Tabel 1: Lingkup Pasokan Air dan Layanan Sanitasi di Negara-negara Berkembang |
||||||||
| PENDUDUK ( JUTA) |
|
|||||||
| Jumlah | Tanpa pasok air | Tanpa sanitasi | Jumlah | Tanpa pasok air | Tanpa sanitasi | |||
Kota |
933 |
213 (23%) |
292 (31%) |
1.332 |
243 (18%) |
377 (28%) |
||
Desa |
2.303 |
1.613 (70%) |
1.442 (63%) |
2.659 |
989 (37%) |
1.364 (51%) |
||
| Sumber: Hasil-hasil Dasawarsa Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Internasional (1981-1990). Laporan No. A/45/327 UNESCO, Juli 1990, dengan beberapa ralat kecil menurut Kinley, David berjudul "Running Just to Stay in Place", dalam Choice, Volume 2, No. 4, Desember 1993. | ||||||||
Di sejumlah negara,
terjadinya tanah kubangan dan penggaraman tanah telah
menghilangkan produktivitas tanah pertanian beririgasi
seluas lahan yang dibuka oleh proyek-proyek irigasi pada
tahun-tahun akhir ini.
Di Mesir, suatu negara
dengan ekonomi langka tanah, hampir separo dari tanah
yang dibudidayakan terutama di bagian barat delta Sungai
Nil mempunyai tinggkat penggaraman yang demikian tinggi
sehingga berdampak pada produksi tani, menurunkan hasil,
dan mengarah pada penelantaran lahan irigasi, baik
sementara maupun selamanya.
Suatu perkiraan di
Meksiko, hilangnya panen yang disebabkan oleh penggaraman
tanah mencapai 1 juta ton panen bahan makan, suatu jumlah
yang cukup untuk mencatu kebutuhan pokok makanan untuk 5
juta orang.
Industri sesungguhnya menggunakan air jauh labih sedikit apabila dibandingkan dengan irigasi, namun dampaknya mungkin parah, dipandang dari dua segi. Pertama, penggunaan air bagi industri sering tidak diatur dalam kebijakan sumber daya air nasional, maka cenderung berlebihan. Kedua, pembuangan limbah industri yang tidak diolah dapat menyebabkan air permukaan atau air bawah tanah menjadi terlalu berbahaya untuk dikonsumsi.
Penggunaan air bagi industri seringkali juga sangat tidak efisien. Karena tidak dapat memasok kebutuhan industri melalui sistem yang dikelola oleh pemerintah daerah, dan karena dorongan yang menggebu untuk pertumbuhan ekonomi, perusahaan industri mengembangkan sendiri jaringan airnya secara swasta. Biaya air semacam ini seringkali sangat rendah, dan karena biaya tersebut hanya merupakan bagian kecil dari seluruh biaya manufaktur, maka mereka tidak merasa terdorong untuk mengadakan konservasi. Sebagai contoh di Bangkok, Thailand, yang sangat menderita akibat penghisapan air bawah tanah yang berlebihan, biaya yang harus dikeluarkan air dari perusahaan air metropolitan berlipat delapan kali dari biaya yang diperlukan untuk memompa air tanah secara swasta.
Banyaknya air yang diperlukan untuk manufaktur dapat sangat berbeda-beda, tergantung pada proses industri yang diterapkan dan ukuran daur ulangnya. Memproduksi satu ton baja dapat saja menghabiskan sampai 190.000 liter air atau hanya 4.750 liter, dan satu ton kertas dapat menghabiskan sampai 340.000 liter atau hanya 57.000 liter. Pengaturan yang tepat untuk penyedotan air dan pengenaan biaya yang benar untuk air tersebut akan dapat mendorong orang untuk menggunakannya secara lebih efisien tanpa harus mempengaruhi biaya produksi secara mencolok. Biaya penggunaan air, bahkan di negara-negara yang tarifnya pun sudah sesuai dengan biaya menyeluruh pemeliharaan sumber, biasanya hanya merupakan bagian yang sangat kecil (1% sampai 3%) dari biaya produksi industri.
| Tabel 2: Kemungkinan Pembatasan Penyakit Melalui Pasokan Air dan Sanitasi | ||
| Jenis penyakit | Perkiraan banyaknya kasustiap tahun di negara-negara berkembang (kecuali cina) | Kemungkinan penyusutan lewat peningkatan pasokan air dan sanitasi |
| Diare (murus) | 875 juta |
225 juta (26%) |
| Cacing gelang (askaris) | 900 juta |
260 juta (26%) |
| Cacing guinea | 4 juta |
3 juta (78%) |
| Cacing tambang | 800 juta |
615 juta (77%) |
| Trakoma | 500 juta |
135 juta (27%) |
| Karena
keterbatasan data, semua angka di atas mengacu
kepada kasus sakit, bukan kematian. Lagi pula
hendaknya dicatat bahwa tindakan yang diambil
dapat mengurangi kasus kematian tetapi bukan
kasus sakit. Sumber: Berdasar tulisan Esrey, Steven A., dkk, "Manfaat Kesehatan dari Perbaikan dalam Pasokan Air dan Sanitasi. Laporan Teknik No. 66 Pasokan Air dan Sanitasi Arlington, Virginia: Proyek Air dan Sanitasi untuk Kesehatan, Juli 1990. |
||
Bahkan di industri-industri yang "padat air" jumlah air yang dipakai sangat kecil biasanya 20% pada industri pengolahan pangan, 25% pada industri kertas, dan 33% pada tekstil. Sisanya didaur-ulang (kecenderungan ini semakin meningkat di negara-negara industri) atau dikeluarkan sebagai limbah cair. Penentuan tarif yang lebih realistik, meskipun penting untuk sektor ini, tetap saja tidak merupakan dorongan untuk penggunaan yang lebih efisien. Yang lebih penting adalah pengetatan alokasi air dan persyaratan pengendalian pencemaran yang lebih keras. Contohnya seperti Israel yang memiliki peraturan standar penggunaan air untuk berbagai macam industri, dan memberi alokasi pembagian air yang disesuaikan. Sebagai hasilnya, di negara itu rata-rata penggunaan air per unit produksi industri anjlok hingga 70% selama dua dekade ini.
Air buangan industri sering dibuang tanpa melalui proses pengolahan apapun. Air tersebut dibuang langsung ke sungai dan saluran-saluran, mencemarinya, dan pada akhirnya juga mencemari lingkungan laut, atau kadang-kadang buangan tersebut dibiarkan saja meresap ke dalam sumber air tanah. Kerusakan yang diakibatkan oleh buangan ini sudah melewati proporsi volumenya. Banyak bahan kimia modern begitu kuat sehingga sedikit kontaminasi saja sudah cukup membuat air dalam volume yang sangat besar tidak dapat digunakan untuk minum tanpa proses pengolahan khusus.
Cara menolongnya adalah pencegahan bukan penyembuhan. Seperti laporan dari Bank Dunia dan Bank Investasi Eropa berjudul Pencemaran Industri di Kawasan Laut Tengah: "Perbaikan pada efisiensi dalam pengoperasian dan pemulihan sumber air jauh lebih baik dan kemungkinan besar akan memberikan hasil yang lebih banyak daripada pengolahan pada akhir proses yang mahal, sebab banyak masalah pencemaran berkaitan langsung dengan masalah-masalah pengoperasian dan pemeliharaan, serta rendahnya niat untuk konservasi dan pemulihan sumber air".
Penilaian terhadap masalah lingkungan di kawasan Laut Tengah yang dilaksanakan oleh kedua organisasi tersebut menemukan bahwa pengolahan primer terhadap limbah industri hanya akan menghabiskan biaya sebesar 10% hingga 20% dari biaya pengolahan secara lengkap, namun dapat membuang 50 hingga 90 persen bahan-bahan polutan yang paling berbahaya. Penyusutan buangan limbah industri yang efektif, termasuk pengolahan primer, mungkin akan lebih berdampak lebih baik terhadap lingkungan daripada mengutamakan cara pengolahan lengkap terhadap limbah perkotaan yang volumenya jauh lebih kecil.
Tabel 3: Perkiraan Modal
untuk Penyediaan Pemasok Air Baru dan |
|||||
| Th. 1900, jumlah penduduk yang terlayani (juta) | Th. 2000, jumlah penduduk (juta) | Tambahan jumlah penduduk yang akan dilayani (juta) | Perkiraan biaya per unit dalam dolar tiap orang | Jumlah keseluruhan biaya dalm juta dolar | |
| Pasokan air perkotaan | 1.089 | 1.900 | 811 | 1300 | 105.000 |
| Pembuangan limbah air |
955 | 1.900 | 945 | 350 | 331.000 |
| Jumlah | 436.000 | ||||
| *) Angka-angka yang
disajikan di sini lebih kecil dari jumlah
sesungguhnya yang diperlukan untuk membangun dan
mempertahankan biaya universal. Karena pada masa
lampau penekanan dipusatkan pada membangun yang
baru, banyak sistem yang sekarang tidak
beroperasi lagi atau rusak berat dan memerlukan
rehabilitasi, yang tentunya menambah beban berat
terhadap kebutuhan finansial. Perkiraan di atas
juga tidak memasukkan investasi besar yang
diperlukan untuk keperluan perlindungan. Sumber: Data penduduk dari hasil-hasil selama Dasawara Pasokan Air Minum dan Sanitasi 1981-1990. Laporan No. A/45/327, Dewan Ekonomi dan Sosial PBB, Juli 1990. Biaya satuan per kapita diperoleh dari evaluasi dan laporan proyek Bank Dunia. Perkiraan ini mengandaikan adanya sistem saluran air minum dan pembuangan terpusat yang penuh dalam rumah tangga. Angka-angka ini baru merupakan petunjuk dan hendaknya tidak dipakai untuk memperkirakan biaya untuk suatu wilayah tertentu. |
|||||
Untuk memusatkan kepedulian pada jeleknya tingkat
layanan di sektor air, PBB menjuluki tahun 1980-an
sebagai "Dasawarsa Penyediaan Air Minum dan Sanitasi
Internasional". Ada beberapa peningkatan yang cukup
nyata terutama dalam layanan penyediaan air kepada
orang-orang miskin, tetapi pencapaian tersebut apabila
dipandang dari segi lingkungan, idak sedramatik seperti
yang diharapkan. Seperti ditunjukkan dalam Tabel 1,
sampai akhir dasawarsa tersebut, meskipun ada banyak
peningkatan jumlah orang yang dilayani, namun
ternyata jumlah orang di perkotaan yang tidak terlayani
juga meningkat.
Kiranya pantas dicatat bahwa statistik yang dipaparkan pada Tabel 1 tersebut hampir dapat dipastikan terlalu optimistik. Misalnya, statistik tersebut tidak mengungkapkan mutu layanan yang mungkin saja rendah dan dapat mengancam lingkungan dan kesehatan masyarakat. Sangat sering statistik itu mengasumsikan bahwa sekali dibentuk, sebuah sistem akan terus bekerja dengan baik, padahal keadaan sesungguhnya tidak selalu demikian.
Masalahnya bukan hanya karena tidak cukup persediaan air; air yang ada itu pun tidak dikelola secara layak atau dibagikan secara merata.
Bagian air yang hilang
karena kebocoran terlalu besar. Dengan menengok kembali
pengalaman selama bertahun-tahun, Bank Dunia menemukan
bahwa "air yang tidak tertagih" rata-rata
mencapai 35% dari keseluruhan pasokan (air yang tak
tertagih = UFW/ unaccounted-for water, yaitu air yang
diproduksi tetapi tidak menghasilkan uang karena
kebocoran atau "kerugian administratif").
Menaikkan penjualan air dari 65% ke, katakan 85%, akan
berarti penghematan 30% terhadap keadaan sekarang.
Sering sebagian besar air
yang tersedia hanya digunakan oleh sejumlah kecil
konsumen besar. Dalam suatu kota, 15% sambungan bermeter
dapat menghasilkan 85% pemasukan uang dari konsumsi air.
Enam persen peringkat atas dari seluruh rumah tangga
mengkonsumsi lebih dari 30% seluruh konsumsi domestik,
0,1% dari atas menggunakan lebih dari 6%. Bahkan hanya 3
rangkaian industri saja membayar separo dari jumlah
keseluruhan konsumsi industri.
Para pengguna tersebut
membayar terlalu rendah untuk layanan. Biaya rata-rata
untuk produksi air oleh proyek pemasok yang dibiayai oleh
Bank Dunia dalam masa 1966-81 adalah $ 1,29 untuk setiap
1.000 galon (+ 3.800 l). Harga rata-rata untuk
setiap 1.000 galon kira-kira $ 0,69. Karena tingkat
rata-rata air yang tidak menghasilkan uang mencapai
hingga 35% maka harga efektif setiap 1.000 galon menjadi
hanya $ 0,45, atau kira-kira hanya 1/3 biaya
memproduksinya.
Kelompok orang lain
terpaksa menggunakan alternatif yang mahal. Dale
Whittington dan rekan-rekannya mencatat dalam tulisan
yang berjudul Penyajian Air dan Pembangunan: Pelajaran
dari Dua Negara, "Rumah tangga yang membeli air
dari para penjaja membayar dua kali hingga enam kali dari
rata-rata yang dibayar bulanan oleh mereka yang mempunyai
sambungan saluran pribadi untuk volume air yang hanya
sepersepuluhnya."
Karena masalah-masalah tersebut maka para pengusaha air di beberapa negara berkembang hidupnya sangat pas-pasan. Tarif yang dikendalikan secara politis biasanya terlalu rendah untuk menutup biaya produksi; namun demikian banyak tagihan rekening air tetap tidak terbayar, sehingga usaha perawatan untuk pencegahan tidak terpedulikan. Oleh karena itu banyak kota yang berputar semacam lingkaran: Perbaikan yang paling utama ditunda hingga sistem jaringannya mencapai ambang kerusakan, tepat pada waktu itu dimulailah babak baru suatu proyek penanaman modal yang besar. Pada gilirannya, karena desakan dari tuntutan layanan, hal tersebut akan menyebabkan pemerintah kota terjebak dalam masa depan yang tak menentu.
Dalam hal demikian, biasanya mereka lebih mudah memperoleh dana untuk membangun sistem penyediaan baru, yang secara politis sangat gampang dilihat, daripada mencari dana untuk memperbaiki barang-barang yang mendekati kebobrokan. Pemusatan perhatian pada perluasan pasokan dan tidak adanya kebijakan nasional yang mengharuskan pengalokasian air lebih efisien, mengarah pada keparahan penyedotan yang berlebihan terhadap jaringan lapisan sumber air bawah tanah di banyak negara, diiringi dengan akibat yang serius yang sebenarnya sudah dapat diperkirakan sebelumnya yaitu kelangkaan air, permukaan air yang jatuh di bawah saluran pompa penyedot, dan air garam yang terserap ke dalam jaringan lapisan sumber air dan menyebabkan air tak dapat dimanfaatkan untuk minum atau irigasi.
Di beberapa tempat di
negara bagian Tamil Nadu di India bagian selatan yang
tidak memiliki hukum yang mengatur pemasangan penyedotan
sumur pipa atau yang membatasi penyedotan air tanah,
permukaan air tanah anjlok 24 hingga 30 meter selama
tahun 1970-an sebagai akibat dari tak terkendalikannya
pemompaan atau pengairan.
Pada suatu konperensi
yang diselenggarakan baru-baru ini, seorang wakil dari
suatu negara yang kering melaporkan bahwa 240.000 sumur
pribadi yang dibor tanpa mengindahkan kapasitas jaringan
sumber air mengakibatkan kekeringan dan peningkatan kadar
garam.
Penyia-nyiaan sumber air semacam ini tidak terbatas hanya pada negara-negara berkembang saja; eksploitasi yang berlebihan terhadap sumber-sumber juga merupakan masalah yang serius di banyak derah di Amerika Serikat. Seperlima dari seluruh tanah irigasi di AS tergantung hanya pada jaringan sumber air (Aquifer) Agallala yang hampir tak pernah menerima pasok secara alami. Selama 4 dasawarsa terakhir, sistem jaringan yang tergantung pada sumber ini meluas dari 2 juta hektar menjadi 8 juta, dan kira-kira 500 kilometer kubik air telah tersedot. Jaringan sumber ini sekarang sudah setengah kering kerontang di bawah sejumlah negara bagian.
Sumber-sumber air juga mengalami kemerosotan mutu. Di samping pencemaran dari limbah industri dan limbah perkotaan yang tidak diolah, sumber-sumber tersebut juga mengalami pengotoran berat dari sisa-sisa dari lahan pertanian. Misalnya, di bagian barat AS, sungai Colorado bagian bawah sekarang ini demikian tinggi kadar garamnya sebagai akibat dari dampak arus balik irigasi sehingga di Meksiko sudah tidak bermanfaat lagi, dan sekarang AS terpaksa membangun suatu proyek besar untuk memurnikan air garam di Yuma, Arizona, guna meningkatkan mutu sungainya.
Situasi di wilayah perkotaan jauh lebih jelek daripada di daerah sumber. Banyak rumah tangga yang terlayani terpaksa merawat WC dengan cara seadanya karena langkanya air, dan tanki septik membludak karena layanan pengurasan tidak dapat diandalkan, atau hanya dengan menggunakan cara-cara lain yang sama-sama tidak tuntas dan tidak sehat. Bahkan andaikan hal ini tidak mengakibatkan masalah dari para penggunanya sendiri, tetap juga sering berbahaya terhadap orang lain dan merupakan ancaman bagi lingkungan, sebab limbah mereka lepas tanpa proses pengolahan.
Itulah masalah-masalah para penerima layanan. Namun, kira-kira 30% penduduk perkotaan harus menerima keadaan bahwa mereka tidak memiliki perangkat sanitasi yang memadai. Hal ini berarti bahwa dalam suatu kota berpenduduk 10 juta orang, setiap hari ada kira-kira 750 ton limbah manusia yang tak tertampung dan menumpuk di sembarang tempat -mungkin 250.000 ton zat-zat penyebab penyakit tersebar di jalan-jalan dan di tempat-tempat umum, atau di saluran-saluran air.
MWRA (The Boston
Metropolitan Water Resources Authority) - badan
yang mengurusi masalah sumber daya air di Boston
- didirikan pada tahun 1985 untuk memberikan
layanan air dan pembuangan limbah skala besar di
kota metropolitan Boston untuk 2,5 juta orang dan
lebih dari 5.000 pemakai industrial dan
komersial. Pada saat itu rata-rata penggunaan air
adalah 330 juta gallon perhari (mgd), atau 10% di
atas perkiraan produksi yang aman sejumlah 300
mgd. (1 galon sama dengan 3.8 liter). Pada
kenyataannya, daerah itu telah melampaui
produksinya selama hampir 20 tahun. Program tersebut
meliputi hal-hal berikut:
|
|
Perpaduan antara jangkauan yang tidak memadai, layanan yang jelek dan pengolahan air limbah yang kurang layak mengakibatkan terjadinya kondisi hidup yang mengerikan. Di jalan-jalan dan tempat-tempat umum berceceran limbah manusia, saluran air mengangkut cairan limbah rumah tangga, dan pasokan air ledeng mengalir tidak teratur, sehingga limbah cair rumah tangga meresap ke dalam pipa pada saat tekanan airnya melemah. Dampaknya, terutama terhadap anak-anak, sangat mengerikan. Meskipun orang tampak sehat, mereka tidak akan seproduktif seperti selayaknya karena gangguan parasit pada usus. Keuntungan yang dapat diharapkan dari penyediaan air dan sanitasi yang lebih baik sangat tinggi, seperti yang dapat dilihat pada Tabel 2.
Tentunya biaya ekonomi untuk penyakit yang tidak dapat dihindari sangat tinggi, tetapi sukar untuk diperkirakan. Kerusakan sistem juga akan berdampak pada biaya lain-lain bagi para konsumen. Diperkirakan di Jakarta, Indonesia, 20 hingga 30 juta dolar dibelanjakan setiap tahun hanya untuk merebus air supaya aman untuk dikonsumsi. Andaikan jumlah uang ini digunakan untuk meningkatkan mutu penyediaan air, sangat diyakini akan membuahkan hasil yang sangat berarti untuk jangka waktu lama.
Tabel 3 memaparkan ancar-ancar perkiraan biaya untuk pengadaan layanan secara konvensional hanya kepada mereka yang tidak terlayani pada saat ini. Investasi untuk sektor air dan sanitasi selama tahun 80-an mungkin rata-rata mencapai 10 ribu juta dolar setiap tahun. Apabila investasi ini berlangsung dengan laju yang sama untuk tahun berikutnya, maka angka-angka pada tabel 3 akan menuntut kebutuhan untuk investasi kira-kira sebesar 67 ribu dolar setiap tahun untuk 5 tahun berikutnya hanya untuk mempertahankan cadangan layanan, tanpa menyembuhkan kerusakan-kerusakan di masa lalu.
Apabila dikelola dengan manajemen yang tepat air merupakan komoditas yang mengagumkan murahnya. Di Amerika Serikat, negara yang pada umumnya memberikan tingkat layanan yang tinggi, orang-pun masih tetap mengeluh tentang rekening air dan layanan pembuangan limbah air. Tetapi keluhan tersebut mungkin tidak mengaitkan masalah antara jasa yang mereka terima dengan uang yang mereka bayarkan, atau tanpa membandingkan harga layanan ini dengan komoditas lain. Di wilayah yang dilayani oleh Komisi Sanitasi Wilayah Kota (Wahington, D.C., dan daerah pinggirannya), suatu instansi yang terkenal paling mahal harga layanannya, biaya untuk pasokan air bagi rumah tangga sedang adalah $ 2,51 untuk 3.800 liter sepadan dengan hanya $ 0,60 dolar per ton. Sedangkan pembuangan dan pengolahan limbah cair hanya $ 0,90 per ton.
Hanya ada satu kesimpulan yang dapat ditarik dari pengalaman di seluruh dunia dalam sektor ini: Melanjutkan "urusan berjalan seperti biasa" sudah tidak lagi dapat diterima. Beruntunglah bahwa penekanan yang mantap pada pentingnya penyediaan air dan sanitasi selama dasawarsa terakhir ini telah berhikmah bagi kita dengan contoh-contoh yang sangat berharga tentang pendekatan-pendekatan yang telah membuahkan hasil; sekarang pendekatan-pendekatan ini perlu penerapan yang lebih luas.
![]() |
Seri
Makalah Hijau Redaktur: Rick Marshall, Kathleen E. Hug Penerjemah: Tim Penerjemah IKIP Malang |
|
Home Page Kedutaan AS
Pusat
Informasi Kedutaan AS | Informasi
Visa | American
Citizen Services
Link ke situs Internet yang bukan milik pemerintah Amerika bukan berarti bahwa pemerintah Amerika menyetujui sudut pandang organisasi tersebut.
Home page ini dibuat dan dipelihara oleh Pusat Informasi Kedutaan Amerika, pusat informasi terlengkap untuk kebijakan luar negeri Amerika, dengan akses ke sumber-sumber informasi cetak dan elektronik yang sangat beraneka ragam.