|
|
 BACA BAB
PERTAMA
GREAT
PLAINS
Dataran Raya
Bagian: 1 | 2 | 3 | 4
Amerika bagaikan suatu gelombang frekuensi
yang semakin lama semakin tinggi menjelang masing-masing
ujungnya, dengan frekuensi terendah di tengah-tengah.
Ketika gemeretak atap mobil yang tersengat sinar mentari
membangunkanku, aku memandang ke luar dan tak melihat
apa-apa. Sebuah kantong sampah Hefty tersandar di pagar
kawat, robek-robek, mungkin karena angin; bangunan
bongkar pasang dari logam tampak di kejauhan; buntalan
rerumputan yang beterbangan; sebuah jalan yang selurus
tali. Aku menghidupkan mesin mobil dan berangkat lagi.
Aku tidak melewati satu tempat pun yang tampak
seolah-olah sedang menungguku: tidak ada pemandangan
pemukiman penduduk, tidak ada toko-toko khusus alat-alat
olah raga, tidak ada restoran yang menjajakan
bermacam-macam bir impor. Yang ada hanya silo-silo
gandum, dan ladang-ladang datar kecoklatan dengan seekor
sapi, dan ladang-ladang gandum, dan tiang-tiang telepon,
dan kota-kota dengan empat atau enambangunan serta tanda
"Dilarang Memutar" pada masing-masing ujungnya.
Di kota Shelby, Montana, yang lebih besar ukurannya, aku
masuk ke kafe bernama Mas, dan orang-orang
menatapku. Aku membeli sebuah koran untuk mencari iklan
rumah-rumah yang disewakan, dan dari foto yang ada di
atas kolom koran itu aku mengenali kolumnisnya, seseorang
yang berkumis lebat, yang duduk berjarak satu meja di
seberangku. Aku melanjutkan perjalanan ke arah barat,
melintasi Blackfeet Indian Reservation (Kawasan Reservasi
Indian Blackfeet), memasuki kawasan pebukitan di kaki
Rocky Mountains, dan kemudian naik melalui ngarai-ngarai
pegunungan itu. Tiba-tiba sebuah sedan Pontiac keluaran
tahun 1967 yang penuh dengan orang-orang Indian berambut
panjang menyalipku, dengan kecepatan kira-kira 90 mil/jam
[145 km/jam, ed.]. Lalu lewat pula sebuah mobil patroli
polisi negara bagian Montana, tanpa bunyi sirene. Lantas
sejumlah mobil lagi yang juga penuh dengan orang Indian,
disusul sebuah mobil patroli lainnya, lalu mobil-mobil
orang Indian Indian lagi. Persis di seberang sungai
Flathead dan di dalam perbatasan Glacier National Park,
aku bertemu lagi dengan beberapa mobil. Mereka
berhamburan keluar jalanan, kesegala penjuru; polisi dan
orang-orang Indian, sama-sama hanya berdiri di sana,
dengan tangan dimasukkan ke dalam kantung celana.
Beberapa di antaranya menatap ke arah semak-semak. Tak
satu mulut pun bersuara.
Di sisi
lain pegunungan itu, di kota Kalispell, Montana, akhirnya
kulihat juga beberapa orang yang tampaknya menyukaiku.
Kuparkir vanku dan kusewa sebuah kamar bertarif 15 dolar
per minggu di Kalispell Hotel. Kamar mandi terletak di
ujung lorong; dindingnya tipis. Kuhabiskan waktu selama
beberapa jam untuk menguping seorang lelaki disebelah
kamar yang sedang berusaha membujuk seorang lelaki lain
supaya ia mau memberinya uang lima dolar sebagai ganti
bahan makanan yang juga senilai lima dolar. Sehari-hari
aku melihat-lihat rumah-rumah yang hendak
disewakan---sebuah pondok berburu di dekat rel langsiran
kereta api, vila kecil untuk bermain ski dengan
pendiangan berbentuk bulat, dan sebuah rumah yang
dibangun di khaki bukit kecil, guna menghemat energi.
Akhirnya kutemukan yang aku sukai, sebuah pondok
berbentuk huruf A dengan kerangka kayu cedar yang
dilengkapi kompor kayu dan sebuah loteng untuk tidur
serta sebuat pot bunga marigold. Rumah itu terletak di
sebuah jalan panjang, yang membujur dari bagian yang
sudah diaspal sampai ke yang belum diaspal dan kembali
lagi ke yang sudah beraspal. Di luar jalanan tersebut
terbentanglah pebukitan dan potongan-potongan kayunya,
mirip kepala yang dicukur gundul untuk dioperasi, dan di
balik pebukitan itu ada pegunungan. Di agen penyewaan
rumah, secara tak sengaja aku mendengar seorang
sekretaris memberi petunjuk kepada seseorang tentang arah
menuju rumah itu. Kusebutkan kepada agen itu bahwa
sebagai jaminan keamanan, aku bisa membayar kontan untuk
dua atau tiga bulan sewa. Keesokan paginya, agen itu
meninggalkan pesan untukku di Kalispell Hotel dan aku
menelepon balik kepadanya, dan dia berkata bahwa aku
dapat menyewa rumah itu.
Aku
tidak kenal siapa-siapa di Montana. Aku duduk-duduk di
dalam rumah dan berusaha menulis sebuah novel tentang
SMA; aku pergi berjalan-jalan, minum beberapa gelas besar
bir Coors, mendengarkan radio. Malam harinya, seekor kuda
milik tetangga memindah-mindahkan berat tubuhnya dari
satu kaki ke kaki lainnya di antara pepohonan, dan
kadangkala merumput begitu dekat sehingga aku dapat
mendengar dia sedang mengunyah rumput. Badai salju yang
pertama bertiup dari arah utara, dan burung-burung gagak
melintas di langit dan kemudian tampak bagaikan kaus kaki
hitam yang dilempar ke atas. Selama bertahun-tahun
tinggal di New York, aku telah memimpikan Montana.
Sesungguhnya, aku pun pernah bermimpi untuk menjadi
tentara, ikut kursus mengemudi truk di New Jersey,
membangun sebuah perahu layar dari kayu, bermain
diberbagai lapangan golf yang hebat di dunia, dan pindah
ke Fiji. Aku telah mengkaji seluruh gagasan itu dan
kemudian menolaknya. Montanalah yang paling punya arti
bagiku. Aku telah nonton film Rancho Deluxe (difilmkan
di Livingston, Montana) sebanyak delapan atau sembilan
kali. Dipesta-pesta, aku dulu biasa berkata kepada
orang-orang,"Ya, aku akan segera pindah ke
Montana." Dan di sinilah aku sekarang. Tiba-tiba aku
tak punya lagi tempat untuk dimimpikan.
Jadi
aku pun mulai bermimpi tentang Great Plains. Untuk
berfantasi, dalam banyak segi Great Plains merupakan
tempat yang sempurna. Wilayah itu sedemikian besar
sehingga kita tidak akan pernah tahu segala sesuatu yang
perlu kita ketahui di sana---fantasi-fantasi kita tak
akan pernah ada habisnya. Kemajemukan nama-namanya justru
menjurus ke arah lamunan romantis yang melantun jauh.
Nama-nama itupun menunjukkan suatu tempat yang besar
kemungkinan tak akan pernah aku tinggali. Ini penting,
karena di mana saja tinggal, aku bangkrut. Lihatlah sisi
utara Chicago. Lihatlah SoHo. Aku pindah ke sana, uang
kontrak naik, warung-warung kopi berubah menjadi restoran
Prancis, toko-toko yang berguna tutup. Jangan tanya
bagaimana aku melakukannya---ini benar-benar hanya
merupakan soal bakat yang kumiliki. Seratus tahun yang
lalu, tak aneh mendengar bahwa para pria dan wanita muda
yang masih lajang maupun pasangan muda beserta
keluarganya pindah untuk memulai usaha pertanian di Great
Plains. Dewasa ini yang lazim terdengar adalah bahwa
orang-orang seusiaku menjadi pionir-pionir perkotaan di
beberapa kawasan pemukiman yang terlantar, atau bergerak
ke kawasan pinggiran kota, atau pindah ke Northern
California atau Washington atau Montana barat laut,
seperti aku. Anda tak akan pemah mendengar kami pindah ke
Great Plains. Kalau uang dan cuaca mengijinkan, aku akan
melintasi pegunungan dan bermobil menjelajahi dataran
itu. Seorang teman perempuan datang berkunjung pada musim
semi, dan hal pertama yang kulakukan ialah membawanya
kesana. Temanku itu dari Hindia Barat; ia belum pemah
melihat Amerika Barat, kecuali California. Kami mengikuti
jalan U.S. Highway 2 menuju Glacier National Park, dan
kemudian kami naik ke jalan raya Going-to-the-Sun
High-way, melewati pepohonan mati yang tetap berdiri
tegak sejak kebakaran akibat petir pada tahun 1967,
melalui terowongan karang, melewati turunan yang terjal
bagian kanannya, melewati jurang cucuran air, melewati
alur salju lama dengan carat-caret di atasnya, melewati
nafas beku kami sendiri yang tertiup ke luar melalui
jendela mobil, melewati pegunungan dengan puncak-puncak
terjal yang memutih, dan kemudian melintasi Logan Pass,
di Continental Divide. Aku terus nyerocos kepada temanku
bahwa aku ingin dia melihat Great Plains. Jalanan mulai
menurun, dan pada setiap kelokan di jalan yang
berliku-liku, satu jajaran pegunungan hilang dari
pandangan, laksana pemandangan yang ditarik masuk ke
dalam sayap, sementara langit yang menggantikannya kian
lama tampak kian luas. Kami meninggalkan taman itu dan
pindah ke jalan raya U.S. High-way 89. Pengemudi yang
menuruni jalanan ini bakal memperoleh kilasan pertama
yang paling dramatis dari Great Plains. Baru kali inilah
aku mengalaminya. Sepanjang ber-mil-mil pohon pinus dan
pebukitan membentang di mana-mana; kemudian, tiba-tiba,
tak ada lagi yang membentang di jalanan kecuali langit,
dan sebuah rambu-rambu bertulis-kan "BUKIT, Truk
Jalan Pelan-pelan," dan kami menanjak sedikit, dan
sekonyong-konyong cakrawala melompat ratusan mil jauhnya.
Rahang temanku---sesungguhnya, seluruhwa
jahnya---menunduk, dan ia berkata, "Aku tidak tahu
harus bilang apa!"
Bagian: 1 | 2 | 3 | 4
| |
Excerpt from
Great Plains by Ian Frazier, copyright © 1989 by
Ian Frazier. Used by arrangement with Farrar,
Straus & Giroux, Inc.
All rights reserved. |
|
| |
|
|
| |
Caution: Users
are warned that this work is protected under
copyright laws and downloading is strictly
prohibited. The right to reproduce or transfer
the work via any medium must be secured with
Farrar, Straus, & Giroux, Inc. |
|
Mendapatkan
terbitan Public Affairs Section
Buku hasil terjemahan Public Affairs Section bekerja sama dengan
penerbit Indonesia dapat dibeli di toko buku terkemuka di kota
anda atau langsung dari penerbit.
Khusus
untuk penerbit:
Informasi lebih lanjut tentang kesempatan ikut serta dalam
program penerjemahan buku Public Affairs Section hubungi Book
Program Officer.
Khusus
untuk institusi/organisasi:
Informasi lebih lanjut tentang buku-buku yang masih tersedia,
hubungi:
Rusmin Darga (rsdjkt@usia.gov)
Telepon: (021) 344-2211, ext. 2559
Fax: (021) 381-0243
|