Sistem yang menggunakan gulma air rumput, sebagaimana penyeimbang konvensional, bergantung pada serangkaian proses pengolahan untuk memperoleh luapan yang berkualitas tinggi. Setelah disaring (dan dibuang kerikilnya, jika perlu) limbah diolah awal secara sederhana (biasanya di kolam yang tidak dipakai untuk memproduksi rumput bebek) dan dialirkan ke kolam rumput bebek atau ke beberapa saluran dangkal yang berbelok-belok tempat gulma tumbuh yang ukurannya cukup fleksibel. Dari sana rumput bebek dipindah ke kolam ikan berukuran kecil sehingga mudah dikuras atau dipompa. Hasil dari budidaya yang intensif bisa sangat mengagumkan - sampai 20 ton ikan per acre per tahun. (1 acre sebanding dengan 0,4046 hektar). Hasil yang sedang saja (tiga sampai empat ton per acre per tahun) sudah bisa memberikan sumber protein dan pemasukan yang tidak kecil bagi masyarakat lokal. Di Bangladesh, hasil permulaan menunjukkan bahwa gulma bisa diproduksi lebih kurang 0,5 ton per acre per hari (berat basah) yang kemudian bisa menghasilkan 45 kg makanan kering berprotein tinggi, atau menopang produksi ikan sebesar kira-kira 58 kg per acre per hari. Tebing-tebing di antara saluran kolam gulma bisa dimanfaatkan untuk menanam tanaman yang menghasilkan uang seperti pohon miju (lentil) atau pisang. Secara keseluruhan sistem tersebut bisa memberikan hasil yang besar. Rumput bebek juga bisa dikeringkan untuk makanan ayam. Di Peru, dengan mengganti sampai 40% makanan ayam dari toko dengan gulma rumput bebek, ayam petelur bisa terjaga produksi telurnya dan menghasilkan warna kuning telur lebih baik yang merupakan faktor jual yang penting. Namun, ini mungkin merupakan cara pemanfaatan rumput bebek yang kurang efisien, dan pengeringan gulma mungkin bisa menimbulkan masalah di banyak kelompok masyarakat dan cuaca. |
Pada semua kasus, air yang keluar dari kolam telah diolah sepenuhnya dan cocok untuk dilepas menjadi sumber air atau irigasi. Pada kenyataannya, air tersebut seringkali lebih bersih daripada air "segar" di daerah tersebut. Kemampuan gulma untuk bertahan di lingkungan yang buruk mengisyaratkan adanya manfaat potensial lainnya, meskipun ini belum diuji di lapangan. Misalnya, gulma bisa mengumpulkan sisa-sisa logam di limbah industri sehingga bisa menghasilkan air yang cocok untuk dilepaskan menjadi aliran air atau irigasi; dan mungkin pada saat yang sama bisa memberikan pemecahan ekonomis untuk memulihkan sumber-sumber daya berharga yang kalau tidak ditangani akan bisa mencemari lingkungan. Demikian juga, oleh karena gulma tumbuh subur dalam air yang agak asin, maka rumput bebek potensial digunakan untuk mengolah air yang berkadar garam tinggi, membersihkan air tanah sebelum digunakan untuk irigasi atau air minum, membersihkan saluran drainase irigisi sebelum digunakan kembali, atau mungkin mengubah lahan irigasi yang terlantar yang telah menurun produksinya karena perembesan air garam menjadi sistim budidaya air atau rumput bebek yang bisa memberikan pemasukan uang yang tinggi. |
Pilihan-pilihan yang
lebih baik dalam proses industri. Kemungkinan untuk
penghematan yang sangat besar dengan memerintahkan
industri untuk menggunakan proses yang hemat air dan
memanfaatkan daur ulang telah dikemukakan di depan.
Pengawasan yang lebih ketat terhadap penyedotan air oleh
industri (termasuk membebani industri dengan biaya yang
realistis untuk penggunaan sumber-sumber daya ini) juga
menghindari timbulnya masalah seperti yang dilaporkan
ini: dihadapkan pada undang-undang yang mengharuskan
limbah untuk mengandung lebih sedikit kosentrasi pencemar
tertentu, industri-industri menemukan cara untuk
menghemat dengan cara menambahkan air bersih pada limbah
mereka supaya lebih encer dan bukannya berusaha untuk
mengurangi jumlah kandungan pencemar.
Konservasi. Meskipun
menyediakan air adalah industri yang menghasilkan dan
menjual produk, pada umumnya industri ini kehilangan 1/3
dari produksinya sebelum sampai pada konsumen. Di
beberapa kota, lebih dari separo air hilang. Kehilangan
yang tinggi ini membuat sulit atau tidak mungkin
menciptakan kondisi penyediaan air yang memuaskan karena
menyediakan lebih banyak air atau menambah tekanan pada
sistem yang bobrok hanya menyebabkan luapan dan kebocoran
yang lebih besar.
Program konservasi biasanya harus terdiri atas kegiatan-kegiatan yang dirancang untuk saling melengkapi. Di beberapa negara berkembang, dengan sistem lama yang kondisinya menyedihkan, prioritas pertama harus ditujukan pada pengurangan air yang terbuang.
Hal ini biasanya merupakan prasyarat untuk menciptakan kondisi penyediaan air yang lebih baik, dan sampai kondisi ini mulai membaik konsumen sering enggan untuk turut serta dalam bagian-bagian lain program ini.
Kampanye pengurangan UFW biasanya tidak mahal dibandingkan dengan biaya untuk menyelamatkan air. Kampanye ini memiliki periode pembayaran kembali yang pendek bahkan pada tingkat tarif sekarang ini, dan akan lebih menarik lagi jika dibandingkan dengan biaya mencari sumber air baru.
Di negara-negara berkembang yang layanan penyediaan airnya mungkin secara bergilir manfaat penting dari pengurangan UFW ini adalah bahwa hal ini memungkinkan pemulihan layanan 24 jam. Hal ini juga memiliki dampak kesehatan langsung dan menghindarkan polusi air minum yang disebabkan oleh kebocoran saluran limbah yang masuk ke pipa-pipa pada saat pipa-pipa tersebut tidak penuh. Air juga bisa dihemat sebab masyarakat tidak merasa harus mengisi setiap wadah di rumah mereka pada jam-jam penyediaan untuk berjaga-jaga kalau saat aliran air berikutnya mungkin tertunda atau hilang. Meteran juga bisa digunakan dan lebih awet. Dalam kondisi bergilir meteran bisa menjadi sangat tidak akurat karena adanya udara mampat yang melewati pipa pada saat pipa terisi lagi. Selain itu pipa pun bisa rusak karena kekeringan. Pengawasan sistem dan deteksi kebocoran yang ajeg juga jauh lebih sederhana begitu sistem itu diisi air dan sistem ini tidak membutuhkan peralatan yang canggih.
Langkah kedua ialah mengharuskan digunakannya peralatan yang menggunakan air dengan desain yang lebih efisien. Desain yang lama menggunakan lebih banyak air. Toilet, pancuran, dan kran hemat air buatan lokal harus merupakan satu-satunya yang tersedia di pasaran, dan insentif sebaiknya diberikan kepada mereka yang memodifikasi barang-barang desain lama supaya bisa digunakan lagi.
Sebelum ini, Amerika Serikat tertinggal dalam hal konservasi dibandingkan Eropa. Tapi sekarang Amerika sedang meluncurkan program-program semacam itu dalam jumlah besar dengan hasil yang mengagumkan. Sebagai contoh, di tahun 1988, San Simeon, California, memulai program modifikasi barang-barang desain lama untuk membuat toilet volume rendah (low-volume flush toilet/LVFT) dan ujung pancuran hemat air. Dimulai dari tempat-tempat yang banyak menggunakan air, misalnya sekolah, hotel, rumah sakit, dan pom bensin, ternyata volume air mubazir yang bisa dihemat mencapai 25%. Perluasan program ini ke daerah pemukiman dan pembatasan penggunaan air untuk menyiram tanaman di musim panas mengurangi penggunaan air secara keseluruhan dan air yang terbuang hingga 50%. Akibat lain ialah pulihnya jaringan sumber air tanah yang sebelumnya terkuras habis. Yang paling hebat adalah berkurangnya ongkos pemanasan air dengan sendirinya cukup untuk membiayai semua program.
Demikian juga, sebuah studi pilot yang meneliti contoh-contoh rumah tangga, tempat usaha dan tempat umum di kota Meksiko menemukan bahwa melengkapi tempat-tempat tersebut dengan toilet dan ujung pancuran yang hemat air bisa mengurangi pemakaian air hingga separo. Selain itu, sistem penyaluran air juga diperbaiki dan program modifikasi barang-barang desain lama juga dilancarkan.
Di beberapa negara berkembang, kondisi penyediaan air sangat tidak menentu sehingga pembicaraan tentang peralatan hemat air menjadi tampak lucu. Namun, bahkan dalam kondisi demikian air yang terbuang masih bisa banyak. Rumah-rumah orang kaya menggunakan peralatan boros air, dan orang-orang miskin mencuci di bawah kran yang mengalir terus. Dalam kondisi demikian peralatan hemat air akan bermanfaat karena yang kaya akan menggunakan lebih sedikit air sementara standar yang mereka inginkan tetap terjaga; yang miskin akan bisa berbuat lebih banyak dengan persediaan yang terbatas.
Unsur ketiga program konservasi air ialah tarif yang dirancang dengan tepat. Pada prinsipnya ongkos air harus naik sesuai dengan meningkatnya jumlah pemakaian air, sehingga untuk keperluan pokok air tersedia dengan harga yang terjangkau, tetapi jumlah yang lebih besar (yang digunakan untuk kemewahan, seperti menyiram kebun, mencuci mobil, dan mengisi kolam renang) secara progresif harganya naik.
Seringkali pungutan air tidak didasarkan pada pemakaian yang sebenarnya, atau kalau didasarkan pada meteran biasanya dengan memakai tingkatan tetap atau mendatar (flat unit rate) atau bahkan menurun yang tidak merangsang konservasi. Namun selain hal itu, ada masalah-masalah serius lainnya yang juga harus dipecahkan, seperti bagaimana menyediakan layanan yang terjangkau untuk orang tak mampu (di mana banyak orang menggunakan satu saluran air bersama-sama sehingga timbul kesan yang keliru bahwa air dipakai secara berlebihan), atau bagaimana menjalankan program meteran yang akurat. Tetapi, masalah-masalah tersebut bisa diatasi.
Pendidikan dan peran serta konsumen adalah unsur keempat program konservasi yang sangat penting. Penggunaan air adalah jumlah keseluruhan dari berbagai kegiatan harian. Jadi mengubah sikap perilaku sangatlah penting terutama di tempat yang kondisi penyediaan airnya buruk atau peningkatan tarif airnya sedang diusulkan.
Teknologi Pengolahan
Air. Banyak negara berkembang tidak memiliki sumber
keuangan dan personil untuk memasang dan mengoperasikan
sistem pengolahan air yang rumit. Bahkan, negara-negara
maju pun membutuhkan teknologi yang sederhana dan tahan
lama untuk daerah-daerah yang belum begitu maju. Sekarang
ada kecenderungan ke arah penggunaan teknologi yang jauh
lebih sederhana dan bukannya penggunaan sistem
penyaringan rumit yang menggunakan berbagai bahan filter
dan kontrol otomatis. Sebagai contoh adalah filter
"laju menurun" (declining rate). Dalam
filter itu air yang masuk dibagi merata di antara
filter-filter dan tiap filter dicuci pada saat air di
dalamnya mulai menggenang yang menandakan adanya sumbatan
karena pasir atau bahan-bahan filter lainnya. Cara
sederhana lainnya ialah dengan menggunakan `pasir lambat'
(slow sand) yang awalnya diperkenalkan satu abad
yang lalu di Eropa. Filter ini memiliki tingkat
penyaringan yang rendah, tapi hampir tanpa bagian-bagian
yang bergerak. Penjernihan biologisnya terjadi pada
lapisan material yang terperangkap pada permukaan pasir.
Dan ini dibersihkan kalau material itu mulai menyumbat
filter.
Standar Pasokan Air.
Tata cara di banyak negara berkembang diwarisi dari
administrasi pemerintah kolonial sebelumnya. Walaupun
secara teknis bagus, aturan ini cenderung terasa
berlebihan karena awalnya dirancang untuk diterapkan pada
kondisi yang berbeda. Peninjauan kritis tentang standar
yang ada sekarang akan menunjukkan bahwa lebih banyak
lagi orang yang bisa dilayani dengan anggaran yang secara
keseluruhan sama.
Sekarang tersedia program-program komputer yang mempermudah perancang untuk mengkaji efek penetapan parameter yang lebih tepat terhadap masyarakat yang dilayani daripada mengadopsi kriteria yang diimpor. Program-program semacam itu sekarang diterapkan sebagai sesuatu yang rutin di sejumlah negara (India, Filipina, Indonesia, Cina, Burma, Srinlanka, Thailand, dan Pakistan). Program ini memungkinkan perencana untuk merancang jaringan distribusi hemat biaya yang bisa dijalankan hanya dengan biaya separuh biaya jaringan konvensional.
Sebuah studi kasus di Filipina, mungkin merupakan sesuatu yang khas dari 40 sistem yang diperbaiki oleh Administrasi Perusahaan Air Minum Lokal dengan dukungan Bank Dunia. Dilaporkan bahwa modifikasi barang-barang rancangan lama menghasilkan turunnya biaya per kapita dari $45 ke $25. Ini adalah penghematan sekitar 45%. Penghematan ini berasal dari penggunaan pipa berpenampang lebih kecil untuk aliran yang kecil, penurunan ketentuan tekanan minimum untuk gedung satu tingkat, dan dirancangnya kemungkin pelayanan campuran daripada mengasumsikan bahwa setiap orang akan mampu membiayai saluran mereka sendiri.
Peranan Masyarakat.
Tegucigalpa, Honduras, adalah contoh khas dari banyak
kasus keterlibatan komunitas yang lebih besar, yang sudah
waktunya untuk diakui selama dekade ini sebagai unsur
penting untuk ketahanan jangka panjang. Di daerah kota,
pendekatan-pendekatan serupa dalam rencana perbaikan kota
telah menghasilkan keterlibatan LSM dan kelompok-kelompok
masyarakat. Penerapan pendekatan tersebut pada sanitasi
dan penyediaan air telah membuahkan beragam rancangan
berskala besar atau eceran untuk penyediaan air bagi
masyarakat pemukim liar dan konsep menyeluruh tentang
keterlibatan kelompok masyarakat dalam perencanaan dan
konstruksi serta pengoperasian sistem air dan buangan.
Secara khusus, "tuntutan efektif" (effective demand) sebaiknya digunakan untuk menentukan tingkat layanan. Ini berarti bahwa masyarakat ditawari berbagai tingkat layanan dan bisa mendapatkan air sebanyak kemampuan membayarnya. Idealnya, hal ini bisa memungkinkan semua biaya layanan terbayar oleh mereka yang mendapat layanan , kecuali kalau ada keadaan sosial yang menuntut diberikannya subsidi.
Dan tentu saja, masyarakat bisa memilih pemecahan yang oleh perencana semula diperkirakan tidak akan populer. Di Filipina, penyediaan air yang bisa dijangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah sebenarnya dirancang akan diberikan melalui kran umum, meskipun sebenarnya air yang terbuang akan lebih sedikit seandainya orang-orang tersebut memiliki saluran sendiri. Namun, ternyata mereka justru lebih suka membayar semua biaya sambungan untuk saluran pribadi dan tidak bersedia untuk kran umum. Serupa dengan hal tersebut, di Cochabamba, Bolivia, para insinyur menemukan bahwa orang bersedia membayar lebih mahal untuk sambungan di halaman mereka daripada membayar untuk kran umum. Namun, dengan pelayanan yang sudah diperbaiki ini pun, mereka masih membayar 86% lebih rendah daripada seandainya mereka membayar ke pedagang keliling.
Contoh lain adalah masyarakat di Kumasi, Ghana. Kepada masyarakat ini diajukan pertanyaan: "Jika WC (yang dihubungkan ke sistem saluran pembuangan kotoran) dan lubang kakus yang diperbaiki dan diberi ventilasi (Kumasi Ventilated Improved Pit latrine/KVIP) membutuhkan biaya yang sama tiap bulan, maka manakah yang akan Anda pilih? Para perencana memperkirakan bahwa jika biayanya sama, mereka akan memilih WC. Tapi, ternyata hanya 54% yang memilih WC, sedangkan 45% memilih KVIP karena KVIP tidak menggunakan air sehingga akan tetap berfungsi seandainya sistem air rusak. Selain itu KVIP juga lebih sederhana namun lebih sulit untuk disalahgunakan. Penelitian seperti ini memiliki pengaruh penting terhadap perancangan proyek sanitasi.
Rancangan Tarif yang Lebih Baik dan
Mekanisme Pemulihan Biaya
Perusahaan-perusahaan air sering menggunakan biaya rata-rata atau biaya 'historis' sebagai dasar penentuan tarif air. Akibatnya, tarif yang mereka tentukan terlalu rendah karena dua hal. Yang pertama jelas: karena inflasi biaya sebenarnya telah meningkat sejak sistem dibangun. Sebab kedua yang agak rumit adalah: karena konsumsi air yang meningkat memaksa perusahaan untuk memperluas kapasitas produksi airnya, maka perusahaan harus mengembangkan sumber-sumber baru, dan tiap-tiap sumber itu secara progresif makin mahal dibandingkan sumber-sumber daya yang telah ada. Memang terpaksa demikian, kalau pemecahan yang makan biaya paling sedikit dipilih pada saat sumber-sumber itu sedang direncanakan. Dengan demikian perusahaan itu dihadapkan pada biaya marjinal dalam jangka panjang yang terus meningkat yang perlu dimasukkan ke dalam tarif supaya hal ini bisa mengurangi konsumsi berlebihan dan supaya bisa menunda kebutuhan untuk mengembangkan penyediaan tambahan yang baru dan mahal.
Besarnya kenaikan tarif mungkin akan mengagetkan para perencana. Penelitian Bank Dunia menemukan bahwa dalam hitungan yang sebenarnya (dengan nilai dolar tetap) biaya air per kubik meter untuk proyek yang disetujui pada tahun 1975 - 1981 besarnya tiga kali lipat proyek disetujui pada tahun 1966 - 1971. Mengulangi proyek di daerah perkotaan yang sama menunjukkan kecenderungan meningkatnya biaya perkubik meter lebih dari 200% antara proyek yang pertama dan kedua.
Pada tahun-tahun belakangan ini sudah ada kemajuan dalam pengubahan tarif yang mencerminkan biaya penyediaan air yang sesungguhnya tetapi yang juga tetap mempunyai tujuan sosial. Tarif-tarif ini menggunakan pembiayaan marjinal untuk mencerminkan biaya sumber daya yang sebenarnya, yang akan meningkat begitu konsumsi meningkat supaya orang tidak terangsang untuk boros air. Sementara itu ada juga tarif tingkat 'pertolongan' yang membantu orang-orang miskin supaya dapat menjangkau konsumsi minimum yang pokok.
Tarif seperti itu pada akhirnya harus memungkinkan perusahaan air untuk secara finansial bisa mencukupi dirinya sendiri, beroperasi dan merawat sistem-sistem mereka tanpa tergantung pada subsidi dari luar.
Penggunaan 'tuntutan efektif' dan kesadaran bahwa sistem yang berakar pada masyarakat memiliki kemungkinan lebih bagus untuk diterima dan dengan demikian juga meningkatkan pemulihan biaya telah membawa perubahan pula pada cara penagihan.
Di sebuah daerah miskin di Honduras, di musim kering air didapat dari sungai atau dari pedagang keliling tradisional dengan biaya 50 sen untuk 10 l air. Dengan mendirikan koperasi air dan membeli air dalam jumlah besar dari pemerintah kota, harga air dari kios sekitar turun menjadi 10 sen untuk 10 l air. Dua kepala rumah tangga perempuan yang mengelola kios dibayar dari uang yang masuk. Setiap tiga bulan sekali pengelola kios diganti, dengan demikian kesempatan mendapat kerja dapat dinikmati oleh beberapa keluarga.
Di sistem lain di Afrika yang juga dikelola masyarakat, pemakai membeli tanda dari plastik, dan setiap tanda plastik itu bisa ditukar dengan 25 l unit air di toko-toko sekitar kios. Tarif itu sama dengan tiga kali lipat jumlah yang dibayar perkumpulan tersebut ke bagian penyediaan air di kota. Kelebihan tersebut kemudian dipakai untuk membiayai pengoperasian dan perawatan, membayar kembali pinjaman untuk membangun, dan menambah jumlah kios. Proyek ini telah menghasilkan 20 pekerjaan penuh waktu dan mengurangi biaya air sebesar faktor 3 hingga 7 dibandingkan dengan kalau membeli dari pedagang keliling tradisional.
![]() |
Seri
Makalah Hijau Redaktur: Rick Marshall, Kathleen E. Hug Penerjemah: Tim Penerjemah IKIP Malang |
|
Home Page Kedutaan AS
Pusat
Informasi Kedutaan AS | Informasi
Visa | American
Citizen Services
Link ke situs Internet yang bukan milik pemerintah Amerika bukan berarti bahwa pemerintah Amerika menyetujui sudut pandang organisasi tersebut.
Home page ini dibuat dan dipelihara oleh Pusat Informasi Kedutaan Amerika, pusat informasi terlengkap untuk kebijakan luar negeri Amerika, dengan akses ke sumber-sumber informasi cetak dan elektronik yang sangat beraneka ragam.