MANOKWARI, Papua: Badan Perikanan dan Margasatwa Amerika Serikat (U.S.
Fish and Wildlife Service) memberikan hibah senilai 40.000 dolar
untuk membantu mendanai sebuah program yang dilaksanakan oleh
Laboratorium Kelautan Universitas Negeri Papua di Manokwari guna
mempelajari dan melindungi Penyu Belimbing Pasifik yang terancam punah.
Hibah ini akan mendanai riset untuk mengawasi kondisi peneluran penyu
dan produksi tukik (anak penyu), mengevaluasi berbagai ancaman, serta
melibatkan masyarakat lokal dalam upaya melestarikan dan melindungi
spesies ini.
Laboratorium Kelautan ini bekerjasama dengan World Wildlife Fund (WWF),
Badan Konservasi Alam dan Departemen Kehutanan di Papua, serta Badan
Kelautan dan Atmosfer Nasional A.S. (U.S. National Oceanic and
Atmospheric Administration/NOAA) untuk mempelajari penyu-penyu ini
dan melindungi dua dari beberapa lokasi peneluran penyu terbesar yang
tersisa di Semenanjung Kepala Burung di Papua.
Penyu Belimbing Pasifik adalah penyu terbesar yang masih hidup di bumi
dan telah bertahan hidup selama jutaan tahun. Di saat penyu-penyu laut
ini bermigrasi menyeberangi Lautan Pasifik, sebagian besar bertelur di
sejumlah lokasi peneluran khusus yang tersebar di wilayah Asia
Tenggara. Populasi spesies ini turun hingga 90% dalam beberapa tahun
terakhir akibat punahnya habitat mereka serta perburuan, yang
menjadikan Penyu Belimbing Pasifik salah satu binatang yang terancam
punah di dunia. Pantai Jamursba Medi dan Wermon di Papua termasuk
diantara lokasi-lokasi peneluran terakhir yang menjanjikan bagi Penyu
Belimbing di wilayah ini.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai upaya-upaya untuk melindungi
Penyu Belimbing Pasifik, silakan hubungi Dr. RF Tapilatu dari
Laboratorium Kelautan Universitas Negeri Papua (www.unipa.ac.id).
Foto:
(Foto oleh Prof. RF. Tapilatu,
Laboratorium Kelautan Universitas Negeri Papua)
* * *