Terbitan Public Affairs Section | Tanggapan Pembaca
|
BAB I
|
| Di
sanalah ia terletak, Panci Peleburan
besar--dengarlah! Dapatkah Anda mendengar ia
berderu dan bergelora? Oh, betapa ia berbaur dan
bergejolak! Orang Celt dan Latin, orang Slav dan
Teuton, orang Yunani dan Syria,--hitam dan
kuning--
DAVID: Ya, Timur dan Barat, dan Utara dan Selatan, pohon palm dan pohon den, kutub dan khatulistiwa, salib dan sabit... Di sini mereka semua akan bersatu guna membangun Republik Manusia dan Kerajaan Allah. Ah, Vera, apa artinya kemuliaan Roma dan Yerusalem di mana semua bangsa dan ras datang menyembah dan memandang ke belakang, dibanding dengan kemuliaan Amerika, di mana semua ras dan bangsa datang untuk bekerja dan memandang ke depan!... (Jauh di belakang, seperti sebuah bintang sendirian yang menuntun perjalanan, obor Patung Kemerdekaan bersinar di atas permukaan air yang menggelap. Dari bawah bunyi yang redup dari suara-suara dan instrumen-instrumen bergabung dalam lagu "My Country 'tis of Thee. " Tirai ditutup secara perlahan-lahan.) |
Ketika tirai
ditutup di Washington dan pengarang maju ke panggung,
Presiden Theodore Roosevelt berseru dari tempatnya:
"Itu sandiwara yang hebat, Saudara Zangwill, itu
sandiwara yang hebat." "Saya bukanlah seorang
pengagum Bernard Shaw atau pengagum Ibsen, Ibu
Zangwill" Roosevelt kemudian berkata kepada istri
pengarang. "Bukan. Inilah baru sandiwara."
Zangwill kemudian mendedikasikan naskah sandiwara cetakan
kepada Roosevelt. The Melting Pot dipentaskan di depan
sidang-sidang penonton yang kagum di seluruh negara. Jane
Addams dari Hull-House di Chicago memberi komentar, bahwa
Zangwill telah menjalankan "suatu pelayanan yang
besar bagi Amerika dengan mengingatkan kita tentang
harapan-harapan luhur dari pendiri-pendiri
Republik."
IV
Namun pada waktu
sidang-sidang penonton bersorak memuji The Melting Pot
pun, metafora Zangwill menimbulkan kesangsian. Seseorang
hanya perlu berjalan-jalan di kota-kota besar, seperti
yang dilakukan Basil March dalam William Dean Howell's A
Hazard of New Fortunes, untuk melihat bahwa proses
peleburan tidaklah lengkap. Kelompok-kelompok minoritas
etnis sedang membentuk quartier (bagian kota) di mana
mereka hidup menurut cara mereka sendiri-- bukan persis
seperti di negara yang telah mereka tinggalkan, tetapi
bukan juga menurut cara Amerika yang Anglosentris: Little
Italy, Chinatown, Yorkville, Harlem, dan seterusnya.
Begitu
juga kebudayaan WASP tidak menunjukkan kecenderungan
besar untuk mempermudah akses mereka ke Anglo-Amerika.
Dan ketika itu terjadi, ketika rintangan-rintangan roboh,
ketika imigran-imigran baru memperoleh penerimaan melalui
uang atau ketenaran, muncullah prospek perkawinan campur.
Di dalam memusatkan dramanya pada tema perkawinan antara
orang-orang dari ras dan agama yang berbeda, Zangwill,
yang telah menikah dengan seorang wanita Kristen,
menekankan akibat yang pasti dihasilkan oleh panci
peleburan: tenggelamnya kesatuan-kesatuan etnis
tersendiri ke dalam ras Amerika vana baru Apakah hasil
seperti itu diinginkan? Banyak imigran pasti berpendapat
seperti itu. Pada awal abad kedua puluh, anak-anak mereka
pasti berpendapat begitu. Tetapi segera bermunculan
juru-juru bicara etnis, yang digerakkan oleh kepedulian
yang nyata terhadap nilai-nilai etnis yang distinktif dan
juga terhadap kepentingan-kepentingan tetap yang mungkin
tidak disadarinya di dalam mempertahankan
kelompok-kelompok etnis. Peninjau-peninjau Yahudi
menyerang Zangwill: "Berita buruk buat Anda dan aku,
Saudara," salah satu menulis, "kita akan
dilemparkan ke dalam tempat peleburan sehingga lenyap
dileburkan." Bahkan beberapa orang keturunan
Anglo-Sakson menyesali hilangnya variasi-variasi asing
yang menarik demi kesamaan Anglosentris yang hambar.
Ada
kesan bahwa panci peleburan merupakan suatu alat untuk
memaksakan gambaran-gambaran dan nilai-nilai yang
Anglosentris kepada imigran-imigran yang tak
berdaya--suatu kesan yang diperkuat dengan munculnya
gerakan "Amerikanisasi" sebagai reaksi atas
imigrasi yang beragam ini. Program-program Amerikanisasi,
yang maksudnya baik, berusaha mempercepat asimilasi
dengan menawarkan kepada imigran-imigran pendidikan
khusus dalam bahasa, kewarganegaraan, dan sejarah
Amerika. Pecahnya perang pada tahun 1914 menyebabkan
bahwa Amerikanisasi dijalankan lebih dengan cara paksa.
Bahkan presiden-presiden pun yang bersikap ramah terhadap
kaum imigran, seperti Theodore Roosevelt dan Woodrow
Wilson merasa cemas jangan-jangan dalam suatu kemelut
orang-orang Amerika "yang disambung-sambung
itu" akan lebih setia kepada negara asalnya
ketimbang kepada negara yang di adopsinya.
Tiga
hari setelah sebuah kapal selam Jerman menenggelamkan
Lusitania, Wilson berbicara di depan sebuah kelompok yang
orang-orangnya baru saja menerima kewarganegaraannya
melalui naturalisasi di Philadelphia. "Kalian tidak
dapat menjadi orang Amerika yang sejati" ia berkata
kepada mereka, "kalau kalian memandang diri kalian
sebagai kelompok-kelompok. Amerika tidak terdiri dari
kelompok-kelompok. Seseorang yang beranggapan dirinya
terhisap pada suatu kelompok nasional yang khusus di
Amerika belumlah menjadi orang Amerika."
"Kita
tidak dapat menerima kesetiaan "fifty-fifty" di
negara ini, kata Theodore Roosevelt dua tahun kemudian.
"Seseorang adalah orang Amerika dan tidak lain lagi,
atau ia sama sekali bukan orang Amerika. " Ia
mengecam orang-orang Amerika yang melihat dunia dari
sudut pandang negara lain. "Kita orang-orang Amerika
adalah anak-anak tempat peleburan," Roosevelt
katakan. "Tempat peleburan tidak melakukan tugasnya
kecuali kalau semua yang dimasukkan ke dalamnya
dikeluarkannya dalam satu bentuk nasional. "
V
"Satu bentuk
nasional?" Tidak semua orang sependapat. Pada tahun
1915 Horace Kallen, seorang ahli filsafat Yahudi Amerika,
menulis sebuah esai bagi The Nation yang berjudul
"Democracy Versus the Melting-Pot (Demokrasi lawan
Panci Peleburan). "Panci peleburan, Kallen
kemukakan, tidaklah berlaku, baik sebagai fakta maupun
sebagai suatu cita-cita. Sebaliknya ia terkesan dengan
bertahannya kelompok-kelompok etnis dan tradisi-tradisi
mereka yang berbeda. Tidak seperti afiliasi yang dipilih
secara bebas, Kallen katakan, ikatan etnis tidak sukarela
dan tidak dapat diubah. "Orang-orang dapat mengganti
pakaiannya, politiknya, istrinya, agamanya, pandangan
falsafahnya sedikit banyaknya: mereka tidak dapat
mengganti kakek-kakek mereka. Orang Yahudi atau orang
Polandia atau orang Anglo-Sakson, agar berhenti menjadi
orang Yahudi atau Polandia atau Anglo-Sakson, harus
berhenti keberadaannya. .. "
Keragaman
etnis, Kallen mengemukakan, memperkaya peradaban Amerika.
Ia melihat bangsa Amerika bukan sebagai satu rakyat,
kecuali dalam suatu arti politis dan administratif,
melainkan sebagai "suatu federasi atau persemakmuran
kebudayaan-kebudayaan nasional... suatu demokrasi
kebangsaan-kebangsaan, yang bekerja sama secara sukarela
dan otonom melalui lembaga-lembaga bersama... suatu
keserbaragaman dalam suatu kesatuan, suatu orkestrasi
umat manusia. "Gagasan ini ia sebut "pluralisme
kebudayaan. "
Pendirian
Kallen tidak jelas tentang persoalan bagaimana mendorong
separatisme etnis tanpa memperlemah cita-cita semula akan
suatu masyarakat yang tunggal. Seorang kritikus
memperingatkan bahwa pluralisme kebudayaan akan
"mengakibatkan Balkanisasi Amerika Serikat ini.
" Tetapi Kallen melancarkan serangannya terhadap
asimilasi yang Anglosentris pada waktu
pengeritik-pengeritik gagasan panci peleburan secara
wajar dapat mengasumsikan kokohnya kerangka yang
menyeluruh. Oleh karena ia anggap bahwa persatuan politik
sesuatu yang sudah ada, ia menekankan perlindungan
keragaman kebudayaan.
Injil
pluralisme kebudayaan mula-mula dibatasi pada kalangan
akademisi, kaum cendekiawan, dan para artis. Tahun-tahun
setelah perang ditandai dengan kekecewaan rakyat terhadap
Eropa, suatu Red Scare (Ketakutan terhadap Kaum Komunis)
yang ditujukan kepada orang-orang asing, munculnya Ku
Klux Klan yang anti-Katolik, dan suatu kampanye--yang
direalisasikan dalam Immigration Act tahun 1924--untuk
membekukan komposisi etnis rakyat Amerika. Undang-undang
baru menetapkan kuota-kuota berdasarkan asal nasional
penduduk pada tahun 1890, dan dengan demikian sangat
mengurangi arus dari Eropa selatan dan timur.
Nasionalisme
yang bersifat xenofobia pada tahun-tahun 1920-an diikuti
pada tahun 1930-an oleh berbagai kemelut yang walaupun
pada beberapa tingkat bersifat memecah-belah, namun
memperkuat perasaan bahwa semua orang Amerika mengalami
nasib yang sama dan sebaiknya berusaha bersama-sama pula.
Depresi Besar dan Perang Dunia Kedua memperlihatkan
betapa akutnya kebutuhan akan kohesi nasional di dalam
rangka cita-cita nasional yang dipegang bersama.
"Azas atas mana negera ini dibangun dan selalu
diperintahi. "kata Franklin D. Roosevelt pada tahun
1943, "adalah bahwa Amerikanisme merupakan persoalan
jiwa dan hati; Amerikanisme bukanlah persoalan ras dan
keturunan, dan tidak pernah begitu. Seorang Amerika yang
baik adalah setia kepada negaranya dan kepada pernyataan
kepercayaan kita tentang kebebasan dan demokrasi.
" » berikutnya
Bagian 1 | Bagian 2 | Bagian 3 | Daftar Isi
Home Page Kedutaan AS
Pusat
Informasi Kedutaan AS | Informasi
Visa | American
Citizen Services
Link ke situs Internet yang bukan milik pemerintah Amerika bukan berarti bahwa pemerintah Amerika menyetujui sudut pandang organisasi tersebut.
Home page ini dibuat dan dipelihara oleh Pusat Informasi Kedutaan Amerika, pusat informasi terlengkap untuk kebijakan luar negeri Amerika, dengan akses ke sumber-sumber informasi cetak dan elektronik yang sangat beraneka ragam.