HOME PAGE BAHASA INDONESIA

Terbitan Public Affairs Section | Tanggapan Pembaca

Refleksi Atas Sebuah Masyarakat Multikultural
 
BACA BAB PERTAMA ONLINE
Arthur M. Schlesinger, Jr.
 
Daftar Isi
 

BAB I
"RAS YANG BARU"?

Bagian 1 | Bagian 2 | Bagian 3

Pada mulanya Amerika dipandang sebagai pemutusan dengan ikatan-ikatan masa lampau, suatu pembebasan dari masa lampau yang mencekam, suatu pintu masuk kepada hidup yang baru, penenunan benang-benang etnis yang tersendiri menjadi suatu pola nasional yang baru. "Kita mempunyai kuasa," demikianlah dikatakan oleh Thomas Paine atas nama angkatan revolusioner, "untuk memulaikan dunia kembali sekali lagi." Slogan nasional yang tidak pernah diucapkan adalah, "Jangan sekali-kali memandang ke belakang." "Masa Lampau sudah mati dan tidak akan bangkit kembali," tulis Herman Melville, "... Masa Lampau adalah buku pelajaran para penguasa yang lalim, Masa Depan adalah Kitab Suci Orang Bebas."

I

Dan masa depan adalah Amerika -- bukan sebuah negara, Melville katakan, melainkan sebuah dunia. "Kita tidak dapat mencucurkan setetes darah orang Amerika tanpa mencucurkan darah seluruh dunia. Di belahan Bumi bagian Barat ini semua suku dan rakyat sedang melebur ke dalam suatu kesatuan federasi yang utuh… " Juga bagi Ralph Waldo Emerson, sama seperti Crevecoeur, dan seperti Melville, Amerika merupakan penyulingan planet bumi yang berbagai ragam ini. Sewaktu terbakarnya kuil di Korintus telah melebur dan mencampurkan perak dengan emas sehingga dihasilkan kuningan Korintus, yakni "suatu bahan campuran yang lebih berharga daripada apapun juga," begitu juga, tulis Emerson dalam buku hariannya, di Amerika "di tempat suaka dari semua bangsa, energi orang-orang Irlandia, Jerman, Swedia, Polandia, dan Kosak, dan semua suku-suku bangsa Eropa -- orang-orang Afrika dan Polinesia, akan membangun suatu ras yang baru... yang penuh semangat, sama seperti Eropa yang baru yang muncul dari panci peleburan Abad-abad Kegelapan..."
Melville merupakan seorang novelis, Emerson seorang penulis esai; kedua-duanya penyair. Tetapi George Washington merupakan seorang yang sangat praktis. Namun ia pun percaya sepenuhnya kepada doktrin "ras baru." "Pangkuan Amerika," Washington menulis, "terbuka... bagi yang tertindas dan yang dianiaya dari semua Bangsa dan Agama." Tetapi imigran-imigran yang menetap di pangkuan nasional sebagai kelompok-kelompok kesukuan mempertahankan "Bahasa, adat, dan azas-azas (baik atau buruk) yang telah mereka bawa serta dengan mereka." Oleh karena itu biarlah mereka bersedia menetap sebagai perorangan, siap untuk "berbaur dengan rakyat kami." Dengan demikian mereka akan "diasimilasikan pada kebiasaan-kebiasaan kami, langkah-langkah kami dan hukum-hukum kami": dengan perkataan lain, mereka segera akan menjadi satu rakyat."
John Quincy Adams, seorang pria lain yang sangat praktis, dengan nada serupa mendesak akan sifat eksklusifnya jatidiri Amerika yang baru. Ketika seorang bangsawan Jerman yang sedang mempertimbangkan emigrasi mewawancarai Adams sebagai menteri luar negeri, Adams menegaskan kepada tamunya bahwa para emigran harus bertekad melakukan satu hal: Mereka harus menanggalkan kulit orang Eropa, dan jangan sekali-kali mengenakannya lagi. Mereka harus memandang ke depan kepada keturunan mereka, dan jangan ke belakang kepada leluhur mereka…"
Tetapi bagaimanakah "keturunan yang beragam" dari Crevecoeur dapat ditransformasikan menjadi suatu "ras yang baru"? Bagaimanakah "panci peleburan" Emerson dapat mempersatukan unsur-unsur yang begitu berbeda menjadi "satu rakyat" yang diidamkan Washington? Pertanyaan ini menyibukkan seorang Perancis lainnya yang tiba di Amerika tiga perempat abad setelah Crevecoeur.
"Cobalah bayangkan Sahabat-sahabatku yang tercinta kalau kalian bisa," Alexis de Tocqueville menulis kepada teman-temannya di Perancis, "suatu masyarakat yang terdiri dari semua bangsa di dunia... orang-orang dengan bahasa-bahasa, kepercayaan-kepercayaan, pendapat-pendapat yang berbeda-beda; singkatnya sebuah masyarakat tanpa akar, tanpa ingatan, tanpa prasangka, tanpa rutin, tanpa ide-ide bersama, tanpa watak nasional, namun seratus kali lebih berbahagia daripada masyarakat kita sendiri. " Ilmu Kimia yang bagaimana dapat menjadikan kebinekaan ini menjadi satu masyarakat yang tunggal?
Jawabnya, Tocqueville simpulkan, terletak pada komitmen orang-orang Amerika terhadap demokrasi dan pemerintahan swatantra. Peranserta warga umum, demikianlah dikemukakan Tocqueville dalam Democracy in America, merupakan pendidik yang besar serta pemersatu yang besar.
Bagaimanakah dapat terjadi hahwa di Amerika Serikat, di mana penduduknya baru saja melakukan imigrasi ke tanah yang.sekarang mereka duduki, tanpa membawa tradisi maupun kebiasan-kebiasan bersama mereka, di mana mereka saling bertemu untuk pertama kalinya tanpa perkenalan sebelumnya; di mana, singkatnya, cinta akan tanah air secara sanubari hampir-hampir tidak ada; bagaimana dapat terjadi bahwa semua orang menaruh minat yang berapi-api dalam perkara-perkara kotanya, negerinya, dan seluruh negara seakan-akan hal-hal itu miliknya? Itu disebabkan karena semua orang, dalam lingkungannya, berperan serta secara aktif dalam pemerintahan masyarakatnya
Para imigran, Toqueville katakan, menjadi orang-orang Amerika melalui penerapan hak-hak politik dan tanggung jawab warga negara yang diberikan kepada mereka oleh Declaration of Independence (Proklamasi Kemerdekaan) dan Undang-undang Dasar.
Setengah abad kemudian, ketika komentator asing besar berikutnya tentang demokrasi Amerika, James Bryce, menulis The American Commonwealth, arus imigrasi telah sangat meningkat dan menjadi berbagai ragam. Teman-teman Bryce di Eropa memperkirakan bahwa akan diperlukan waktu yang sangat lama bagi Amerika untuk mengasimilasikan "unsur-unsur heterogen" itu. Sebaliknya, apa yang menarik perhatian Bryce adalah apa yang telah menarik perhatian Tocqueville juga, yaitu "daya pelarut yang mengagumkan yang diperagakan lembaga-lembaga, kebiasaan-kebiasaan, dan ide-ide Amerika terhadap pendatang-pendatang baru dari semua ras... yang dengan cepat melebur dan mengasimilasikan benda-benda asing yang dituangkan ke dalam massanya."
Seabad setelah Tocqueville, seorang pengunjung asing lainnya, Gunnar Myrdal dari Swedia, menyebut gugusan ide-ide, lembaga-lembaga, dan kebiasaan-kebiasaan itu "Credo (Kepercayaan) Amerika". Orang-orang Amerika "dari segala asal nasional, wilayah, kepercayaan, dan warna kulit, " tulis Myrdal pada tahun 1944, bersama-sama memegang "sistem cita-cita umum yang paling eksplisit dinyatakan" di antara semua negara di Barat: cita-cita tentang kehormatan dan kesamaan hakiki semua orang, tentang hak-hak azasi atas kemerdekaan, keadilan, dan kesempatan.
Sekolah-sekolah mengajarkan azas-azas Credo (Kepercayaan), Myrdal katakan; Gereja-gereja memberitakan melalui khotbah; pengadilan-pengadilan menjatuhkan vonis berdasarkannya. Myrdal melihat Pernyataan Kemerdekaan sebagai ikatan yang menghubungkan semua orang Amerika, termasuk kaum minoritas non-kulit putih, dan sebagai cambuk yang selalu mendorong orang-orang Amerika untuk hidup sesuai prinsip-prinsipnya. "Amerika," kata Myrdal, "terus-menerus berjuang bagi jiwanya. "

II

Pernyataan Kepercayaan Amerika mempunyai antesedennya, dan anteseden itu terletak terutama dalam warisan Inggris yang dituangkan kembali oleh satu setengah abad pengalaman kolonial. Jadi bagaimana barukah "ras baru" itu? Visi Crevecoeur meliputi suatu pencampuran yang merata dari bangsa-bangsa Eropa, dan panci peleburan Emerson secara murah hati menambahkan orang-orang Kosak, Afrika dan Polinesia. Pada kenyataannya, mayoritas penduduk dari ketiga belas koloni di Amerika dan bobot kebudayaannya datang dari Britania Raya.
Setelah orang-orang Inggris mengusir dari AmerikaUtara sebagian besar saingan-saingan mereka--orang-orang Perancis, Spanyol, dan Belanda--maka mereka bebas menentukan bentuk yang mereka kehendaki. Bahasa dari bangsa yang baru, hukumnya, lembaga-lembaganya, cita-cita politiknya, sastranya, kebiasaannya, ajarannya, doa-doanya, terutama berasal dari Inggris. Crevecoeur sendiri menulis bukunya bukan dalam bahasanya sendiri, bahasa Perancis, melainkan dalam bahasa Inggris, suatu bahasa yang telah diajarkan kepadanya. "Kutukan Babel," kata Melville, telah dicabut di Amerika, "dan bahasa yang akan mereka pakai adalah bahasa dari Britania."
Jadi panci peleburan secara khas dan tak terhindarkan mempunyai warna Anglosentris. Apakah baik atau tidak, tradisi Protestan Anglo-Sakson selama dua abad--dan dalam hal-hal sangat penting masih tetap berlangsung--merupakan pengaruh yang dominan atas kebudayaan dan masyarakat Amerika. Tradisi itu merupakan standar yang harus diikuti imigran-imigran dari kebangsaan lain, acuan menurut mana mereka diasimilasikan.
Namun sewaktu abad kesembilan belas berjalan terus, imigrasi non-Anglo makin cepat. Petani-petani Eropa yang mungkin tidak pernah berani beranjak lebih jauh dari 30 kilometer dari tempat kelahirannya sekarang melakukan petualangan yang tak terbayangkan dan mengarungi lautan yang berbahaya menuju suatu negeri yang asing guna mencari kehidupan yang baru. Negerinya memang aneh, dan dengan sendirinya mereka merasa kebutuhan untuk diyakinkan kembali dan merasa aman. Jadi mula-mula mereka berpegang erat pada orang-orang sebangsa mereka, dan pada bahasa, sekolah dan gereja yang telah mereka bawa serta dengannya. Kantong-kantong etnis ini menjadi pangkalan-pangkalan untuk menyusun diri kembali dan mendapat pendidikan dasar sebelum memasuki kehidupan Amerika yang lebih luas dan lebih riskan.
Imigran-imigran ini terutama datang dari Eropa Barat dan Utara. Orang-orang Anglo sering tidak suka pendatang-pendatang baru ini, membenci penampilan mereka yang urak-urakan, takut terhadap agama dan adat asing mereka. Orang-orang Jerman dan Skandinavia dianggap sebagai orang-orang yang suka berkelompok mempertahankan bahasa dan kebiasaan negara mereka. Kegemaran orang Jerman akan pesta-pesta minum bir dan hari-hari Minggu yang gembira dikecam para puritan. Orang-orang Irlandia dianggap sebagai tidak menentu hidupnya dan pemabuk, lagipula mereka beragama Roma Katolik, dan kesetiaan mereka kepada Roma--demikian dikatakan--berarti bahwa mereka tidak pernah dapat menjadi orang-orang Amerika yang setia. Mereka menderita diskriminasi yang keras dalam mencari pekerjaan dan dibenci oleh masyarakat menengah. W.E.B. Du Bois, sarjana berkulit hitam, memberi kesaksian bahwa ketika ia bertumbuh menjadi dewasa di Great Barrington, Massachusetts pada tahun 1870-an, "prasangka rasial jelas lebih ditujukan terhadap orang-orang Irlandia dari pada terhadap saya."
Sewaktu arus para imigran meningkat, kebencian terhadap mereka juga meningkat di antara pendatang lama. Pada tahun 1850-an imigran-imigran merupakan setengah penduduk New York, dan di Chicago jumlah mereka lebih besar daripada orang-orang yang lahir di Amerika. Organisasi-organisasi kepribumian muncul, seperti Supreme Order of the Star-Spangled Banner (Orde Tertinggi Bendera Amerika)" dan front politiknya, Partai Amerika. Mereka menyerukan supaya proses naturalisasi diperpanjang, dan supaya dibatasi hak-hak politik pendatang yang lahir di negara asing. Mereka disebut sebagai Orang-orang Yang Tidak Tahu Apa-apa sebab anggota-anggota Supreme Order, kalau ditanyakan tentang sumpah-sumpah dan upacara-upacara rahasia mereka, selalu menjawab, " Saya tidak tahu apa-apa."
Pada tahun 1856 kalangan Orang-orang Yang Tidak Tahu Apa-apa mengemukakan seorang mantan presiden, Millard Fillmore, sebagai calon presiden mereka. "Kemajuan kita dalam kelakuan jelek dalam pandangan saya berjalan cukup cepat, " kata Abraham Lincoln. "Sebagai suatu bangsa, kita mulai dengan menyatakan bahwa 'semua orang diciptakan sama.' Kita sekarang pada kenyataannya membacanya 'semua orang diciptakan sama, kecuali orang-orang Negro.' Kalau kalangan Orang-orang Yang Tidak Tahu Apa-apa memperoleh kekuasaan, kita harus membacanya, 'semua orang diciptakan sama, kecuali orang Negro, dan orang-orang asing, dan orang-orang Katolik.' "
Tetapi partai Orang-orang Yang Tidak Tahu Apa-apa jatuh sama cepatnya seperti waktu timbulnya. Dalam satu setengah abad setelah itu, walaupun terjadi ledakan-ledakan xenofobia (rasa takut dan benci pada orang asing) dari waktu ke waktu, tidak ada partai politik pribumi yang muncul untuk mengambil tempatnya. Betapa berprasangka pun orang-orang Anglo Sakson dalam kehidupan sehari-hari, namun mereka malu mendukung kepribumian secara prinsip. Sama pentingnya, suatu ekonomi yang sedang berkembang di negara yang terlalu kurang penduduknya memerlukan suatu pemasukan tenaga-tenaga baru secara tetap. Imigrasi memperingan kekurangan tenaga kerja, dan kebutuhan ekonomi lebih kuat dari kebencian moral dan estetika.
Para imigran yang datang sebelum Perang Saudara lama kelamaan menjadi orang-orang Amerika. "Perbatasan," demikianlah dikatakan sejarawan besar Frederick Jackson Turner, "memajukan pembentukan suatu kebangsaan yang majemuk... Di perbatasan, yang menjadi tempat peleburan, para imigran dijadikan orang Amerika, dibebaskan, dan dilebur menjadi suatu ras campuran, yang bukan Inggris baik menurut kebangsaannya maupun menurut ciri-cirinya." Juga di kota-kota, sebagai tempat peleburan, pembauran berjalan sama cepatnya. Bahkan "anak dari imigran Irlandia", Bryce katakan pada tahun 1888, "adalah warga Amerika dalam segala hal lainnya, sekalipun ia pertahankan--yang hanya kadang terjadi--perasaan Anglofobia (rasa benci) yang menjadi warisannya."  
» berikutnya

Bagian 1 | Bagian 2 | Bagian 3 | Daftar Isi

Kembali ke Atas

 

 

Home Page Kedutaan AS
Pusat Informasi Kedutaan AS | Informasi Visa | American Citizen Services

Ke atas | Umpan balik

Link ke situs Internet yang bukan milik pemerintah Amerika bukan berarti bahwa pemerintah Amerika menyetujui sudut pandang organisasi tersebut.

Home page ini dibuat dan dipelihara oleh Pusat Informasi Kedutaan Amerika, pusat informasi terlengkap untuk kebijakan luar negeri Amerika, dengan akses ke sumber-sumber informasi cetak dan elektronik yang sangat beraneka ragam.