|
|
 BAB I
"RAS YANG BARU"?
Bagian 1 | Bagian 2 | Bagian 3
VI
Gunnar Myrdal pada tahun
1944 sedikit pun tidak ragu menyatakan bahwa Credo
(Kepercayaan) Amerika merupakan milik bersama semua orang
Amerika, biarpun karyanya yang besar An American Dilemma
memberikan suatu analisis yang hebat tentang kegagalan
Amerika yang paling mencolok untuk hidup menurut Credo
(Kepercayaan): yakni perlakuan orang Amerika kulit putih
terhadap orang Amerika kulit hitam.
Cita-cita
yang luhur telah diucapkan seakan-akan berlaku bagi semua
orang Amerika, namun dalam prakteknya hanya diterapkan
pada orang-orang kulit putih. Sebagian besar tafsiran
tentang identitas nasional sejak Crevecoeur hanyalah
untuk golongan kulit putih. Horace Kallen pun, tokoh
pendukung pluralisme kebudayaan, tidak menyediakan tempat
dalam "demokrasi kebangsaan-kebangsaan"-nya
bagi orang-orang Amerika berkulit hitam, coklat, merah
atau kuning.
Tocqueville
merupakan pengecualian di dalam memperhitungkan
orang-orang kulit berwarna sebagai faktor-faktor dalarn
(persamaan) Amerika. Dengan bakatnya ia melihat keadaan
masa depan, ia mengidentifikasi rasisme sebagai kelemahan
yang tak terobati dalam demokrasi Amerika. "Bangsa
yang paling tamak di seluruh dunia ini" telah
memastikan kepunahan bangsa Indian; dan kehadiran
penduduk berkulit hitam "merupakan penyakit yang
paling gawat dari segala penyakit yang mengancam masa
depan Amerika Serikat. " Emerson dan Zangwill yang
lebih bersikap optimis telah menceburkan bangsa-bangsa
non-kulit putih ke dalam panci peleburan mereka, tetapi
Tocqueville melihat bahwa pengucilan rasial merupakan
sesuatu yang tertanam dalam-dalam di kepribadian
nasional.
Sejarah
mendukung penilaian itu. Pendatang-pendatang kulit putih
secara sistematis menghalau orang-orang Indian, membunuh
pejuang-pejuang mereka, mencaplok tanah-tanah mereka, dan
mengasingkan suku-suku mereka. Mereka telah membawa
orang-orang Afrika ke Amerika untuk bekerja di
perkebunan-perkebunan dan orang-orang Cina untuk
membangun rel-rel kereta api mereka. Mereka telah
mengucapkan slogan-slogan tentang kebebasan dan
menjauhkannya dari orang-orang kulit berwarna.
Undang-undang Dasar mereka melindungi perbudakan, dan
undang-undang mereka mengadakan perbedaan-perbedaan atas
dasar ras. Walaupun mereka akhirnya membebaskan para
budak, mereka berkomplot untuk menjadikan orang-orang
yang dibebaskan itu warga negara kelas tiga.
Undang-undang Pengucilan Orang Cina yang mereka keluarkan
memuncak dengan pelarangan total imigrasi orang Asia
dalam Undang-undang Imigrasi tahun 1924. Hanya sedikit
sekali orang Amerika kulit putih pada tahun-tahun itu
sadar bahwa orang-orang Amerika kulit berwarna juga
berhak atas hak-hak dan kebebasan-kebebasan yang
dijanjikan Undang-undang Dasar.
Namun
apa yang disebut Bryce sebagai "kuasa peleburan yang
mengagumkan" dari lembaga-lembaga dan cita-cita
Amerika tetap berlaku, juga di kalangan yang ditindas dan
dikucilkan dengan cara yang paling kejam. Pengumpulan
pendapat yang diselenggarakan Myrdall di kalangan orang
Afro-Amerika menunjukkan "tekad bulat"
orang-orang Negro "untuk berpegang pada Credo
(Kepercayaan) Amerika. " Ralph Bunche salah seorang
pembantu Myrdall, mengamati bahwa khalayak ramai--hitam,
merah, dan kuning serta putih--menganggap Amerika sebagai
"negeri orang bebas" dan "tempat lahir
kemerdekaan. " Credo (Kepercayaan), demikian
disimpulkan Myrdal, bahkan lebih bermakna bagi orang
kulit hitam daripada bagi orang kulit putih, sebab ia
merupakan alat utama untuk memperjuangkan hak-hak mereka
yang belum terpenuhi. Orang-orang Negro, imigran-imigran
baru, orang-orang Yahudi, dan golongan-golongan yang
dirugikan lainnya, Myrdal katakan, "tidak mungkin
dapat menciptakan suatu sistem cita-cita politik yang
lebih sesuai dengan kepentingan-kepentingan mereka."
Perang
Dunia Kedua memberikan gigitan baru kepada Pernyataan
Kepercayaan itu, Rasisme Hitler memaksa orang-orang
Amerika untuk meneliti kembali asumsi-asumsi rasial
mereka. Bagaimanakah, di dalam memerangi doktrin Hitler
tentang Ras Ulung di luar negeri, orang-orang Amerika
dapat mempertahankan suatu doktrin keunggulan orang kulit
putih di dalam negeri? Bagaimana, dengan Tiongkok sebagai
sekutu Amerika yang setia, dapat Amerika terus melarang
orang-orang Cina untuk menjadi warga negara Amerika?
Kalau perang dunia tidak mengakhiri rasisme Amerika,
sekurang-kurangnya ia berhasil mendorong kefanatikan
rasial ke bawah tanah. Dipikirkannya kembali isu-isu
rasial telah menantang hati sanubari pihak mayoritas dan
meningkatkan kesadaran kaum minoritas.
Oleh
karena diberikan semangat oleh Credo (Kepercayaan),
orang-orang Negro melakukan aksi agar memperoleh
kesempatan yang sama dalam pekerjaan, menentang segregasi
(pemisahan berdasarkan ras) di angkatan bersenjata dan
bertempur dalam kesatuan-kesatuan mereka sendiri di
banyak garis depan. Seusainya perang, revolusi hak-hak
azasi yang begitu lama ditangguhkan mempercepat
kemandirian orang-orang Negro. Kemandirian ini dipercepat
juga oleh ambruknya kolonialisme kulit-putih dan
munculnya negara-negara Negro yang merdeka.
Di
seluruh Amerika golongan-golongan minoritas menyatakan
kebanggaan mereka dan menuntut hak-hak mereka. Kaum
wanita, satu-satunya "minoritas" yang di
Amerika secara jumlah merupakan mayoritas, mencari
persamaan politis dan ekonomis. Orang-orang Yahudi
membangun rasa solidaritas yang baru sebagai akibat
pembantaian sewaktu perang, dan kemudian dengan pendirian
negara Yahudi di Israel. Perubahan-perubahan dalam
Undang-undang Imigrasi secara dramatis meningkatkan
jumlah orang-orang yang datang dari negara-negara
Hispanik dan Asia, dan dengan meniru teladan umum mereka
menuntut hak-hak mereka sendiri. Orang-orang Indian
bergerak untuk menghlaim kembali hak-hak dan tanah-tanah
yang sudah sejak lama dicaplok orang kulit putih;
juru-juru bicara mereka bahkan menolak penyebutan
historis yang telah merupakan sumber kebanggaan yang
wajar bagi orang-orang Indian, dan menyebut diri mereka
sendiri sebagai orang Amerika Pribumi.
Revolusi
hak-hak azasi mencetuskan pernyataan-pernyataan baru
tentang identitas etnis oleh pihak yang sekarang
merupakan penetap lama, yakni hasil "imigrasi
baru" dari Eropa bagian selatan dan
timur--orang-orang Italia, Yunani, Polandia, Ceko,
Slovakia, Hungaria. Antusiasme etnis diperknat oleh efek
"generasi ketiga" yang dirumuskan dalam Hukum
Hansen, yang dinamakan menurut Marcus Lee Hansen, pelopor
besar dalam sejarah imigrasi: "Apa yang anak ingin
lupakan, cucu ingin ingat."
Suatu
faktor lain dengan kuat sekali mengipas kerinduan akan
asal-usul: Optimisme Amerika yang makin meluntur tentang
prospek-prospek negara itu. Selama dua abad Amerika
merasa yakin bahwa kehidupan akan lebih baik bagi
anak-anak mereka dibanding dengan kehidupan mereka
sendiri. Pada masa muda mereka yang penuh gairah itu,
orang-orang Amerika meremehkan masa lampau dan, seperti
telah dianjurkan oleh John Quincy Adams, mereka telah
memandang ke depan kepada keturunan mereka dan bukan ke
belakang kepada nenek moyang mereka. Di tengah-tengah
kekhawatiran tentang kemerosotan nasional, orang-orang
Amerika sekarang mulai kurang memandang ke depan dan
lebih banyak memandang ke belakang. Kultus kesukuan yang
mulai bangkit merupakan suatu gejala tentang makin
berkurangnya kepercayaan terhadap masa depan Amerika.
VII
Etnis sebagai kata sudah
mempunyai sejarah yang panjang. Mula-mula artinya
"kafir" atau "tidak mengenal Allah"
tetapi segera memperoleh arti apa saja yang bertalian
dengan suatu ras atau bangsa. Menurut arti ini siapa
saja, termasuk keluarga Lowell dan Cabot, adalah etnis.
Tetapi pada waktu Henry James menggunakan kata ini dalam
The American Scene, "etnis" dihubung-hubungkan
dengan orang asing. Menurut penggunaannya sejak tahun
1960-an, istilah itu jelas berarti kaum minoritas
non-Anglo--kembali ke arti semula sebagai sesuatu yang di
luar batas kelaziman.
Dalam
pada itu kata benda ethnicity (kesukuan) melakukan debut
modernnya pada tahun 1940 dalam seri Yankee City dari W.
Lloyd Warner. Dari permulaannya yang sederhana dalam
studi sosiologis itu, "kesukuan" bergerak
dengan penuh semangat ke panggung pusat perdebatan umum.
Perayaan dua ratus tahun kemerdekaan Amerika seratus
tahun Patung Kemerdekaan, pemugaran Pulau Ellis--semuanya
berbalik dari puji-pujian terhadap panci peleburan kepada
pertunjukan-pertunjukan meriah tentang perbedaan etnis.
Tekanan
bagi kultus kesukuan yang baru itu kurang datang dari
kaum minoritas secara massal, dan lebih dari juru-juru
bicara mereka yang mengangkat dirinya sendiri. Kebanyakan
orang etnis, baik kulit putih maupun bukan kulit hitam,
memandang dirinya sendiri terutama sebagai orang Amerika.
"Kerinduan akan 'identitas historis'," kata
Gunnar Myrdal pada puncak amukan etnis, "sama sekali
bukan suatu gerakan rakyat. Kerinduan-kerinduan itu telah
dibangkitkan oleh beberapa orang cendekiawan yang sudah
mapan, profesor-profesor, penulis-penulis--sebagian besar
rasanya generasi ketiga." Hanya sedikit saja,
menurut Myrdal, benar-benar berusaha berbicara dengan
golongan etnis mereka sendiri. Ia khawatir, demikian
ditambahkan Myrdal dengan nada meremehkan, bahwa gerakan
ini hanyalah "romantisisme cendekiawan golongan
atas."
Bagaimana
pun juga, para pendekar ideologi, dengan publisitas dan
waktu yang cukup, dapat menciptakan sidang-sidang
pendengar. Juru-juru bicara dengan kepentingan tetap
dalam masalah identifikasi etnis menolak cita-cita
pembauran. Panci peleburan, dikatakannya, melukai
orang-orang dengan menggerogoti harga diri mereka. Ia
menghalangi mereka untuk mempunyai
pahlawan-pahlawan--"role model (teladan
peranan)", menurut istilah mereka--dari garis
keturunan etnis mereka sendiri. Pujian sekarang diberikan
kepada "kaum etnis yang tidak dapat dilebur."
Pada
tahun 1974, setelah kesaksian juru-juru bicara etnis yang
mengutuk panci peleburan sebagai suatu komplotan untuk
menjadikan Amerika homogen, Kongres mengesahkan Ethnic
Heritage Studies Program Act, suatu undang-undang yang
membahayakan hak historis orang Amerika untuk menentukan
identitas etnisnya sendiri dengan menerapkan ideologi
etnis kepada semua orang Amerika. Undang-undang itu
mengabaikan jutaan orang Amerika--yang pasti merupakan
mayoritas--yang menolak identifikasi dengan salah satu
golongan etnis tertentu.
Bangkitnya
gelombang etnis (ia sulit disebut suatu kebangkitan
kembali, sebab tidak ada presedennya) mulai sebagai suatu
tindakan protes terhadap kebudayaan Amerika yang
Anglosentris. Ia menjadi suatu kultus, dan dewasa ini ia
mengancam menjadi suatu kontra-revolusi terhadap teori
semula bahwa Amerika merupakan "satu rakyat,"
suatu kebudayaan bersama, suatu negara tunggal. [ akhir Bab 1 ]
Bagian
1 | Bagian
2 | Bagian 3 | Daftar
Isi
Kembali ke Atas
|
|