|



Oleh Richard
Middleton
Daftar
Isi
*Ketersediaan dan Kelangkaan Air
*Penggunaan -- dan
Penyalahgunaan -- Sumber Air
Keuntungan-keuntungan
Konservasi di Boston, Massachusetts
*Bergerak ke Depan
Penyediaan Air
Alternatif yang dikelola oleh Masyarakat di
Tegucigalpa, Honduras
Sanitasi di
tempat (On-site Sanitation) untuk Abad ke-20: VIP dan
PF
*Contoh-contoh Praktis
Pengolahan
Limbah yang Menghasilkan: Budidaya Air dengan Rumput
Bebek
*Pengumpulan Sanitasi
*Kesimpulan
Daftar Pustaka
Kontak
Pengumpulan
Sanitasi
Hampir tiap orang mengetahui `masalah air'. Tapi
hampir tak seorangpun di luar sektor itu yang tahu bahwa
ada masalah sanitasi yang sama seriusnya dengan masalah
air yang telah mendapat publikasi lebih baik. Padahal,
terdapat hubungan yang erat antara masalah sanitasi dan
penyediaan air.
Kesehatan. Semua
penyakit yang berhubungan dengan air sebenarnya berkaitan
dengan pengumpulan dan pembuangan limbah manusia yang
tidak benar. Itulah sebabnya estimasi pengurangan
penyakit di tabel 2 menunjuk ke penyediaan air dan
sanitasi. Memperbaiki yang satu tanpa memperhatikan yang
lainnya sangatlah tidak efektif.
Penggunaan air. Toilet
siram desain lama membutuhkan 19 liter air dan bisa
memakan hingga 40% dari penggunaan air untuk kebutuhan
rumah tangga. Dengan jumlah penggunaan 190 liter air per
kepala per hari, mengganti toilet ini dengan unit baru
yang menggunakan hanya 0,7 liter per siraman bisa
menghemat 25% dari penggunaan air untuk rumah tangga
tanpa mengorbankan kenyamanan dan kesehatan. Sebaliknya,
memasang unit penyiraman yang memakai 19 liter air di
sebuah rumah tanpa WC bisa meningkatkan pemakaian air
hingga 70%. Jelas, hal ini tidak diharapkan di daerah
yang penyediaan airnya tidak mencukupi, dan hal tersebut
juga bisa menambah jumlah limbah yang akhirnya harus
dibuang dengan benar.
Biaya dan pemulihan biaya.
Biaya pengumpulan, pengolahan dan pembuangan limbah
meningkat dengan cepat begitu konsumsi meningkat.
Merencanakan hanya satu sisi penyediaan air tanpa
memperhitungkan biaya sanitasi akan menyebabkan kota
berhadapan dengan masalah lingkungan dan biaya tinggi
yang tak terantisipasi.
Pada tahun 1980, Bank Dunia melaporkan bahwa dengan
menggunakan praktek-praktek konvesional, untuk membuang
air dibutuhkan biaya lima sampai enam kali sebanyak biaya
penyediaan. Ini adalah untuk konsumsi sekitar 150 hingga
190 liter air per kepala per hari. Informasi lebih baru
dari Indonesia, Jepang, Malaysia dan A. S. menunjukkan
bahwa rasio meningkat tajam dengan meningkatnya konsumsi;
dari 1,3 berbanding 1 untuk 19 liter per kepala per hari
menjadi 7 berbanding 1 untuk konsumsi 190 liter dan 18
berbanding 1 untuk konsumsi 760 liter.
Perlu diperhatikan pula bahwa pungutan untuk saluran
pembuangan limbah biasanya jauh lebih rendah dari pada
pungutan air, padahal biaya pembuangan limbah lebih
tinggi.
Juga, perusahaan-perusahaan air berhasil melakukan
kontrol atas tingkatan pungutan dan bisa memberikan
sangsi (seperti menghentikan layanan) apabila pungutan
tak dibayar. Sementara itu, pungutan pembuangan limbah di
banyak negara hanyalah sebagian kecil dari pendapatan
umum pajak kota yang tidak hanya terlalu kecil tapi juga
tidak ditarik; atau, kalaupun ditarik, dialihkan pada
bagian operasi kota lainnya.
Penggunaan ulang air.
Jika sumber daya air tidak mencukupi, air limbah
merupakan sumber penyediaan yang menarik, dan akan
dipakai baik resmi disetujui atau tidak. Karena itu
peningkatan penyediaan air cenderung mengakibatkan
peningkataan penggunaan air limbah, diolah atau tidak.
Masalah yang harus dipertimbangkan oleh perencana adalah
mereka juga harus memperhatikan sumber-sumber daya
tersebut supaya penggunaan ulang ini tidak merusak
kesehatan masyarakat.
Dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut, banyak
perhatian telah diberikan pada pembuatan sistem sanitasi
yang tahan lama, hemat air, bisa diterima oleh
orang-orang yang akan memakainya, dan memungkinkan
penggunaan kembali limbah yang telah diolah. Pengembangan
sanitasi yang paling penting dalam dekade ini adalah
pengesahan bentuk-bentuk sanitasi yang sebelumnya
dianggap primitif. Setelah beberapa tahun penelitian
terapan dan kemajuan teknologi, kakus luar rumah telah
ditransformasi menjadi instalasi sederhana tapi canggih
yang memberikan tingkat kenyamanan dan kesehatan yang
tinggi. Dua teknologi penting yang berhubungan dengan
kakus ini adalah: lubang kakus yang diperbaiki dan diberi
ventilasi (Ventilated Improved Pit latrine/VIP latrine)
dan toilet siram guyur (Pour Flush Toilet/PF toilet). Dua
teknologi ini biayanya jauh lebih sedikit daripada toilet
konvensional yang dihubungkan ke tanki septik atau sistem
saluran pembuangan. Bank Dunia menunjukkan adanya
keuntungan biaya sekitar 15 berbanding 1.
Lubang kakus VIP dan PF memiliki beberapa kelebihan
dibandingkan sistem di tempat ("on-site
system") yang tradisional dan sistem saluran
pembuangan konvensional. Kelebihan-kelebihan itu adalah:
Lubang kakus VIP dan
toilet PF sederhana, bisa diandalkan, higienis dan
terjangkau biayanya.
Bisa dibangun dengan
bahan-bahan lokal dan hanya membutuhkan sedikit keahlian
teknis untuk perancangannya, dan bisa dibangun sendiri
oleh individu atau masyarakat hanya dengan bantuan
secukupnya saja dari luar.
Membutuhkan sedikit
ruang sehingga cocok untuk daerah yang penuh sesak.
Tetap bisa beroperasi
meskipun air langka. Untuk beroperasi VIP tidak
membutuhkan air, sedangkan toilet PF hanya butuh dua
liter air per siraman (plus air yang digunakan untuk
membersihkan badan) dan air inipun bisa didapatkan dari
air buangan (bekas untuk mandi, mencuci dan semacamnya).
Pengolahan kotoran yang
rumit tidak dibutuhkan. Jika ada lubang-lubang kakus yang
bisa digilir pemakaiannya maka lubang-lubang kakus ini
memungkinkan pengolahan kotoran di tempat itu juga dan
pemulihan unsur hara yang aman untuk tanah.
Bisa diubah menjadi
sistem yang lebih canggih.
Yang lebih penting lagi,
teknologi ini sangat disukai oleh orang-orang yang
memakainya.
Begitu konsumsi air dan kepadatan penduduk meningkat,
sistem 'on-site' tidak lagi bisa mengatasi volume limbah
kotoran yang makin banyak. Salah satu pemecahan
tradisional masalah itu ialah penggunaan tanki septik
untuk mengolah limbah sebelum limbah kotoran itu dibuang
ke resapan bawah tanah. Tetapi cara ini mahal dan mudah
gagal. Resapan akan buntu jika muatannya luber, seperti
yang sering terjadi karena tanki tidak dikosongkan dengan
benar. Sebagai akibatnya, luapan yang terolah dengan
buruk dibuang secara melanggar hukum ke selokan-selokan
di pinggir jalan atau menjadi genangan-genangan di
permukaan.
Jalan keluarnya ialah dengan menggunakan saluran
pembuangan bebas limbah padat (solids-free sewarage/SFS)
yang awalnya dikembangkan di A.S. dan Australia dan
sekarang menyebar ke negara-negara berkembang. Sistem ini
menggunakan jaringan pipa kecil (seringkali dari plastik)
yang dipasang untuk membawa luapan dari tanki septik ke
suatu tempat kemudian dibuang ke saluran pembuangan utama
atau ke instalasi pengolahan. Selain mengumpulkan luapan
tanki septik, SFS bisa digunakan di instalasi-instalasi
baru asalkan ada tanki antara sederhana yang memungkinkan
pengolahan awal.
Brazil adalah salah satu negara yang memelopori
pengembangan sistem pembuangan kotoran yang murah. Proyek
perintisnya menggunakan "sistem pembuangan kotoran
yang disederhanakan" (simplified sewerage) yang
merupakan adaptasi dari sistem pembuangan konvensional
dengan menggunakan kriteria yang mencerminkan kemajuan
pengetahuan sekarang dan tersedianya bahan. Dengan cara
ini biaya bisa dihemat hinga 40% sampai 50%. Desain ini
memungkinkan lebih sedikit lubang got, waktu merancang
yang lebih pendek, dan ukuran-ukuran pipa minimum yang
lebih kecil (pipa plastik yang sekarang sudah
menggantikan pipa beton atau tanah), serta pipa ditanam
lebih dangkal (karena udara dingin bukan masalah di
sebagian besar negara berkembang).
Dulu, sistem yang terpusat lebih mendapat perhatian.
Tetapi, dengan urbanisasi yang makin cepat, kondisinya
menjadi tidak ekonomis untuk mengumpulkan kotoran ke
tangki antara yang besar dan membawanya ke suatu pusat
untuk diolah. Juga, dengan mengingat kegagalan sistem
pengolahan di masa lalu, hal ini bisa menyebabkan bencana
lingkungan. Jalan keluar dari masalah ini yang lebih baik
adalah dengan membuat instalasi yang tidak terpusat, dan
setiap instalasi melayani suatu bagian kota. Dengan cara
ini biaya bisa dihemat secara signifikan. Di kota Toledo
di negara bagian Parana, Brasilia, diperkirakan bahwa
dengan menyediakan 15 instalasi pengolahan dan tidak
hanya dua, penghematan bisa mencapai 15%. Instalasi yang
tidak terpusat seperti itu juga mampu mengatasi salah
satu masalah yang muncul dengan adanya urbanisasi yang
tak terkendali saat ini, yaitu: hampir tidak mungkin
merancang pemecahan yang memakan lebih sedikit biaya
untuk instalasi pengolahan yang terpusat dengan usia
desain paling tidak 20 tahun jika para perencana kota
tidak bisa menentukan pola penggunaan tanah di kota di
masa yang akan datang.
Di banyak negara berkembang, limbah cair sering dibuang
tanpa diolah, atau limbah melewati instalasi pengolahan
yang cara kerjanya tidak beres sehingga aliran yang
keluar dari instalasi tersebut tidak lebih baik daripada
limbah mentah. Banyak orang tidak menyadari bahwa
seandainyapun pengolahan limbah konvensional yang ada
bekerja cukup efektif, aliran yang keluar masih tetap
sangat 'patogenis'. Karena aliran itu akan dan seharusnya
digunakan lagi untuk penyediaan air atau irigasi, hal ini
jelas merupakan masalah yang serius.
Jalan keluar ideal dari masalah ini ialah dengan
menggunakan kolam-kolam penyeimbang (stabilisator) untuk
pengolahan. Kolam-kolam yang mudah dirawat dan
dioperasikan ini memberikan waktu penahanan yang lama
sehingga patogen-patogen itu bisa mati secara alami.
Dalam kondisi yang sesuai, aliran dari kolam ini atau
sistem pengolahan yang lain bisa diberi 'polesan' akhir
di tanah-tanah rawa, alami atau buatan. Teknik ini
relatif baru, tapi tampaknya akan bertambah penting di
masa mendatang.
Masalah utama dengan kolam penyeimbang adalah dibutuhkan
tanah luas yang langka di kota-kota besar.
Untuk masalah ini ada tiga jalan keluar. Pertama, membagi
kota menjadi sub-sub bagian dan menggunakan sistem
pengolahan tak terpusat. Dengan cara ini biaya bisa
dihemat. Cara kedua ialah meletakkan kolam-kolam ini agak
di luar kota. Ketika kota meluas, kolam bisa
'didaurulang' untuk pengembangan kota, dan limbah cair
yang masuk dipompa ke dalam kolam baru yang letaknya
lebih luar lagi. Cara ketiga ialah mengadopsi cara
pengolahan limbah yang sedikit berbeda. Jika kolam
penyeimbang dipakai untuk menumbuhkan gulma rumput bebek
(lemna), maka kolam ini nanti bisa digunakan untuk
berternak ikan; atau jika rumput bebek itu dikeringkan
bisa menjadi makanan ikan dan unggas. Cara ini mengubah
limbah yang sebelumnya merupakan masalah kota yang
memakan banyak biaya menjadi sumber protein yang
menghasilkan pemasukan uang. Produktivitas kolam ini
begitu tinggi sehingga bentuk budidaya air ini mungkin
secara ekonomi akan sangat menarik kecuali sampai tanah
itu hampir habis termakan pengembangan kota.
Bentuk pengolahan limbah kotoran yang menggunakan rumput
bebek atau tanaman lain seperti bunga bakung air
sebenarnya secara informal telah ada selama
bertahun-tahun. Namun sekarang cara ini dikembangkan
sebagai alat yang lebih resmi dan sistematis untuk
memecahkan kebutuhan daerah perkotaan. Di Calcutta
misalnya, suatu sistem budidaya air dengan pakan limbah
cair sekarang bisa menghasilkan 20 ton ikan segar setiap
hari untuk dijual di kota itu. Suatu sistem rumput bebek
di Bangladesh yang mengolah limbah cair dari 3.000 orang
membutuhkan biaya operasi kurang dari 200 taka per hari.
Rumput bebek yang dipanen (0.5 ton basah per hari) dan
diolah sebagai makanan unggas bernilai sekitar 500 taka
per hari; kalau digunakan untuk beternak ikan malah bisa
menjadi 3. 500 taka per hari. Ini mungkin merupakan
satu-satunya instalasi pengolahan limbah berkesinambungan
di dunia yang menghasilkan keuntungan dari operasinya.
Kesimpulan | Daftar Isi
|
|