|
|
 BACA BAB
PERTAMA
GREAT
PLAINS
Dataran Raya
Bagian: 1 | 2 | 3 | 4
Kami tiba melalui pebukitan yang lebih rendah,
dengan tulang-tulang batu karang mencuat dari punggungnya
yang berwama coklat, dan kami pun langsung sampai di
jalanan lurus yang berdebu melalui perladangan gandum
yang tak berpagar. Kami berhenti dan keluar dari dalam
mobil. Gandum itu---dari jenis bertangkai pendek yang
siap petik pada ketinggian yang pas bagi mesin
permanen---membentang berlarik-larik sepanjang setengah
mil di kedua arah jalan. Lewat jutaan paku berbulu itu
angin mendesiskan suara As" yang terasa begitu keras
di telinga. Kami melanjutkan perjalanan, dan
burung-burung dengan paruh panjangdan melengkung (burung
Hudsonian godwit, menurut kata buku) terbang persis di
atas kami, seperti burung-burung camar yang mengikuti
sebuah kapal. Langit penuh awan, dalam paduan indah
berbentuk ekor kuda dari awan kumulus dan awan sirus,
dengan awan badai gelap yang sesekali melintas di atas
lapik hujan berwarna abu-abu keperakan. Kami bisa melihat
bayang-bayang awan itu meluncur di bawahnya dan melayang
ke kejauhan. Sungguh, saat para pengembara terdahulu yang
mendatangi dataran tersebut melewati sekawanan banteng,
mereka terkesan tatkala mengamati bagaimana aroma manusia
yang dibawa hembusan angin menakutkan hewan-hewan itu
sejauh 8 sampai 10 mil. Tiba-tiba kami melintasi salah
satu jalur awan hujan, dan jalanan keras berdebu itu
berubah menjadiliat. Lumpur mulai menggumpal di
lubang-lubang roda, dan mobil tergelincir ke tepi jalan,
keluar dari jalanan, dan terjebak di tanah berlumpur.
Kami keluar di tengah-tengah lumpur keabu-abuan setinggi
mata kaki. Dua buah mesin pemanen tergeletak di ladang di
dekatnya; selain itu, takada tanda-tanda orang di manapun
juga. Aku berusaha menghidupkan mesin sementara temanku
mendorong mobil, kemudian gantian aku yang mendorong,
lalu kubiarkan persneling kosong dan kami berdua
mendorong. Kami habis-habisan mengocok lumpur. Lumpur itu
melekat di roda-roda sehingga menjadi bola-bola lumpur
yang tak berguna sama sekali. Akhirnya aku mengambil
sepotong batukarang pipih dan dengan merangkak kugaruk
lumpur itudari setiap roda. Kemudian dengan hati-hati
temanku mengemudi mundur dengan satu putaran roda sampai
roda-roda itu penuh lumpur lagi. Lalu kugaruk kembali
lumpur itu, dan kami menjalankan suatu revolusi yang
lain. Kami melakukan ha1 ini tanpa henti sampai kami
berhasil kembali ke jalan yang kering. Usaha ini perlu
waktu dua jam. Peristiwa serupa yang dialami para
pengembara zaman dulu yang tercatat dalam buku harian
mereka menyebutkan terjebaknya gerobak-gerobak mereka di
dalam kubangan lumpur Great Plains. Kini aku tahu apa
yang mereka maksudkan .Ketika aku masuk kembali ke dalam
mobil, seluruh tubuhku penuh lumpur dan kuku jariku
patah. Dari dompetnya, temanku mengeluarkan saputangan
katun putih yang berbau segar.
Selama
berjam-jam kami bermobil di jalanan yang menurut Rand
McNally & Company, perusahaan peta jalan, tak perlu
disebut-sebut. Seekor ngengat terpental sekilas di tepi
kaca depan, dan saat mentari terbenam, debu yang menempel
di sayapnya berpendar seperti maskara. Malam itu, temanku
berbicara di telepon sebuah pom bensin, "Aku berada
di Great Plains! Menakjubkan sekali di sini! Langit
seperti mulut yang menguap dan tak pernah terkatup!"
Akhirnya, sepanjang beberapa musim panas, aku bermobil
sekitar 25.000 mil di dataran tersebut-dua kali
perjalanan bolak balik dari Montana ke Texas, serta
banyak perjalanan yang lebih pendek jaraknya. Aku pergi
ke setiap negara bagian di Great Plains, lusinan museum,
sejumlah tempat bersejarah, sejumlah kafe. Pada waktu tak
bisa melancong, aku meminjam buku-buku mengenai dataran
tersebut dari perpustakaan umum Kalispell---Curse Not His
Cuds oleh Robert J. Ege (pertahanan melingkar dari
Jenderal Custer), dan Crow Killer: The Saga of
Liver-Eating Johnson. Aku juga mengamati koran-koran
lokal mengenai hal-ha1 yang menyangkut dataran itu, dan
akhirnya aku tahu mengapa orang-orang Indian dan polisi,
yang ku lihat di sisi jalan pada hari pertama
kedatanganku, berdiri seperti waktu itu. Mereka berada di
tempat ditemukannya mayat dua orang Indian Blackfeet,
yaitu Thomas Running Rabbit dan Harvey Mad Man pada sore
harinya.
Polisi
di Eureka, California, telah menahan dua orang Kanada
yang merampok sebuah toko peralatan, dan mendapati bahwa
mobil orang Kanada itu adalah mobil yang dipakai kedua
pemuda Blackfeet itu ketika mereka hilang. Dipenjara,
salah satu orang Kanada itu, seorang pemuda berusia 19
tahun bernama Andre Fontaine, berkata bahwa mereka berdua
dan seorang pria lain telah menumpang sebuah mobil dari
Red Deer, Alberta, sampai West Glacier, Montana; bahwa di
sana ketiganya bertemu dengan duaorang Indian di sebuah
bar; bahwa mereka berlima melaju ke arah barat dengan
mobil orang Indian itu; bahwa orang-orang Indian itu
menghentikan mobilnya; bahwa kedua temannya membawa
orang-orang Indian itu masuk ke dalam hutan; bahwa ia
mendengar tembakan dua kali; bahwa kedua temannya itu
berlari ke luar dari dalam hutan; bahwa ketiganya
kemudian melanjutkan perjalanan. Berdasarkan informasi
ini, polisi segera menangkap orang ketiga itu, seorang
Kanada bernama Ronald Smith, di Wyoming. Ketiganya
dikembalikan ke Montana dan ditahan di penjara Flathead
County. Semula mereka mungkir, tetapi kemudian Ronald
Smith mengaku menembak kedua pemuda tersebut. Smith
berumur 24, dan ia berkata bahwa ia selalu ingin tahu
bagaimana rasanya membunuh orang. Katanya, ternyata tak
terasa apa-apa. Sambil menunggu persidangan sebagaikaki
tangan penjahat, Andre Fontaine diminta tampil sebagai
tamu dalam tayangan televisi F. Lee Bailey, Lie
Detector. Jaksa Flathead County, seorang detektif
dari kantor sherif daerah itu, seorang detektif polisi
setempat, serta seorang pembela yang ditunjuk pengadilan
menyertai Andre Fontaine kembali ke California untuk
rekaman tersebut. Acara itu mengharuskan mereka menginap
di Hollywood utara dihotel Beverley Garland, kecuali si
tahanan yang ditempatkan di penjara Los Angeles County.
Ketika Ronald Smith mengaku, ia telah meminta hukuman
mati. Katanya, ia rasa tidak dapat diperbaiki kembali,
lagipula orang-orang Indian di penjara Montana mungkin
akan membunuhnya. Sesaat menjelang hari eksekusi,
pikirannya berubah. Para penasihat hukumnya naik banding
ke pengadilan Flathead County dan pengadilan negara
bagian, yang menolaknya, dan ke Mahkamah Agung AS, yang
bahkan menolak mendengarnya. Kemudian mereka naik banding
ke pengadilan (federal yang menentang pemberlakuan
hukuman mati. Tiga tahun setelah terjadinya kejahatan
itu, ketika permohonan banding tersebut masih berada di
tingkat negara bagian, aku pindah dari Montana kembali ke
New York.
(akhir
Bab 1)
Bagian: 1 | 2 | 3 | 4
| |
Excerpt from
Great Plains by Ian Frazier, copyright © 1989 by
Ian Frazier. Used by arrangement with Farrar,
Straus & Giroux, Inc.
All rights reserved. |
|
| |
|
|
| |
Caution: Users
are warned that this work is protected under
copyright laws and downloading is strictly
prohibited. The right to reproduce or transfer
the work via any medium must be secured with
Farrar, Straus, & Giroux, Inc. |
|
Mendapatkan
terbitan Public Affairs Section
Buku hasil terjemahan Public Affairs Section bekerja sama dengan
penerbit Indonesia dapat dibeli di toko buku terkemuka di kota
anda atau langsung dari penerbit.
Khusus
untuk penerbit:
Informasi lebih lanjut tentang kesempatan ikut serta dalam
program penerjemahan buku Public Affairs Section hubungi Book
Program Officer.
Khusus
untuk institusi/organisasi:
Informasi lebih lanjut tentang buku-buku yang masih tersedia,
hubungi:
Rusmin Darga (rsdjkt@usia.gov)
Telepon: (021) 344-2211, ext. 2559
Fax: (021) 381-0243
|
|