Protection Act - TVPA)
tahun 2000 (22 U.S.C 7101 dan halaman-halaman berikutnya). (TVPA),
yang terakhir diubah oleh Undang-undang Reotorisasi Perlindungan
Korban Perdagangan tahun 2003 (Undang-undang Public 108-193). TVPA
mencoba untuk memerangi Perdagangan Manusia dengan menghukum para
pelaku perdagangan, melindungi para korban, dan memobilisasi
badan-badan pemerintah AS untuk meningkatkan kampanye anti Perdagangan
Manusia di seluruh dunia. TVPA, sebagaimana diubah, memuat
mandat-mandat penting untuk Departemen Luar Negeri, Departemen
Kehakiman, Departemen Tenaga Kerja, Departemen Keamanan Dalam Negeri,
Dinas Kesehatan dan KeManusiaan, dan Badan Perkembangan Internasional
AS.
Laporan
ini diamanatkan oleh TVPA dan dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran
dunia dan mendorong pemerintah asing untuk mengambil tindakan-tindakan
efektif guna melawan Perdagangan Manusia. Laporan ini secara meningkat
telah terfokus pada usaha-usaha komunitas bangsa yang terus
tumbuh untuk berbagi informasi dan untuk bekerja sama dalam cara yang
baru dan penting untuk melawan Perdagangan Manusia. Sebuah negara yang
lalai mengambil tindakan-tindakan penting untuk membuat negaranya
memenuhi standar-standar minimal penghapusan Perdagangan Manusia akan
menerima penilaian yang negatif dalam laporan ini. Penilaian negatif
tersebut juga dapat mengakibatkan
penahanan sejumlah bantuan yang berhubungan dengan bantuan non-kemanusiaan
dan non-perdagangan dari pemerintah
Amerika Serikat kepada negara tersebut.
|
Membeli
Kebebasan Seorang Korban
salah
satu aspek perbudakan moderen yang memprihatinkan
adalah dijadikannya kehidupan manusia sebagai komoditi
perdagangan: penempatan nilai moneter pada kehidupan
seorang wanita, pria, atau anak-anak. Baik di rumah
pelacuran India, atau di kamp perbudakan di Sudan,
sebuah harga diberikan atas kebebasan seorang korban.
Organisasi
dan individu yang mencoba untuk menyelamatkan para korban
terkadang harus memilih membeli kebebasan mereka. Dengan
membayar tebusan hasil segera diperoleh. Seorang korban
dibebaskan dari ikatan perbudakan. Namun, implikasi praktek ini
menjadi semakin rumit.
Jika
para korban dibebaskan dari sebuah rumah pelacuran oleh suatu
organisasi atau individu, pelaku perdagangan, dengan menggunakan
pendapatan hasil penjualan, dapat menemukan korban-korban baru
untuk memberikan pelayanan yang sama. Sulit untuk menetapkan
apakah terjadi pengurangan jumlah korban atau tidak. Dalam
banyak peristiwa, perbudakan dapat terus berlanjut tanpa
hukuman apapun kepada para pelaku perdagangan
atau pelaku eksploitasi.
Cara
yang efektif untuk mendapatkan kebebasan korban adalah melalui
penerapan hukum: menuntut
pertanggung jawaban para pelaku perdagangan dan pelaku
eksploitasi yang memperjualbelikan korban
dengan menggunakan sistem peradilan pidana. Melalui
penggerebekan yang menyelamatkan para korban tanpa kompensasi
biaya, dan menahan mereka yang melakukan perbudakan, alat-alat
peradilan mencabut harga yang tinggi dari para pelaku
perdagangan kejam ini. Penerapan
hukum pidana juga memberikan masyarakat suatu rasa keadilan,
yang juga menjadi alasan mengapa hukum AS menempatkan
prioritasnya pada pemerintahan yang mempidanakan dan menghukum
bentuk-betnuk Perdagangan Manusia.
|
Kita harus
belajar banyak mengenai ruang lingkup dan bentuk Perdagangan Manusia.
Dalam laporan ini kami telah mencoba memperlihatkan wilayah-wilayah
dimana informasinya sulit didapatkan dan kami mengangkat
masalah-masalah yang memang pantas untuk diselidiki. Dengan
kendala-kendala tersebut, Laporan
Perdagangan Manusia 2004 ini menyajikan
sebuah pandangan terbaru dan komprehensif
mengenai sifat dan cakupan perbudakan moderen, dan luasnya
cakupan tindakan yang tengah diambil dalam kampanye global
penghapusan Perdagangan Manusia.
Sebagai
akibat dari diberlakukannya TVPA dan laporan tahunan ini, kepemimpinan
yang kuat, meningkatnya usaha-usaha pemerintah dan meningkatnya
perhatian dari Organisasi-organisasi internasional dan swadaya
masyarakat, kita memasuki
era kerjasama baru. Bangsa-bangsa semakin meningkatkan kerjasamanya
untuk menutup jalur-jalur perdagangan manusia, menuntut dan menghukum
para pelaku perdagangan , dan melindungi serta menyatukan kembali para
korban pl. Kami berharap laporan ini
dapat memberikan inspirasi untuk kemajuan yang lebih baik lagi.
|
Korupsi
Menghalangi Kemajuan Dalam Pemberantasan Perdagangan Manusia
Korupsi
pemerintah merupakan rintangan utama dalam memerangi Perdagangan
Manusia di banyak negara. Skala korupsi pemerintah yang terkait
dengan Perdagangan Manusia dapat meliputi perdagangan yang
dilokalisir hingga yang bersifat endemis. Negara-negara yang
menghadapi korupsi seperti itu perlu membangun alat-alat yang
efektif untuk mengatasi masalah tersebut. Beberapa praktek anti
korupsi yang telah digunakan secara efektif oleh negara-negara
Eropa Tengah dan Eropa Timur untuk mendukung perlawanan terhadap
Perdagangan Manusia mencakup: melaksanakan pengujian psikologis
terhadap para pegawai pelaksanaan hukum, termasuk tes-tes untuk
stabilitas, inteligensi, karakter, etika, dan kesetiaan;
mewajibkan menggunakan etika yang diperintahkan; mengeluarkan
lencana identifikasi standar; melaksanakan tes integritas secara
acak; menyebarkan dan menggunakan manual mengenai upaya-upaya terbaik; memeriksa kepemilikan dan uang tunai
pribadi para pejabat secara acak; menerbitkan tajuk wacana anti
korupsi tanpa nama; memutar para personil, khususnya di pos-pos
pemeriksaan perbatasan bervolume tinggi; meningkatkan upah;
memberikan penghargaan insentif kinerja; memberikan pelatihan
untuk membantu personil agar memahami pentingnya pekerjaan
mereka dengan lebih baik; mewajibkan pengambilan sumpah jabatan;
dan mengadakan pemeriksaan administratif secara rutin, misalnya
pada catatan-catatan keimigrasian.
|
|
Deng,
di akhir usia ke-20nya, direkrut di negara asalnya Thailand
untuk melakukan perjalanan secara sukarela ke Australia dimana
ia diberitahu bahwa ia bisa mendapatkan uang banyak sebagai
seorang pekerja seks. Namun, begitu tiba di Australia, ia
ditemui oleh para pelaku Perdagangan Manusia yang mengambil
paspornya dan menguncinya dalam sebuah rumah. Ia diberitahukan
bahwa ia harus melunasi hutang lebih dari $30,000 dengan
melayani 900 pria. Ia hanya diberikan sedikit makanan dan secara
paksa diantar ke sebuah rumah pelacuran tujuh hari dalam
seminggu, bahkan saat ia sakit. Ia diberitahukan bahwa jika ia
mencoba melarikan diri, komplotan kriminal akan menangkapnya. Ekploitasi terhadap Deng berakhir saat
para pegawai imigrasi Australia menggerebek rumah pelacuran
dimana ia diperbudak.
|
Apakah itu
perdagangan Manusia?
Protokol
Perserikatan Bangsa-bangsa untuk Mencegah, Menekan dan Menghukum
Perdagangan Manusia, khususnya pada wanita dan Anak-anak (salah satu
dari tiga “Protokol Palermo”), mendefinisikan Perdagangan Manusia
sebagai:
Perekrutan,
pengiriman, pemindahan, penampungan atau penerimaan seseorang, dengan
ancaman atau penggunaan kekerasan atau bentuk-bentuk lain dari
pemaksanaan, penculikan, penipuan, kebohongan, atau penyalahgunaan
kekuasaan atau posisi rentan atau memberi atau menerima pembayaran
atau memperoleh keuntungan agar dapat memperoleh persetujuan dari
seseorang yang berkuasa atas orang lain, untuk tujuan exploitasi.
Exploitasi termasuk, paling tidak, exploitasi untuk melacurkan orang
lain atau bentuk bentuk lain dari exploitasi seksual, kerja atau
pelayanan paksa, perbudakan atau praktik-praktik serupa perbudakan,
perhambaan atau pengambilan organ tubuh.
Banyak
Negara keliru dalam
memahami definisi ini dengan melupakan perdagangan manusia dalam
Negara atau menggolongkan migrasi tidak tetap sebagai perdagangan .
TVPA menyebutkan “bentuk-bentuk perdagangan berat” didefinisikan
sebagai:
a.
perdagangan seks dimana tindakan seks komersial diberlakukan
secara paksa, dengan cara penipuan, atau kebohongan, atau dimana
seseorang diminta secara paksa melakukan suatu tindakan demikian belum
mencapai usia 18 tahun; atau
b.
merekrut, menampung,
mengangkut, menyediakan atau mendapatkan seseorang untuk bekerja atau
memberikan pelayanan melalui paksaan,
penipuan, atau kekerasan untuk tujuan
penghambaan, peonasi, penjeratan hutang (ijon) atau perbudakan.
Dalam
definisi-definisi ini, para korban tidak harus secara fisik diangkut
dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Definisi ini juga secara jelas
berlaku pada tindakan merekrut, menampung, menyediakan, atau
mendapatkan seseorang untuk maksud-maksud tertentu.
Apakah
Korban Manusia dan Sosial akibat perdagangan manusia?
Para
korban Perdagangan Manusia mengalami banyak hal yang mengerikan.
Luka fisik dan psikologis, termasuk penyakit dan pertumbuhan
yang terhambat, seringkali meninggalkan pengaruh permanen yang
mengasingkan para korban dari
keluarga dan masyarakat mereka. Para korban Perdagangan Manusia
seringkali kehilangan kesempatan penting mereka untuk mengalami
perkembangan sosial, moral, dan spiritual. Dalam banyak kasus
eksploitasi pada korban Perdagangan Manusia terus meningkat: seorang
anak yang diperjualbelikan dari satu kerja paksa dapat terus
diperlakukan dengan kejam di tempat lain. Di Nepal, para anak gadis
yang direkrut untuk bekerja di pabrik-pabrik karpet, hotel-hotel, dan
restoran kemudian dipaksa untuk bekerja di industri seks di India. Di
Filipina dan banyak negara lain, anak-anak yang awalnya berimigrasi
atau direkrut untuk hotel dan industri pariwisata, seringkali berakhir
dengan terjebak di dalam rumah-rumah pelacuran. Suatu kenyataan kejam
mengenai perdagangan budak moderen adalah para korbannya
seringkali dibawa dan dijual.
|
Tina,
seorang anak berusia belasan tahun dari desa pedalaman
Indonesia, berhutang ratusan dolar untuk selama empat bulan
mengikuti pelatihan pembantu rumah tangga dan tinggal selama
lebih dari empat bulan di sebuah pusat tenaga kerja Indonesia.
Dari sana, Tina, seperti kebanyakan gadis Indonesia lainnya,
diangkut ke Malaysia dengan keyakinan akan bekerja sebagai
pembantu rumah tangga bagi pasangan Malaysia. Dipaksa
untuk bekerja hingga 15 jam sehari dalam bisnis keluarga dimana
ia tidur di lantai, Tina diberitahu bahwa gajinya akan ditahan
hingga ia menyelesaikan dua tahun kontraknya. Setelah berkali-kali
diperlakukan dengan kejam secara fisik, ia mencari tempat
perlindungan di penampungan korban milik LSM Malaysia. Tina
telah melaporkan
kasusnya kepada polisi dan
dia telah diberi perpanjangan visa imigrasi supaya
dapat melanjutkan kasusnya
melawan majikannya di Malaysia.
|
Para korban yang
dipaksa dalam perbudakan seks seringkali
dibius dengan obat-obatan dan menderita kekerasan yang luar
biasa. Para korban yang diperjualbelikan untuk eksploitasi seksual
menderita cedera fisik dan emosional akibat kegiatan seksual yang
belum waktunya, diperlakukan dengan kasar, dan menderita
penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hubungan seks termasuk
HIV/AIDS. Beberapa korban menderita cedera permanen pada organ
reproduksi mereka. Selain itu, korban biasanya diperdagangkan di
lokasi yang bahasanya tidak mereka pahami, yang menambah cedera
psikologis akibat isolasi dan dominasi. Ironisnya, kemampuan manusia
untuk menahan penderitaan yang amat buruk dan terampasnya hak-hak
mereka malah membuat banyak korban yang dijebak terus bekerja sambil
berharap akhirnya mendapatkan kebebasan.
Perdagangan
Manusia adalah Pelanggaran Hak Asasi Manusia, Pada dasarnya,
Perdagangan Manusia melanggar hak asasi universal manusia untuk hidup,
merdeka, dan bebas dari semua bentuk perbudakan. Perdagangan anak-anak
merusak kebutuhan dasar seorang anak untuk tumbuh dalam lingkungan
yang aman dan merusak hak anak untuk bebas dari kekerasan dan
eksploitasi seksual.
|
Fakta
mengenai Pariwisata Seks Anak
Eksploitasi
seks komersial terhadap anak-anak mempengaruhi jutaan anak
setiap tahunnya di banyak negara . Salah satu bentuk dari
eksploitasi ini adalah fenomena yang terus meningkat mengenai
Pariwisata Seks Anak (CST – Child Sex Tourism). Orang
yang melakukan perjalanan dari negaranya ke negara lain untuk
melakukan seks komersial dengan seorang anak berarti melakukan
CST. Kejahatan semakin meningkat didukung oleh pelaksanaan hukum
yang lemah, Internet, kesenangan perjalanan dan kemiskinan.
Para
turis yang terlibat dengan CST biasanya melakukan perjalanan
dari negara asal mereka ke negara-negara berkembang. Turis-turis
seks dari Jepang misalnya, melakukan perjalanan ke Thailand, dan
yang dari Amerika cenderung melakukan perjalanan ke Meksiko atau
Amerika Tengah. “Para Pelaku Kekejaman Situasional” ini
tidak dengan sengaja melakukan perjalanan untuk mencari seks
dengan seorang anak tetapi mengambil keuntungan dari anak-anak
secara seksual begitu mereka berada di suatu negara. “Para
Pelaku Kekejaman Seks Yang Menyukai Anak-anak” atau fedofilia
melakukan perjalanan untuk maksud mengeksploitasi anak-anak.
Sebagai
jawaban dari fenomena pertumbuhan CST, organisasi antar
pemerintah, industri pariwisata dan pemerintah telah
membicarakan masalah tersebut. Kongres Dunia Melawan Eksploitasi
Seksual Komersial yang diadakan di Stockholm dan Yokohama pada
tahun 1996 dan 2001, menggambarkan perhatian internasional yang
signifikan pada masalah tersebut. Organisasi Pariwisata Dunia
membuat sebuah gugus tugas untuk memerangi CST dan
menyebarluaskan Kitab Undang-undang Dunia mengenai Tingkah Laku
untuk Pariwisata pada tahun 1999. Selama lima tahun terakhir,
terdapat peningkatan di dunia internasional dalam hal pengajuan
tuntutan atas pelanggaran pariwisata seks. Saat ini, 32 negara
memiliki undang-undang ekstrateritorial yang mengijinkan
penuntutan warga negara mereka untuk kejahatan yang dilakukan di
luar negeri, tanpa memperhatikan apakah pelanggaran tersebut
dapat dikenakan hukuman di negara dimana kejahatan itu terjadi
atau tidak.
Beberapa
negara telah mengambil langkah-langkah yang patut dihargai untuk
melawan pariwisata seks anak. Misalnya, Kementrian Pendidikan
Perancis bersama dengan perwakilan industri perjalanan membuat
garis-garis besar mengenai CST untuk kurikulum sekolah
pariwisata, dan Maskapai udara milik negara Perancis juga
mengalokasikan bagian dari keuntungan penjualan mainan saat
penerbangan untuk mendanai program-program kesadaran masyarakat
terhadap CST. Brazil meluncurkan
kampanye kesadaran nasional dan internasional mengenai
pariwisata seks. Itali mengharuskan para penyelenggara tur untuk
memberikan informasi yang berkenaan dengan undang-undang ekstra
teritorialnya mengenai pelanggaran seks anak, dan hampir setiap
penyelenggara tur Swedia telah menandatangani sebuah kitab
undang-undang perilaku yang menyetujui pemberian pendidikan
kepada para staf mengenai CST. Kamboja membentuk unit-unit
kepolisian yang terfokus untuk memerangi pariwisata seks anak
dan telah menahan dan mengekstradisi fedofilia asing. Jepang
menuntut warga negaranya yang tertangkap melakukan seks dengan
anak-anak di negara lain.
Amerika
Serikat memperkuat kemampuannya untuk memerangi pariwisata seks
anak tahun lalu melalui bagian dari Undang-undang Reotorisasi
Perlindungan Korban Perdagangan dan Undang-undang PERLINDUNGAN.
Bersama-sama, undang-undang ini meningkatkan kesadaran melalui
pengembangan dan penyebaran informasi mengenai CST serta
meningkatkan hukuman penjara hinga 30 tahun untuk pariwisata
seks anak. Dalam delapan bulan pertama “Predator Operasi” (suatu
prakarsa untuk memerangi eksploitasi anak, pornografi anak, dan
pariwisata seks anak 2003), pihak berwenang hukum AS menahan 25
warga Amerika yang melakukan pelanggaran pariwisata seks anak.
Secara keseluruhan, komunitas dunia dibangunkan oleh masalah
yang mengerikan mengenai pariwisata seks anak dan mulai
mengambil langkah-langkah awal yang penting.
|
|
Pernyataan
Presiden George W. Bush
Kutipan
Pidato untuk Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa
Perserikatan Bangsa-bangsa – New York, New York
23
September 2003
Ada
krisis kemanusiaan lain yang sedang menyebar namun tersembunyi
dari pandangan. Setiap tahun, …… manusia dibeli, dijual dan
dipaksa menyeberangi perbatasan dunia. Di antara mereka adalah
ratusan dari sekian ribu gadis belasan tahun, dan yang lainnya
berusia lima tahun yang menjadi korban perdagangan seks.
Perdagangan Manusia ini menghasilkan jutaan dollar setiap
tahunnya --- sebagian besar digunakan untuk mendanai kejahatan
terorganisir.
Terdapat
kejahatan khusus dalam penyalahgunaan dan eksploitasi sebagian
besar korban yang tidak berdosa dan rentan. Para korban
perdagangan sek tersebut baru sedikit sekali melihat dunia
sebelum mereka menemui kehidupan yang sangat buruk, yaitu
kebrutalan dan ketakutan. Mereka yang melahirkan korban-korban ini dan yang mengambil keuntungan
dari penderitaan mereka , harus dihukum dengan berat. Mereka
yang menjadi pelanggan industri ini merendahkan derajat mereka
sendiri dan memperdalam penderitaan orang lain. Dan pemerintah
yang mentolerir perdagangan ini berarti mentolerir suatu bentuk
perbudakan.
Masalah
ini muncul di negara saya sendiri, dan kami sedang bekerja untuk
menghentikannya. Undang-undang PERLINDUNGAN,
yang saya tanda tangani
tahun ini, menetapkan
bahwa siapapun yang
memasuki Amerika Serikat, atau
warga negara A.S manapun yang melakukan perjalanan ke
luar negeri untuk tujuan pariwisata seks yang melibatkan
anak-anak, sebagai kejahatan. Departemen Kehakiman secara aktif
tengah menyelidiki penyelenggara dan pelanggan tur seks yang
dapat dikenakan hukuman 30 tahun penjara. Di bawah Undang-undang
Perlindungan Korban Perdagangan Manusia, Amerika Serikat
memberikan sanksi-sanksi kepada pemerintahan yang
meremehkan Perdagangan Manusia.
Para
korban industri ini juga perlu membantu anggota Perserikatan
bangsa-bangsa. Dan ini dimulai dengan standar-standar dan
kepastian hukuman yang jelas di bawah undang-undang setiap
negara. Saat ini, beberapa bangsa menjadikan penyalahgunaan
seksual pada anak-anak di luar negeri sebagai kejahatan.
Tindakan tersebut seharusnya merupakan kejahatan bagi semua
bangsa. Pemerintah harus memberitahukan para pelaku perjalanan
mengenai dampak dari industri ini dan hukuman berat yang akan
dijatuhkan pada pelanggannya. Pemerintah Amerika menyediakan $50
juta untuk mendukung program organisasi-organisasi yang
menyelamatkan para wanita dan anak-anak dari eksploitasi, dan
memberikan mereka tempat singgah dan perawatan medis serta
harapan akan kehidupan baru. Saya mendesak para pemerintah untuk
melakukan bagian mereka.
Kita
harus memperlihatkan semangat baru dalam memerangi kembali
kejahatan lama. Hampir dua abad setelah penghapusan perdagangan
budak antar benua, dan lebih dari satu abad setelah perbudakan
secara resmi diakhiri, perdagangan manusia untuk tujuan apapun
tidak boleh dibiarkan tumbuh subur di masa kita.
|
Perdagangan Manusia Meningkatkan
Kerusakan Sosial. Hilangnya jaringan dukungan keluarga dan
masyarakat membuat korban perdagangan sangat rentah terhadap ancaman
dan keinginan para pelaku perdagangan, dan dalam beberapa cara
menimbulkan kerusakan pada struktur-struktur sosial. Perdagangan
merenggut anak secara paksa dari orang tua dan keluarga mereka,
menghalangi pengasuhan dan perkembangan moral mereka. Perdagangan
mengganggu jalan pengetahuan dan nilai-nilai budaya dari orang tua
kepada anaknya dan dari generasi ke generasi, yang membangun pilar
utama masyarakat. Keuntungan dari perdagangan seringkali membuatnya
mengakar di masyarakat-masyarakat tertentu, yang kemudian
dieksploitasi secara berulang-ulang sebagai sumber yang siap menjadi
korban. Bahaya menjadi korban perdagangan
seringkali membuat kelompok yang rentan seperti anak-anak dan
perempuan muda bersembunyi dengan dampak merugikan bagi
pendidikan dan struktur keluarga mereka. Hilangnya pendidikan
mengurangi kesempatan ekonomis masa depan para korban dan meningkatkan
kerentanan mereka untuk diperdagangkan di masa mendatang. Para korban
yang kembali kepada komunitas mereka seringkali menemui diri mereka
ternoda dan terbuang/terasing, dan membutuhkan pelayanan sosial secara
terus menerus. Mereka
juga berkemungkinan besar menjadi terlibat dalam tindak kejahatan
serta menunjukkan perilaku yang kejam.
|
Kisah
korban Perdagangan Manusia ini direvisi pada tanggal 20 Juni
2004 (teks seperti yang dikeluarkan untuk Kongres).
Noi
datang dari masyarakat miskin di pedalaman Thailand. Di usianya
yang ke-15, sambil mencoba lari dari perkosaan dan kekejaman
seksual dari keluarga angkatnya, ia menemui seorang agen tenaga
kerja asing di Bangkok yang memasang iklan mengenai pekerjaan
sebagai pelayan yang dibayar dengan baik di Jepang. Ia terbang
ke Jepang dan kemudian mengetahui bahwa dia telah memasuki
Jepang dengan visa turis dengan identitas palsu. Sejak
kedatangannya di Jepang, dia dibawa ke sebuah bar karaoke yang
pemiliknya memperkosanya, memaksanya melakukan pengetesan darah
dan kemudian membawanya. “Saya merasa seperti sepotong daging
yang sedang diperiksa,” ia bercerita. Nyonya pemilik rumah
pelacuran mengatakan kepada Noi bahwa dia harus melunasi hutang
sebesar 10,000 ribu Dolar AS untuk mengganti uang perjalanannya.
Ia diperingatkan bahwa gadis-gadis yang mencoba melarikan diri
akan dibawa kembali oleh mafia Jepang, dipukuli dengan keras,
dan hutangnya akan dilipatgandakan. Satu-satunya cara untuk
melunasi hutang adalah dengan menemui banyak pelanggan secepat
mungkin. Beberapa pelanggan memukuli gadis-gadis tersebut dengan
tongkat, ikat pinggang dan rantai, mereka dipukuli hingga
berdarah. Jika para korban kembali sambil menangis, mereka
dipukuli oleh sang nyonya dan mengatakan kepada mereka bahwa
mereka telah membuat gusar pelanggan. Para pekerja seks secara
rutin menggunakan obat-obatan sebelum melakukan hubungan seks
“sehingga kami tidak terlalu merasakan sakit”. Sebagian
besar pelanggan menolak menggunakan kondom. Para korban
diberikan pil untuk menghindari kehamilan dan jika terjadi
kehamilan akan digugurkan dengan aborsi di rumah. Para korban
yang berhasil membayar hutang mereka dan bekerja secara mandiri
seringkali ditangkap polisi, didenda, dipenjara, dan diperkosa
sebelum dideportasi. Noi akhirnya berhasil melarikan diri dengan
bantuan seorang LSM Jepang.
|
Perdagangan
Manusia mendanai Kejahatan Terorganisir.
Keuntungan-keuntungan dari Perdagangan Manusia menjadi sumber dana
bagi kegiatan kriminal lainnya. Menurut PBB, Perdagangan Manusia
adalah perusahaan kriminal terbesar ketiga tingkat dunia yang
menghasilkan sekitar 9.5 juta USD dalam pajak tahunan menurut
masyarakat intelijen AS. Perdagangan Manusia juga merupakan salah satu
perusahaan kriminal yang paling menguntungkan dan sangat terkait
dengan pencucian uang (money laundering), perdagangan narkoba,
pemalsuan dokumen, dan penyelundupan manusia. Bahkan keterkaitannya
dengan terorisme juga telah didokumentasikan. Dimana kejahatan
terorganisir tumbuh subur, pemerintah dan peranan hukum justru melemah.
Perdagangan
manusia menghilangkan Sumber Daya Manusia Banyak Negara.
Perdagangan manusia memiliki dampak negatif pada pasar tenaga kerja,
yang menimbulkan hilangnya sumber-sumber daya manusia yang tidak dapat
diperoleh kembali. Beberapa dampak perdagangan manusia mencakup upah
yang kecil, hanya sedikit
individu yang tersisa untuk merawat
orang tua yang jumlahnya semakin meningkat, dan generasi yang
terbelakang dalam hal pendidikan. Dampak-dampak ini selanjutnya
mengakibatkan hilangnya produktifitas dan kekuatan pendapatan di masa
mendatang. Memaksa anak-anak untuk bekerja 10 hingga 18 jam per hari
di usia-usia awal menghalangi mereka mendapat pendidikan dan
memperkuat putaran kemiskinan dan buta huruf yang memperlambat
perkembangan nasional.
|
Penyalahgunaan
Visa “Artis” atau “Penghibur”
Di
banyak negara, visa artis atau penghibur didapatkan untuk
mempermudah pergerakan dan eksploitasi para korban perdagangan.
Ribuan wanita diberikan visa sementara dengan harapan
mendapatkan pekerjaan yang sah dalam industri hiburan (entertainment)
dan penerimaan tamu. Visa-visa tersebut biasanya diberikan
dengan adanya kontrak kerja atau penawaran perjanjian oleh
seorang pemilik klub, adanya bukti sumber keuangan, dan/atau
hasil pemeriksaan medis. Agen-agen tenaga, yang kerja sering
kali diberikan ijin di bawah undang-undang negara asal dan
negara tujuannya, memainkan peranan kunci dalam melakukan
penipuan dan perekrutan wanita-wanita ini. Sejak tibanya mereka
di tempat tujuan, paspor dan dokumen perjalana para korban
dirampas dan mereka dipaksa memasuki situasi pengeksploitasian
seksual atau perbudakan. Karena tinggal terlalu lama dan
melanggar jangka berlakunya visa,
para korban dipaksa oleh orang-orang yang mengeksploitasi
mereka dengan ancaman akan
menyerahkan mereka ke pihak berwenang keimigrasian.
Pemerintah
negara-negara yang mengeluarkan visa jenis ini dalam jumlah
besar, seperti (tetapi bukan berarti terbatas pada) Swiss,
Slovenia, Siprus, dan jepang, harus mengetahui bahwa para pelaku
perdagangan sangat memanfaatkan mekanisme ini. Misalnya, telah
dilaporkan bahwa Jepang mengeluarkan 55.000 visa penghibur
kepada para wanita dari Filipina pada tahun 2003, banyak dari
mereka dicurigai telah menjadi korban Perdagangan Manusia.
Pihak-pihak berwenang harus memeriksa dengan teliti persyaratan
untuk mengeluarkan jenis visa ini dan menerapkan prosedur
penyaringan khususnya untuk pemohon dan sponsor.
Kampanye-kampanye kesadaran harus dilaksanakan di negara-negara
asal supaya para
pemohon visa hiburan waspada pada
janji-janji yang
digunakan oleh para pelaku untuk memikat para wanita
memasuki eksploitasi tenaga kerja dan memaksa mereka melakukan
pelacuran.
|
|
Bagaimana
Pelacuran (Prostitusi) Mendorong Meningkatnya Perdagangan
Manusia
Penelitian
akademis, penelitian LSM dan penelitian ilmiah
menegaskan hubungan (link) langsung antara
prostitusi dengan perdagangan manusia . Pada kenyataannya,
prostitusi dan kegiatan terkaitnya, termasuk penggermoan,
pencaloan, dan berlangganan atau memelihara rumah pelacuran,
memberikan sumbangan bagi Perdagangan Manusia dengan bertindak
sebagai barisan terdepan bagi tindakan-tindakan eksploitatif
yang dilakukan oleh para pelaku perdagangan. . Pemerintah Swedia mengungkapkan bahwa keuntungan
besar yang didapat dari
industri prostitusi global langsung masuk ke dalam dompet para
pelaku perdagangan. . Organisasi Internasional untuk Migrasi
memperkirakan bahwa setiap tahunnya, 500.000 wanita dijual (diperjualbelikan)
ke pasar-pasar prostitusi lokal di Eropa.
Dari
600.000 – 800.000 orang yang diperjualbelikan menyeberangi
batas internasional setiap tahunnya, 70 persennya adalah wanita
dan 50 persennya adalah anak-anak. Mayoritas dari wanita-wanita
tersebut adalah wanita yang menjadi sasaran perdaganagn seks
komersial.
|
|
Kisah
Tanya: “Teman saya mengatur agar saya mendapat sebuah
pekerjaan di Mesir. Kami melakukan perjalanan bersama dari
Chisinau ke Moskow dimana saya menaiki sebuah pesawat menuju
Mesir. Saat saya tiba di bandara Mesir, saya ditemani seorang
pria untuk berjalan melalui bagian pajak dan imigrasi.
Orang-orang menanti saya dan mereka membawa saya ke hotel
berbintang lima. Saya menyerahkan paspor saya di bagian
penerimaan hotel dan tidak pernah melihatnya lagi. Mereka
memasukkan saya ke sebuah mobil dan membawa saya dalam jangka
waktu yang sangat lama. Kami pergi ke sebuah tempat dimana
terdapat orang-orang Badui [Semenanjung Sinai Mesir] dan
orang-orang Badui tersebut membawa saya pergi melewati padang
pasir. Di tempat tersebut, saya mendengar tembakan senjata dan
saya pikir seorang gadis terbunuh. Mereka membunuh kamu atau
memukul kamu jika mereka tidak menyukai tingka laku kamu. Kami
harus berjalan berjam-jam dan melewati padang pasir dimana di
sana terdapat banyak ranjau. Mereka menunjukkan ranjau-ranjau
tersebut kepada kami di tanah. Kami hampir tidak makan dan berat
badan saya turun hingga 10 kilogram pada saat saya tiba di
Israel. Pada saat keluar dari padang pasir, kami dibawa ke
sebuah kota di Israel dimana orang-orang Badui menyiapkan kami
untuk dijual. Banyak gadis dibawa dalam perjalanan bersama saya,
dan semua gadis pergi ke Israel melalui
jalur dan situasi yang sama.”
***********************
Nasreen
adalah seorang gadis Tajik yang bekerja di Moskow. Majikannya
meminta ia menjadi gundiknya, dengan menjanjikan uang, rumah,
sebuah mobil, dan hidup yang lebih baik. Nasreen setuju dengan
rencana ini. Satu hari, seorang tamu rumah menawarkan kesempatan
bekerja di Turki kepada Nasreen. Tekanan dari majikannya membuat
Nasreen menerima tawaran tersebut. Nasreen ditipu, dan
diperdagangkan ke Israel untuk menjadi seorang pekerja seks.
Dengan bantuan seorang wartawan yang menaruh perhatian padanya,
Nasreen dapat melarikan diri dan kembali ke rumahnya.
|
Perdagangan
Manusia merusak Kesehatan Masyarakat.
Para korban perdagangan
seringkali mengalami kondisi yang kejam yang mengakibatkan
trauma fisik, seksual dan psikologis. Infeksi-infeksi yang ditularkan
melalui hubungan seksual, penyakit inflammatori pelvic, dan HIV/AIDS
seringkali merupakan akibat dari prostitusi yang dipaksakan.
Kegelisahan, insomnia, depresi dan penyakit pasca traumatis stres
adalah wujud psikologis umum di antara para korban. Kondisi hidup yang
tidak sehat dan sesak, ditambah makanan yang miskin nutrisi, membuat
korban dengan mudah mengalami kondisi kesehatan yang sangat merugikan
seperti kudis, TBC, dan penyakit menular lainnya. Anak-anak menderita
masalah pertumbuhan dan perkembangan dan menanggung derita psikologi
kompleks dan syaraf akibat kekurangan makanan dan hak-haknya serta
mengalami trauma.
Kekejaman
yang paling buruk seringkali ditanggung oleh anak-anak yang lebih
mudah dikendalikan dan dipaksa menjadi pelayan rumah, dilibatkan dalam
konflik bersenjata, dan bentuk lain pekerjaan. Anak-anak dapat menjadi
sasaran eksploitasi yang progresif, misalnya dijual beberapa kali dan
menjadi sasaran pertunjukan kekerasan fisik, seksual dan mental.
Kekerasan ini memperumit rehabilitasi psikologis dan fisik mereka dan
membahayakan reintegrasi mereka.
Perdagangan
manusia menumbangkan wibawa pemerintah.
Banyak pemerintah
yang berjuang untuk melaksanakan kendali penuh atas teritori nasional
mereka, khususnya dimana korupsi merupakan hal yang umum.
Konflik-konflik bersenjata, bencana alam, dan perjuangan politik serta
etnis seringkali menciptakan populasi besar orang-orang yang telantar.
Para pelaku Perdagangan
Manusia lebih lanjut merusak usaha-usaha pemerintah untuk menggunakan
wewenangnya, mengancam keamanan penduduk yang rentan. Banyak
pemerintah tidak dapat melindungi wanita dan anak-anak yang diculik
dari rumah dan sekolah mereka atau dari kamp penampungan. Selain itu,
uang suap yang dibayarkan oleh para pelaku perdagangan
menghalangi kemampuan pemerintah untuk memerangi korupsi yang
dilakukan diantara para petugas
penegak hukum, pejabat imigrasi, dan pejabat pengadilan.
Perdagangan
Manusia Memakan Biaya Ekonomi Yang Sangat besar. Ada
manfaat ekonomis besar sekali yang akan diperoleh dengan terhapusnya
perdagangan manusia. Organisasi Buruh Internasional (ILO –
International Labor Organization) baru-baru ini menyelesaikan
sebuah studi mengenai biaya dan keuntungan dari penghapusan
bentuk-bentuk terburuk kerja paksa pada anak-anak – yang definisinya
meliputi perdagangan anak. ILO menyimpulkan bahwa perolehan ekonomis
dari penghapusan bentuk-bentuk terburuk kerja paksa pada anak-anak
sangat besar (puluhan jutaan dolar pertahun) karena pertambahan
kapasitas produktifitas pada generasi tenaga kerja masa mendatang akan
diperoleh dari peningkatan pendidikan dan kesehatan masyarakat yang
membaik. Dampak sosial dan kemanusiaan dari perdagangan manusia
seringkali mencerminkan bentuk-bentuk terburuk kerja paksa pada
anak-anak tersebut.
|
Fakta-fakta
mengenai Prajurit Anak-anak
Menjadikan
anak-anak sebagai prajurit adalah gambaran yang unik dan kejam
dari Perdagangan Manusia. Puluhan dari ribuan anak-anak di bawah
usia 18 tahun telah dikenakan wajib militer untuk konflik
bersenjata, mengabdi pada pasukan pemerintah, wajib militer
bersenjata, dan kelompok-kelompok pemberontak. Beberapa anak
diculik dan dipaksa untuk mengabdi sebagai pasukan; yang lain
bergabung karena ancaman,
sogokan, dan janji-janji palsu mengenai kompensasi.
Dalam
banyak kasus, sambil mengharapkan mendapat makanan, pakaian, dan
tempat singgah, keputusan seorang anak untuk bergabung dengan
sebuah kelompok bersenjata tidak bisa dianggap sebagai pilihan
bebas. Anak-anak yang ditangkap dalam konflik bersenjata dengan
putus asa mencari sarana untuk bertahan hidup. Karena belum
dewasa secara emosional dan fisik, anak-anak dengan mudah
dimanipulasi dan dipaksa dengan menggunakan kekerasan. Banyak
prajurit anak-anak yang dipaksa menggunakan alkohol atau
narkotika sebagai cara untuk mengurangi kepekaan mereka terhadap
kekerasan atau untuk meningkatkan kinerja mereka.
Anak-anak
yang yang secara paksa diikutsertakan dalam wajib militer
biasanya tidak cukup mendapat pelatihan, diperlakukan secara
kasar, dan dengan cepat dilibatkan dalam pertempuran. Anak
laki-laki dan perempuan dikirim ke pertempuran atau lahan
tambang mendahului pasukan yang lebih tua. Beberapa orang anak
telah digunakan untuk misi bunuh diri atau dipaksa untuk
melakukan kekejaman terhadap keluarga atau masyarakat mereka.
Lainnya, termasuk beberapa dari 15.000 yang terlibat dalam
konflik Liberia akhir-akhir ini, sebagian besar gadis secara
seksual diperlakukan dengan kejam, dan beresiko tinggi tertular
penyakit seksual dan kehamilan yang tidak diinginkan.
Prajurit
anak-anak lain yang dibunuh dan terluka jumlahnya jauh lebih
tinggi daripada saudara mereka yang lebih tua. Beberapa kelompok
bersenjata diketahui sebagai wamil anak-anak “baru” menoreh
luka di wajah atau dada dengan pisau atau pecahan kaca. Yang
bertahan seringkali menderita trauma berlipat ganda dan secara
psikologi takut terhadap kekerasan dan kebrutalan yang mereka
alami. Perkembangan mereka sebagai seorang manusia seringkali
tidak dapat diperbaiki kembali. Keluarga dan masyarakat asal
mereka seringkali menolak banyak mantan prajurit anak-anak yang
mencoba untuk kembali disebabkan oleh kekerasan yang mereka atau
kelompok mereka timbulkan pada masyarakat tersebut.
Pemanfaatan
anak-anak pada perang orang dewasa adalah fenomena global.
Masalah tersebut merupakan hal yang paling penting di Afrika dan
Asia, tetapi kelompok-kelompok bersenjata diAmerika, eurasiam
dan Timur Tengah juga memanfaatkan anak-anak. Terjadi kegagalan
keinginan politik di antara banyak negara untuk melaksanakan
hukum dan kewajiban internasional yang mencegah atau melarang
penggunaan prajurit anak-anak. Semua bangsa harus bekerja sama
dengan organisasi internasional dan LSM untuk mengambil tindakan
mendesak untuk melucuti senjata, mendemobilisasikan dan
mereintegrasikan prajurit anak-anak.
|
|
Apakah
Perbedaan Antara Perdagangan Manusia Dengan Penyelundupan
Manusia?
Perbedaan
antara penyelundupan manusia dengan Perdagangan Manusia bisa
membingungkan. Kebingungan ini bisa menyulitkan dalam
mendapatkan informasi yang akurat, khususnya dari negara-negara
transit. Perdagangan manusia seringkali, tapi tidak selalu,
melibatkan penyelundupan; korban pada awalnya setuju untuk
diangkut di dalam sebuah negara atau melintasi perbatasan. Yang
membedakan antara dua kegiatan seringkali memerlukan informasi
yang terinci mengenai keadaan akhir para korban.
Penyelundupan
pada umumnya dipahami sebagai pengadaan atau pengangkutan
manusia untuk mendapatkan keuntungan untuk masuk secara ilegal
ke dalam sebuah negara. Tetapi menyediakan fasilitas untuk masuk
atau melintasi sebuah negara secara ilegal, secara tersendiri,
bukanlah perdagangan manusia, walaupun seringkali dilaksanakan
dalam keadaan yang berbahaya. Penyelundupan seringkali
melibatkan para migran yang telah setuju dengan kegiatan
tersebut. Sementara itu, perdagangan manusia, bisa tanpa
persetujuan mereka atau kalaupun korban pada awalnya sudah
memberi persetujuan, persetujuan mereka telah ditiadakan karena
pemaksaan, penipuan, atau tidakan kejam dari pada pelaku
perdagangan. Korban perdagangan manusia seringkali tidak
menyadari bahwa mereka akan dipaksa melakukan prostitusi atau
mengalami situasi kerja paksa yang bersifat eksploitasi. Karena
itu, penyelundupan bisa menjadi perdagangan ilegal. Komponen
kunci yang membedakan perdagangan dengan penyelundupan adalah
unsur kecurangan, penipuan, atau pemaksaan.
Tidak
seperti penyelundupan, perdagangan manusia dapat terjadi baik
korban dipindahkan di dalam negeri atau ke luar negeri. Menurut TVPA, tidak penting apakah korban telah diangkut ke
suatu situasi eksploitasi untuk suatu bentuk perdagangan manusia
keji terjadi atau tidak. Sudah cukup untuk menjelaskan bahwa
seseorang adalah korban Jika dia direkrut, ditampung, disediakan,
atau diperoleh “untuk bekerja atau melayani secara paksa,
melalui penggunaan kecurangan, penipuan atau pemaksaan untuk
tujuan-tujuan penghambaan, peonasi,
penjeratan hutang (ijon), atau perbudakan.”
|
Bagaimana
Para Pelaku Perdagangan beroperasi?
(barsambung ke bagian II)
|