HOME PAGE BAHASA INDONESIA

Terbitan Public Affairs Section | Tanggapan Pembaca

Refleksi Atas Sebuah Masyarakat Multikultural
 
BACA BAB PERTAMA ONLINE
Arthur M. Schlesinger, Jr.
 
Daftar Isi
 

BAB I
"RAS YANG BARU"?

Bagian 1 | Bagian 2 | Bagian 3

III

Setelah Perang Dingin datanglah apa yang disebut imigrasi yang "baru" dari Eropa bagian selatan dan timur. Lebih dari 27 juta orang tiba dalam setengah abad setelah Lee menyerah di Appomattox sampai saat masuknya Amerika ke dalam Perang Dunia Pertama, yakni lebih dari jumlah seluruh penduduk negara itu pada tahun 1850. Orang-orang imigran baru--orang Italia, Polandia, Hungaria, Ceko, Slovakia, Rusia, Yahudi--terutama menetap di kota-kota, di mana kebiasaan-kebiasaan, pakaian, bahasa, dan agama mereka yang aneh membangkitkan kecurigaan yang baru.
Namun keyakinan lama dalam kuasa "pelarut mengagumkan" dari Bryce untuk memenuhi gagasan Washington tentang orang-orang Amerika sebagai "satu rakyat" tetap bertahan. Betapa banyak pun mereka menderita karena prasangka-prasangka sosial, para pendatang baru tidak dihalangi untuk berperan serta sebagai warga, dan peran serta warga itulah yang mengindoktrinasi mereka ke dalam azas-azas Credo (Kepercayaan) Amerika. Mereka mengubah komposisi etnis negara ini, tetapi mereka mempertahankan ambisi lama untuk menjadi orang Amerika.
Henry James yang rewel, yang mengunjungi kembali negara asalnya pada tahun 1904 setelah bertahun-tahun di luar negeri, mula-mula kaget melihat keramaian yang diciptakan orang asing di Pulau Ellis. Tetapi ia segera mengerti dan menghargai "proses pengrekrutan yang tidak henti-hentinya dari bangsa kita, pengisian pot-au-feu nasional kita yang luar biasa besarnya, dimasukkannya ... benda-benda asing yang segar ke dalam sistem kita yang heterogen. "Walaupun ia kadang-kadang sangsi tentang apa yang akan dilakukan oleh gelombang imigrasi kepada orang-orang Amerika secara "etnis, dan dengan demikian secara fisiognomis, linguistis, secara pribadi," walaupun kadang-kadang ia melihat "hantu 'etnis"' yang duduk bagaikan seorang yang selalu membawa suasana muram di pesta, ia lebih terkesan dengan mesin "kolosal" yang dengan begitu efisien mengubah anak-anak kaum imigran menjadi orang-orang Amerika, yakni kebiasaan politis dan sosial, sekolah umum, surat kabar, yang semuanya dengan cara yang dapat diandalkan menghasilkan apa yang disebut James "sintesis'etnis' ". Dengan rasa kagum ia berbicara tentang "kancah watak 'Amerika'. "
Ras baru, satu rakyat, panci peleburan, pot-au-feu, kancah--iman yang mula-mula itu memperoleh metaforanya yang paling terkenal beberapa tahun setelah kunjungan James. Pada tahun 1908 suatu sandiwara oleh Israel Zangwill, seorang penulis Inggris asal Rusia Yahudi dipentaskan di Washington. The Melting Pot (Panci Peleburan) menceritakan kisah seorang komponis Rusia Yahudi yang muda di New York. Ambisi artistik David Quixano adalah untuk menulis sebuah simfoni yang menyatakan penjalinan luas ras-ras di Amerika secara harmonis, dan harapan pribadinya ialah untuk mengatasi kendala rasial serta menikahi Vera, seorang gadis Kristen yang cantik. "Amerika," seru David, "adalah tempat peleburan Allah, Panci Peleburan yang besar di mana semua ras di Eropa sedang melebur dan terbentuk kembali... Di sini kamu berdiri di antara lima puluh kelompokmu, dengan lima puluh bahasamu... dan lima puluh dendam kesumatmu.... Permusuhan-permusuhan dan dendam-dendammu hanya senilai satu buah ara! Orang-orang Jerman dan Perancis, orang-orang Irlandia dan Inggris, orang-orang Yahudi dan Rusia--masuklah kalian semua ke dalam Tempat Peleburan! Allah sedang menciptakan orang Amerika."
Adegan puncak berlangsung di taman atap suatu rumah pemukiman di Manhattan bawah. Di latar belakang, Patung Kemerdekaan berkilau-kilauan disinari matahari yang sedang terbenam. Sang komponis, sendiri bersama Vera, menunjuk ke arah kota:

  Di sanalah ia terletak, Panci Peleburan besar--dengarlah! Dapatkah Anda mendengar ia berderu dan bergelora? Oh, betapa ia berbaur dan bergejolak! Orang Celt dan Latin, orang Slav dan Teuton, orang Yunani dan Syria,--hitam dan kuning--

VERA: (dengan lembut bersandar padanya): Yahudi dan bukan Yahudi--

DAVID: Ya, Timur dan Barat, dan Utara dan Selatan, pohon palm dan pohon den, kutub dan khatulistiwa, salib dan sabit...

Di sini mereka semua akan bersatu guna membangun Republik Manusia dan Kerajaan Allah. Ah, Vera, apa artinya kemuliaan Roma dan Yerusalem di mana semua bangsa dan ras datang menyembah dan memandang ke belakang, dibanding dengan kemuliaan Amerika, di mana semua ras dan bangsa datang untuk bekerja dan memandang ke depan!...

(Jauh di belakang, seperti sebuah bintang sendirian yang menuntun perjalanan, obor Patung Kemerdekaan bersinar di atas permukaan air yang menggelap. Dari bawah bunyi yang redup dari suara-suara dan instrumen-instrumen bergabung dalam lagu "My Country 'tis of Thee. " Tirai ditutup secara perlahan-lahan.)

 

Ketika tirai ditutup di Washington dan pengarang maju ke panggung, Presiden Theodore Roosevelt berseru dari tempatnya: "Itu sandiwara yang hebat, Saudara Zangwill, itu sandiwara yang hebat." "Saya bukanlah seorang pengagum Bernard Shaw atau pengagum Ibsen, Ibu Zangwill" Roosevelt kemudian berkata kepada istri pengarang. "Bukan. Inilah baru sandiwara." Zangwill kemudian mendedikasikan naskah sandiwara cetakan kepada Roosevelt. The Melting Pot dipentaskan di depan sidang-sidang penonton yang kagum di seluruh negara. Jane Addams dari Hull-House di Chicago memberi komentar, bahwa Zangwill telah menjalankan "suatu pelayanan yang besar bagi Amerika dengan mengingatkan kita tentang harapan-harapan luhur dari pendiri-pendiri Republik."

IV

Namun pada waktu sidang-sidang penonton bersorak memuji The Melting Pot pun, metafora Zangwill menimbulkan kesangsian. Seseorang hanya perlu berjalan-jalan di kota-kota besar, seperti yang dilakukan Basil March dalam William Dean Howell's A Hazard of New Fortunes, untuk melihat bahwa proses peleburan tidaklah lengkap. Kelompok-kelompok minoritas etnis sedang membentuk quartier (bagian kota) di mana mereka hidup menurut cara mereka sendiri-- bukan persis seperti di negara yang telah mereka tinggalkan, tetapi bukan juga menurut cara Amerika yang Anglosentris: Little Italy, Chinatown, Yorkville, Harlem, dan seterusnya.
Begitu juga kebudayaan WASP tidak menunjukkan kecenderungan besar untuk mempermudah akses mereka ke Anglo-Amerika. Dan ketika itu terjadi, ketika rintangan-rintangan roboh, ketika imigran-imigran baru memperoleh penerimaan melalui uang atau ketenaran, muncullah prospek perkawinan campur. Di dalam memusatkan dramanya pada tema perkawinan antara orang-orang dari ras dan agama yang berbeda, Zangwill, yang telah menikah dengan seorang wanita Kristen, menekankan akibat yang pasti dihasilkan oleh panci peleburan: tenggelamnya kesatuan-kesatuan etnis tersendiri ke dalam ras Amerika vana baru Apakah hasil seperti itu diinginkan? Banyak imigran pasti berpendapat seperti itu. Pada awal abad kedua puluh, anak-anak mereka pasti berpendapat begitu. Tetapi segera bermunculan juru-juru bicara etnis, yang digerakkan oleh kepedulian yang nyata terhadap nilai-nilai etnis yang distinktif dan juga terhadap kepentingan-kepentingan tetap yang mungkin tidak disadarinya di dalam mempertahankan kelompok-kelompok etnis. Peninjau-peninjau Yahudi menyerang Zangwill: "Berita buruk buat Anda dan aku, Saudara," salah satu menulis, "kita akan dilemparkan ke dalam tempat peleburan sehingga lenyap dileburkan." Bahkan beberapa orang keturunan Anglo-Sakson menyesali hilangnya variasi-variasi asing yang menarik demi kesamaan Anglosentris yang hambar.
Ada kesan bahwa panci peleburan merupakan suatu alat untuk memaksakan gambaran-gambaran dan nilai-nilai yang Anglosentris kepada imigran-imigran yang tak berdaya--suatu kesan yang diperkuat dengan munculnya gerakan "Amerikanisasi" sebagai reaksi atas imigrasi yang beragam ini. Program-program Amerikanisasi, yang maksudnya baik, berusaha mempercepat asimilasi dengan menawarkan kepada imigran-imigran pendidikan khusus dalam bahasa, kewarganegaraan, dan sejarah Amerika. Pecahnya perang pada tahun 1914 menyebabkan bahwa Amerikanisasi dijalankan lebih dengan cara paksa. Bahkan presiden-presiden pun yang bersikap ramah terhadap kaum imigran, seperti Theodore Roosevelt dan Woodrow Wilson merasa cemas jangan-jangan dalam suatu kemelut orang-orang Amerika "yang disambung-sambung itu" akan lebih setia kepada negara asalnya ketimbang kepada negara yang di adopsinya.
Tiga hari setelah sebuah kapal selam Jerman menenggelamkan Lusitania, Wilson berbicara di depan sebuah kelompok yang orang-orangnya baru saja menerima kewarganegaraannya melalui naturalisasi di Philadelphia. "Kalian tidak dapat menjadi orang Amerika yang sejati" ia berkata kepada mereka, "kalau kalian memandang diri kalian sebagai kelompok-kelompok. Amerika tidak terdiri dari kelompok-kelompok. Seseorang yang beranggapan dirinya terhisap pada suatu kelompok nasional yang khusus di Amerika belumlah menjadi orang Amerika."
"Kita tidak dapat menerima kesetiaan "fifty-fifty" di negara ini, kata Theodore Roosevelt dua tahun kemudian. "Seseorang adalah orang Amerika dan tidak lain lagi, atau ia sama sekali bukan orang Amerika. " Ia mengecam orang-orang Amerika yang melihat dunia dari sudut pandang negara lain. "Kita orang-orang Amerika adalah anak-anak tempat peleburan," Roosevelt katakan. "Tempat peleburan tidak melakukan tugasnya kecuali kalau semua yang dimasukkan ke dalamnya dikeluarkannya dalam satu bentuk nasional. "

V

"Satu bentuk nasional?" Tidak semua orang sependapat. Pada tahun 1915 Horace Kallen, seorang ahli filsafat Yahudi Amerika, menulis sebuah esai bagi The Nation yang berjudul "Democracy Versus the Melting-Pot (Demokrasi lawan Panci Peleburan). "Panci peleburan, Kallen kemukakan, tidaklah berlaku, baik sebagai fakta maupun sebagai suatu cita-cita. Sebaliknya ia terkesan dengan bertahannya kelompok-kelompok etnis dan tradisi-tradisi mereka yang berbeda. Tidak seperti afiliasi yang dipilih secara bebas, Kallen katakan, ikatan etnis tidak sukarela dan tidak dapat diubah. "Orang-orang dapat mengganti pakaiannya, politiknya, istrinya, agamanya, pandangan falsafahnya sedikit banyaknya: mereka tidak dapat mengganti kakek-kakek mereka. Orang Yahudi atau orang Polandia atau orang Anglo-Sakson, agar berhenti menjadi orang Yahudi atau Polandia atau Anglo-Sakson, harus berhenti keberadaannya. .. "
Keragaman etnis, Kallen mengemukakan, memperkaya peradaban Amerika. Ia melihat bangsa Amerika bukan sebagai satu rakyat, kecuali dalam suatu arti politis dan administratif, melainkan sebagai "suatu federasi atau persemakmuran kebudayaan-kebudayaan nasional... suatu demokrasi kebangsaan-kebangsaan, yang bekerja sama secara sukarela dan otonom melalui lembaga-lembaga bersama... suatu keserbaragaman dalam suatu kesatuan, suatu orkestrasi umat manusia. "Gagasan ini ia sebut "pluralisme kebudayaan. "
Pendirian Kallen tidak jelas tentang persoalan bagaimana mendorong separatisme etnis tanpa memperlemah cita-cita semula akan suatu masyarakat yang tunggal. Seorang kritikus memperingatkan bahwa pluralisme kebudayaan akan "mengakibatkan Balkanisasi Amerika Serikat ini. " Tetapi Kallen melancarkan serangannya terhadap asimilasi yang Anglosentris pada waktu pengeritik-pengeritik gagasan panci peleburan secara wajar dapat mengasumsikan kokohnya kerangka yang menyeluruh. Oleh karena ia anggap bahwa persatuan politik sesuatu yang sudah ada, ia menekankan perlindungan keragaman kebudayaan.
Injil pluralisme kebudayaan mula-mula dibatasi pada kalangan akademisi, kaum cendekiawan, dan para artis. Tahun-tahun setelah perang ditandai dengan kekecewaan rakyat terhadap Eropa, suatu Red Scare (Ketakutan terhadap Kaum Komunis) yang ditujukan kepada orang-orang asing, munculnya Ku Klux Klan yang anti-Katolik, dan suatu kampanye--yang direalisasikan dalam Immigration Act tahun 1924--untuk membekukan komposisi etnis rakyat Amerika. Undang-undang baru menetapkan kuota-kuota berdasarkan asal nasional penduduk pada tahun 1890, dan dengan demikian sangat mengurangi arus dari Eropa selatan dan timur.
Nasionalisme yang bersifat xenofobia pada tahun-tahun 1920-an diikuti pada tahun 1930-an oleh berbagai kemelut yang walaupun pada beberapa tingkat bersifat memecah-belah, namun memperkuat perasaan bahwa semua orang Amerika mengalami nasib yang sama dan sebaiknya berusaha bersama-sama pula. Depresi Besar dan Perang Dunia Kedua memperlihatkan betapa akutnya kebutuhan akan kohesi nasional di dalam rangka cita-cita nasional yang dipegang bersama. "Azas atas mana negera ini dibangun dan selalu diperintahi. "kata Franklin D. Roosevelt pada tahun 1943, "adalah bahwa Amerikanisme merupakan persoalan jiwa dan hati; Amerikanisme bukanlah persoalan ras dan keturunan, dan tidak pernah begitu. Seorang Amerika yang baik adalah setia kepada negaranya dan kepada pernyataan kepercayaan kita tentang kebebasan dan demokrasi. " 
» berikutnya

Bagian 1 | Bagian 2 | Bagian 3 | Daftar Isi

Kembali ke Atas

 

 

Home Page Kedutaan AS
Pusat Informasi Kedutaan AS | Informasi Visa | American Citizen Services

Ke atas | Umpan balik

Link ke situs Internet yang bukan milik pemerintah Amerika bukan berarti bahwa pemerintah Amerika menyetujui sudut pandang organisasi tersebut.

Home page ini dibuat dan dipelihara oleh Pusat Informasi Kedutaan Amerika, pusat informasi terlengkap untuk kebijakan luar negeri Amerika, dengan akses ke sumber-sumber informasi cetak dan elektronik yang sangat beraneka ragam.