Website Resmi Kedutaan  Besar Amerika Serikat di Jakarta, Indonesia


 

SIARAN PERS
KEDUBES AMERIKA SERIKAT

 

PUBLIC AFFAIRS SECTION


Konferensi Pers oleh

Delegasi Amerika Serikat

Bersama

Dr. Harlan L. Watson

Juru Runding Senior Masalah Perikliman dan Perwakilan Khusus dan

Wakil Ketua Delagasi AS

Konferensi ke-13 Para Pihak

Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim

Bali, Indonesia
6 Desember 2007


English 

Selamat Siang. Saya ingin memulai konferensi pers siang ini dengan mengacu kepada lembar fakta yang telah kami sebarluaskan di sini di Bali yang menguraikan bagaimana Amerika Serikat bekerjasama dengan Pemerintah Indonesia berupaya mengatasi masalah perubahan iklim, keamanan energi, dan pembangunan yang bersih

Program-program yang disorot dalam lembar fakta ini adalah contoh bagaimana Amerika Serikat – melalui Badan Pembangunan Internasional Pemerintah AS (USAID), Badan Perlindungan Lingkungan Hidup AS, Departemen Energi AS, Departemen Pertanian AS, dan Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA), serta badan-badan lainnya – melakukan upaya bilateral dengan negara-negara di dunia menghadapi tantangan global perubahan iklim. Saya ingin menggarisbawahi bahwa LSM dan sektor swasta memainkan peran kunci dalam merancang dan melaksanakan program-program bilateral ini.  

Saya ingin menambahkan sebuah hal penting dalam lembar fakta yang ada di tangan Anda dan memberitahukan kepada Anda bahwa perbincangan bilateral tengah dimulai dengan perjanjian pengalihan utang untuk pelestarian alam (debt-for-nature agreement) dengan Pemerintah Indonesia di bawah Undang-Undang Pelestarian Hutan Tropis (Tropical Forest Conservation Act). Amerika Serikat telah mengalokasikan dana sebesar 19,6 juta dolar AS untuk negosiasi ini. 

Informasi terbaru tentang keterlibatan kami dengan Indonesia merupakan contoh tentang bagaimana Amerika Serikat bekerjasama dengan negara-negara berkembang yang menjadi mitra dalam berbagai kegiatan yang dirancang untuk lebih memahami iklim dan implikasinya terhadap pembangunan dan untuk membentuk daya tahan terhadap perubahan iklim yang serba tidak menentu. Kegiatan-kegiatan ini meliputi analisis data yang diperoleh dari pengamatan terhadap bumi, mengembangkan perangkat-perangkat pendukung keputusan, dan mengintegrasikan informasi mengenai iklim ke dalam program-program dan proyek-proyek pembangunan. 

Semua kegiatan ini membantu negara-negara dalam membangun kapasitas kelembagaan yang lebih kuat dan perekonomian yang lebih fleksibel dan kokoh yang memiliki kemampuan menghadapi tantangan maupun peluang yang muncul seiring dengan kondisi iklim yang berubah. 

Tata kelola pemerintahan yang baik, pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan, perlindungan terhadap lingkungan, dan pengentasan kemiskinan berjalan beriringan.  Masyarakat yang dipimpin secara baik sejatinya lebih kokoh dan mampu beradaptasi pada segala bentuk kondisi ekonomi, sosial maupun lingkungan yang selalu berubah.  Cara terbaik mengatasi perbedaan dan perubahan iklim adalah melalui pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan yang berlangsung dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan bagi generasi yang akan datang. 

Tujuan utama adaptasi adalah membangun masyarakat dan perekonomian yang fleksibel dan kokoh. Sebuah perekonomian yang terdiversifikasi, kuat, dan terbuka akan lebih tahan terhadap berbagai macam gangguan, termasuk yang berhubungan dengan iklim.  Kemajuan terbesar akan dapat dijamin melalui serangkaian strategi yang secara bersama-sama meningkatkan keamanan energi, mengentaskan kemiskinan, mengurangi polusi udara yang berbahaya, serta mengurangi gas rumah kaca. 

Kembali pada keterlibatan kami dengan Indonesia sebagai sebuah contoh betapa AS melakukan upaya bilateral untuk mengusung isu adaptasi, saya ingin menyebutkan dua kegiatan lain yang didanai oleh NOAA dan dijalankan melalui sebuah kesepakatan kerjasama tahunan senilai 9 juta dolar AS antara NOAA dan Universitas Columbia untuk penelitian iklim dan kegiatan-kegiatan adaptasi terapan lainnya di seluruh dunia: 

·        Di daerah penghasil utama beras di Indonesia, Indramayu, dimana curah hujan yang sangat bervariasi berdampak pada sumber penghasilan hidup, Lembaga Riset Internasional Untuk Iklim dan Masyarakat (International Research Institute for Climate and Society/IRI) bermitra dengan Departemen Pertanian, BMG, ahli pertanian pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan (stakeholders) lain di daerah, menyiapkan informasi tentang iklim dan perangkat pembuat keputusan untuk mengatur jadwal pengairan irigasi, tersedianya kredit pinjaman, dan membantu membimbing petani mengambil keputusan dalam mengelola risiko iklim.  

·        IRI juga bekerja dengan kantor wilayah propinsi di Indonesia, CARE Indonesia, dan pemangku kepentingan lain yang terlibat dalam menghadapi kerawanan pangan di Nusa Tengarra Timur, di mana dibutuhkan bantuan yang cukup besar untuk mencegah meluasnya kekurangan gizi pada masa curah hujan rendah. 

Perubahan iklim adalah isu jangka panjang yang serius yang memerlukan tindakan yang berkesinambungan dari generasi ke generasi baik oleh negara maju maupun negara berkembang. Pengembangan dan penggunaan teknologi inovatif yang lebih bersih dan lebih efisien merupakan kunci untuk mengatasi tantangan iklim kita. 

Akhirnya, saya ingin menyatakan bahwa proses di Negara-Negara Ekonomi Utama yang diprakarsai oleh Presiden Bush bertujuan untuk memperkuat kerjasama internasional, dan secara khusus untuk mengembangkan dan menerapkan teknologi energi yang bersifat transformasional. Tuan rumah konferensi ini, Indonesia, adalah salah satu dari 16 Negara Ekonomi Utama yang telah bergabung untuk ikut serta dalam proses ini.  

Terima kasih dan saya persilakan Anda untuk mengajukan pertanyaan.

 ###

 

 

 

Home Page Kedutaan AS
Pusat Informasi Kedutaan AS | Informasi Visa | American Citizen Services

Ke atas | Umpan balik

Link ke situs Internet yang bukan milik pemerintah Amerika bukan berarti bahwa pemerintah Amerika menyetujui sudut pandang organisasi tersebut.